Thursday, June 24, 2010

IKHLAS DALAM BERAMAL


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita diatas agama yang lurus, agama yang Haq dan yang di ridhoi-Nya. “Inad- diina indal laahil islam”

Segenap puji dan syukur diperuntukkan hanya bagi Allah ‘Azza wa alla, karena dengan taufiq dan ‘inayah-Nya jualah yang telah menggerakkan hati kami untuk selalu berusaha menyampaikan yang haq, meskipun hanya berupa sepenggal ayat maupun hadits shahih.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, utusan Allah yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, yaitu baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga (ahlul bait)nya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

Para pembaca yang mulia,

Topik kita kali ini adalah tentang IKHLAS, yang merupakan salah satu sikap yang selayaknya kita miliki karena tanpa adanya unsur ke-Ikhlasan di dalam seluruh amal ibadah yang kita lakukan, maka amalan itu akan tertolak serta tidak bernilai di sisi Allah SWT.

DEFINISI IKHLAS:
Secara sederhana, arti ikhlas adalah sebagai berikut:
  • Mengkhususkan Hak Allah SWT berkenaan dengan tujuan dan keta’atan
  • Permurniaan perbuatan dari penilaian para makhluk
  • Pemurniaan amal dari setiap noda yang mengotori.
  • Tidak perduli bila tidak diberi penghargaan, karena kejujuran hatinya terhadap Allah SWT dan tidak suka bila amalnya diperhatikan orang lain.
KEDUDUKAN DAN FADHILLAH IKHLAS

1. Ikhlas merupakan syarat di terimanya amal ibadah.


Sesuai firman Allah SWT:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ
حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيل
"Waman ahsanu diinan mimman aslama wajhahu lillaahi wahuwa muhsinun waittaba'a millata ibraahiimahaniifan waittakhadza allaahu ibraahiima khaliilaan..
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya". (QS an-Nisaa’ [4]:125)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
"Qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihi falya'mal 'amalan shaalihan walaa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahadaan.."
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS al-Kahfi [18]:110)

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
"Wahuwa alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha fii sittati ayyaamin wakaana 'arsyuhu 'alaa almaa-i liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”^711 (QS Huud [11]:7)
[^711: Maksudnya: Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah].

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء
"Wamaa umiruu illaa liya'buduu allaaha mukhlishiina lahu alddiina hunafaa-a.."
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus^1596." (QS al-Bayyinah [98];5) ~ [^1596: Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan}

2. Mendapatkan Syafa’at Nabi SAW.

Dari shahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
  • “Orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atku pada Hari Kiamat kelak, adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan benar-benar ikhlas dari hati sanubari dan seluruh jiwanya”. (Shahih Bukhari,no.75, lihat foot notes)

3. Mendapatkan kenikmatan di Jannah

Sesuai dengan (QS. Ash-Shaffat[37]:40-43)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ فَوَاكِهُ وَهُم مُّكْرَمُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ"
"Illaa 'ibaada allaahi almukhlashiina..ulaa-ika lahum rizqun ma'luumun..,
fawaakihu wahum mukramuuna,fii jannaati alnna'iimi
"..tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)". ;Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu", yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh ni'mat".

4. Mendapatkan pertolongan dari Allah SWT;
  • “ Sesungguhnya Allah hanya menolong umat ini karena orang-orang lemah mereka, karena do’a mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka” (Shahih Targib wa Tarhib,no.6)
5. Benteng dari godaan syaitan:

Sesuai dengan (QS. al-Hijr [15]:39-40)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
"Qaala rabbi bimaa aghwaytanii lauzayyinanna lahum fii al-ardhi walaughwiyannahum ajma'iina..,
Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya".

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
illaa 'ibaadaka minhumu almukhlashiina
"Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis^719 di antara mereka”. [^719: Yang dimaksud dengan "mukhlis" ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT}

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang 'alim yang 'amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis berbuat sesuatu demi Allah Ta’ala semata, sedangkan orang riya ' melakukannya demi pujian orang.

6. Selamat dari jurang kemaksiatan kepada Allah SWT

Tercatat dalam sejarah, bagaimana dahsyatnya godaan yang di alami Nabi Yusuf a.s. ketika dirayu oleh seorang istri pejabat negeri waktu itu. Namun Allah SAW menyelamatkannya Nabi-NYA dari perbuatan tersebut. (Sesuai dengan QS Yusuf [12]:24)

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ
عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Walaqad hammat bihi wahamma bihaa lawlaa an raaa burhaana rabbihi kadzaalika linashrifa 'anhu alssuu-a waalfahsyaa-a innahu min 'ibaadinaa almukhlashiina
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya"^750. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih".
[750: Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kema'siatan.]

ANCAMAN AKIBAT TIDAK IKHLAS DALAM BERAMAL
  • Menjadi makhluk Allah SWT pertama yang merasakan api neraka pada hari kiamat nanti.(Shahih Sunan Tirmidzi, No.2382)
  • Di akhirat kelak, tidak akan pernah mendapatkan aroma / bau jannah. (Shahih Sunan Ibnu Majah, No.206-207)
Lihat juga Artikel terkait disini


Dipetik dari pengajian: Ust. Abu Aslam-Surabaya 18 Juni 2009


0 komentar:

Post a Comment