Saturday, May 29, 2010

TENTANG HAJI BADAL - II


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

C. Syarat Orang Yang Menghajikan
Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi bagi orang yang menghajikan, baik syarat umum maupun syarat khusus. Adapun syarat umum ialah syarat-syarat yang umum berlaku bagi yang menunaikan ibadah haji, bahkan dalam semua ibadah.

Sedangkan syarat-syarat khusus adalah sebagi berikut:

Pertama: Ketika ihrom dia meniatkan hajinya untuk orang yang akan dihajikannya. Jadi dia tidak berniat untuk dirinya sendiri, tetapi niatnya adalah untuk orang lain yang akan dihajikannya, seperti mengatakan: “Labbaika ‘an fulan atau fulanah.”(Kami penuhi panggilan-Mu untuk si fulan/fulanah - sebutkan namanya). Syarat ini telah disepakati oleh semua ulama, berdasarkan hadits:

“Sesungguhnya semua amalan itu harus dengan niat.” (HR Bukhari:1)

Kedua: Dia sudah pernah melakukan kewajiban haji untuk dirinya sendiri, berdasarkan hadits “Syubrumah” dalam riwayat Ibnu Abba r.a diatas. Jadi seseorang tidak boleh menghajikan orang lain sebelum dia sendiri menunaikan kewajiban hajinya terlebih dahulu.

Ketiga: Ikhlas dan bukan karena mencari dunia. Barangsiapa berangkat haji untuk mengharap dunia dan harta, maka hukumnya haram. Tidak halal baginya melakukan amalan akhirat dengan niat untuk meraih dunia, berdasarkan firman Allah SWT:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada meeka balasan pekerjaan mereka disunia dengan sempurna dan mereka didunia itu tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Hud [11 ]: 15-16)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a. berkata: “Hendaklah dia mengambil uang untuk berangkat haji, bukan berangkat haji untuk mengambil uang. Barangsiapa haji dengan tujuan mengambil uang, maka tiada bagian baginya di akhirat kelak. Adapaun barangsiapa mengambil uang sekedarnya dengan tujuan untuk berangkat menghajikan saudaranya, hukumnya boleh.” (Majmu’ Fatawa 26/14-20)

Keempat: Haruskah anaknya sendiri?
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/90) berkata: “Tidak ragu bahwa hal ini merupakan kejumudan.” Sebab dalam hadits ‘Syubrumah’ misalnya, dia menghajikan ‘saudaranya atau kerabatnya’. Demikian juga, dalam sebagian lafadz hadits Ibnu Abbas r.a. disebutkan ‘saudariku’. Apalagi Nabi Shallahu’Alaihi Wassalam telah menggambarkannya sebagai hutang, yang (hutang) itu bisa di bayar oleh siapapun, baik anak, kerabat, maupun selainnya."

Berkata Majd bin Taimiyyah r.a. “Hadits ini menunjukkan sahnya menghajikan orang yang telah meninggal dunia, baik yang menghajikannya itu ahli warisnya atau pun bukan, sebab Nabi Shallahu’Alaihi Wassalam memperinci dan bertanya kepada si penanya: Apakah engkau termasuk ahli warisnya atau tidak?"

Kelima: Haruskah dari tempat asal orang yang di hajikan?
Gambaran masalahnya sebagai berikut: Kalau orang yang dihajikan itu ada di Indonesia misalnya, sedangkan orang yang mau menghajikan sedang berada di Saudi Arabia, apakah berangkat hajinya dari Indonesia sehingga dia (yang akan mem-Badal haji) tersebut pulang ke Indonesia terlebih dahulu, ataukah cukup dari miqot terdekat di Saudi Arabia?

Adapun para ‘ulama lainnya mengatakan bahwa hal itu tidak perlu, karena hal itu hanya sekedar wasilah (perantara) saja, bukan tujuan utama, karena agama itu adalah untuk kemudahan, bukan mempersulit. Inilah pendapat yang lebih kuat. Wallahu A’lam

Masalah ini sama persis dengan seseorang yang berada di masjid (i’thiqof) menjelang waktu sholat, apakah akan kita katakan: "Pulanglah anda terlebih dahulu kerumahmu, kemudian datanglah lagi ke masjid untuk memenuhi panggilan sholat?! (Lihat Syarh Mumti’ Ibnu Utsaimin 8/34)

D. Wanita Boleh Menghajikan Pria dan Sebaliknya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a. berkata: “Wanita boleh menghajikan wanita lainnya dengan kesepakatan ulama, baik putrinya sendiri atau selainnya. Demikian juga, wanita boleh menghajikan pria menurut Imam Empat dan mayoritas ‘ulama.” (Majmu’ Fatawa 26/13-14)

E. Bila Meninggal Dunia Sebelum Haji
Apabila ada seseorang berkewajiban haji meninggal dunia sebelum berangkat haji, wajibkah dihajikan oleh kerabatnya dengan uang peninggalannya?!
Masalah itu diperselisihkan para ulama. Madzhab Syafi’iyyah dan Hanablah mengatakan wajib dihajikan, baik dia berwasiyat maupun tidak, sebab hal itu adalah hutang yang harus dibayar berdasarkan hadits-hadits pembahasan diatas. Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini.

Adapun apabila dia meninggal dunia ketika melakukan manasik haji, maka menurut pendapat yang kuat tidak perlu diteruskan/disempurnakan manasiknya, berdasarkan hadits tentang seorang muhrim (orang yang berihrom) yang terlempar dari untanya ketika wukuf di Arofah lalu patah lehernya dan meninggal (Bukhari-Muslim) . Dan tidak ada penukilan dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam behwa beliau memerintahkan kepada para shahabat agar menyempurnakan ihromnya.

Hadits selengkapnya adalah sebagai berikut:
Dari Ibnu ‘Abbas r.a., katanya. Seorang laki-laki jatuh dari untanya ketika dia ihram lalu patah leher-nya dan meninggal. Maka bersabda Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam,”Mandikan dia dengan air yang dicampur daun sidir (bidara), kemudian kafani dengan kedua kain ihramnya, dan jangan ditutup kepalanya; karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat dalam keadaan membaca talbiyah (sedang mengerjakan haji). (Shahih Muslim No. 1176 KCB M’sia)

Akhirul kata, demikianlah beberapa pembahasan kita tentang BADAL HAJI yang dapat kami kemukakan pada topik kita kali ini. Bilamana ada pendapat yang lemah maupun kesalahan dalam tulisan ini, maka kami sangat menunggu teguran dan nasihatnya. Semoga bermanfaat.
Wallahu al-Muwaffiq.

“Ya Allah, berilah kami rezeki untuk dapat memenuhi panggilan-Mu, dan berjumpa dengan-Mu di Bait-Mu. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan memperoleh nikmat karunia memandang wajah-Mu di akhirat kelak. Ya, Allah Rabbul Idzati, Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka". Aamiin Ya Rabbul ‘alamiin.

Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:56)

SELESAI


Dari Bulletin “An-Naba’ ” Edisi: 11/th ke II Dzulq. 1428
(dengan beberapa penambahan seperlunya)

0 komentar:

Post a Comment