Saturday, June 12, 2010

EMPAT IBROH DALAM HAJI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Puji dan syukur bagi Allah semata dan Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga ahlul baitnya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

Para pembaca rahimakumullah,
Topik kita kali ini akan menyajikan
Ibroh (Hikmah) yang terkandung di dalam pelaksanaan ibadah haji yang merupakan salah satu dari 5 Rukun Islam yang dapat kita petik manfaatnya bagi kita yang diberi-Nya rezeki dan kemudahan sehingga mampu melaksanakannya dengan khusu’ dan penuh sukacita. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua pencari kebenaran, penerima kebenaran, dan penyeru kebenaran.
Amiin.


Keutamaan Haji dan ‘Umrah: Dari Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “ Masa dari satu ‘umrah ke ‘umrah berikutnya adalah masa penghapusan dosa. Dan ganjaran haji yang mabrur tiada lain hanya syurga.” (Shahih Muslim No.1287 KBC) Keutamaan Hari ‘Arafah: Dari ummu ‘Aisyah r.a., katanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “ Tidak ada suatu hari dimana Allah Ta’ala paling banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka selain Hari ‘Arafah.” (Shahih Muslim No.1286 KBC)

EMPAT MANFAAT DALAM HAJI

Ibadah Haji merupakan madrasah imaniyyah yang agung. Darinya, setiap kali musim haji datang, kaum Muslimin dari seluruh pelosok belahan bumi yang beruntung menjawab panggilan-Nya, semuanya akan memperoleh ibroh (pelajaran-pelajaran/hikmah) yang agung, faedah-faedah yang sangat berharga serta bermanfaat bagi dirinya, sesuai dengan taufiq & hidayah Allah SWT. Adapun ibroh/pelajaran yang bisa kita petik dalam ritual yang di contohkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sangatlah banyak, Karena keterbatasan halaman, maka kami akan sajikan kepada para pembaca, ibroh atau pelajaran yang berkaitan erat dengan permasalahan aqidah, diantaranya:

I. MEREALISASIKAN TAUHID
Perkara
tauhid merupakan hal yang paling menonjol yang mendapatkan prioritas utama dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mewujudkannya dalam ibadah haji. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam merealisasikan firman Allah SWT:
وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah....” (QS Al-Baqarah [2]:196) Ayat yang mulia ini mengandung perintah agar seseorang menyempurnakan haji dengan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata. Karena pada hakekatnya “Allah SWT tidak akan menerima suatu amal dan tidak akan meridhainya kecuali bila amal itu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam . Oleh karenanya diantara amalan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang menjadi bukti bahwa Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam merealisasikan ayat di atas adalah:

a. Talbiyah
Yang Beliau ucapkan adalah : “Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulka, la syarikalaka.” (“Kupatuhi perintah-Mu, Wahai Allah, kupatuhi panggilan-Mu- kupatuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kupatuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji dan nikmat-hanya milik-Mu saja , begitu pula kekuasaan-tiada sekutu bagimu”. (Shahih Muslim, No.1159-1151, KBC M’sia-2005)

b.
Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam membaca Surat al-Ikhlas [112] dan Surat al-Kafirũn [109] pada sholat sunnah 2 raka’at setelah Thawaf (dibelakang maqom Ibrahim). ”. (Shahih Muslim, No.1188, KBC M’sia-2005) Surat al-Ikhlas mengandung penetapan tauhid Asma’ wa Sifat. Sedangkan surat al-Kafirũn mengandung penetapan tauhid Uluhiyyah, bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kita untuk membacanya sebelum tidur, karena surat tersebut adalah pembebas dari perbuatan syirik. (Shahih Sunan Abu Dawud, No.5055, Pustaka Azzam)

c. Do’a
Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika di Shofa dan Marwah adalah: “Lailaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazamal wahdahu.” (“Tiada sesembahan yang berhak di sembah secara haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya milik-Nya lah seluruh kerajaan dan segala pujian, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak di sembah secara haq kecuali Allah semata, Dia Yang Maha menepati janji-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya dan menghancurkan sendiri kelompok yang memerangi kaum muslimin.” (Shahih Muslim, No.1188, KBC M’sia-2005)

II. MENYELISIHI DAN BERLEPAS DIRI DARI KAUM MUSYRIKIN

Islam dan kemusyrikan adalah dua hal yang bertentangandan tidak akan pernah bisa bertemu. Sebagai seorang muslim, wajib baginya berlepas diri dari syirik. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam ibadah haji menyelisihi orang-orang musyrik dan berjalan di atas sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihi sallam. Dianatara syi’ar dan amalan yang Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lakukan untuk menyelisihi kaum musyrikin adalah:


a)
Melakukan wukuf di Arofah bersama kaum muslimin. Hal ini menyelisihi perbuatan orang-orang kafir Qurays yang tidak mau wukuf di Arofah. Orang-orang kafir Qurays pada waktu itu wukufnya di Muzdalifah dan mereka mengatakan: “Kami tidak akan bertolak kecuali dari tanah Harom”. (Shahih Bukhari, No.1665, Pustaka Amami).

b) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada para Shahabat untuk menyelisihikaum musyrikin. Hal ini dapat di lihat dalam beberapa peristiwa dalam ibadah hahji Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, diantaranya:

· Pada musim haji tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan untuk mengumumkan kepada manusia agar di tahun depan (tahun ke-10 Hijriyah) tidak ada orang yang thowaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Dimana thowaf dengan telanjang berlaku pada masa jahiliyyah. (Shahih Bukhari, No.1622, Pustaka Amami)
· Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada para Shahabat untuk melakukan haji tamattu’ dalam rangka menyelisihi kaum musyrikin yang berpandangan bahwa umroh pada bulan-bulan haji termasuk perbuatan yang sangat jelek.


III. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan dari kejelekan merupakan pusaka agama dan tugas yang agung yang dengannya Allah mengutus para Nabi. Bilamana amar ma’ruf di tinggalkan, maka akan berkibar bendera angkara murka dengan megah, para juru da’wah kebathilan, akan mondar-mandir di medan kemungkaran, yang pada akhirnya akan meratalah kerusakan & kemungkaran di muka bumi. Apabila terjadi hal tersebut diatas, maka bukanlah orang yang zholim semata yang tertimpa adzab/siksaan sebagai akibat perbuatannya, namun orang-orang yang sholih pun akan terkena imbasnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Anfl [8] ayat 25 (yang artinya) :
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari dari pada siksaan yang tidak khusus orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal.506-508) Diantara hal yang paling jelas dari perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika haji, yang menunjukkan sikapnya keperdulian terhadap perkara amar ma’ruf nahi munkar adalah:
  • Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika mendengar seorang laki-laki mengucapkan talbiyyah haji atas nama orang lain, sedangkan ia sendiri {yang bertalbiyyah tersebut), belum melaksanakan haji untuk dirinya, maka Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan agar melakukan haji untuk dirinya terlebih dahulu, baru kemudian untuk orang lain. (Shahihah Sunan Abu Dawud, No.1811)
  • Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika thowaf melewati seseorang yang memakai jimat di tangannya, maka Beliau SAW memutus jimat tersebut. (Shahih Bukhari, No.1620, Pustaka Amami)
IV. MEMPENGARUHI MANUSIA DENGAN AKHLAQUL KARIMAH
Islam mengikat dengan erat dan kuat hubungan antara ‘akhlaqul karimah’ (akhlaq yang mulia) dengan I’tiqod (keimanan). Bahkan akhlaq yang mulia, yang ada pada diri seseorang menunjukkan sempurnanya keimanan orang tersebut. (Shahih Sunan at-Tirmidzi, No.1162, Pustaka Azzam) Dalam riwayat yang lain di katakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa: “Taqwa dan akhlaq yang mulia adalah dua hal yang paling banyak memasukkan ummat ke dalam syurga.” (Adabul Mufrod, No.583) Diantara hal yang paling jelas dari perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika haji, yang mencerminkan terhadap perkara akhlaqul karimah adalah:

Tawadhu Sebagai contoh, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak mau mengkhususkan wadah minum untuk diri sendiri, namun memakai wadah yang di pakai oleh manusia pa umumnya. (Shahih Bukhari, No.1635-1636, Pustaka Amami)

Berlaku Baik Kepada Seluruh Manusia Sebagai contoh, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam membagi seluruh hadya (qurban)yang beliau SAW sembelih kepada orang-orang miskin. (Shahih Muslim, No.1252-12538, KBC M’sia-2005).

Akhirul kata, demikianlah kajian kita tentang “Ibroh Dalam Haji” yang dapat kami sajikan secara singkat pada topik kita kali ini. Semoga dapat meningkatkan amal ibadah kita dan menambah pengetahuan bagi kita semua. Dan, Topik yang sama yaitu “Cara Berhaji Rasulullah” , yang menjadi bahan rujukan topik kita kali ini, akan kami sajikan dalam waktu dekat ini. Insya’ Allah.
Allahul Musta’an.


“Ya Allah, berilah kami rezeki untuk dapat memenuhi panggilan-Mu, dan berjumpa dengan-Mu di Bait-Mu. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan memperoleh nikmat karunia memandang wajah-Mu di akhirat kelak. Ya, Allah Rabbul Idzati, Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً
َ“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)

*Dari Bulletin “An-Naba” Edisi: 12/th ke II Dzulhijjah 1428 (dengan beberapa penambahan seperlunya)

0 komentar:

Post a Comment