Wednesday, June 9, 2010

KISAH UMAIR BIN SAAD - II

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Setibanya di Hims, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk salat berjamaah. Selesai salat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan selawat untuk Nabi, dan kemudian dia berkata, "Hai manusia, sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan dan pintunya ialah kebenaran (al-haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, pertahanan agama akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang haq!"

Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khitah yang telah digariskan dalam pidatonya yang singkat itu. Umair bin Saad bertugas sebagai gubernur di Hims hanya setahun penuh. Selama itu dia tidak menulis surat sepucuk pun kepada Amirul Mukminin. Tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Mal Muslimin (perbendaharaan negara) di Madinah. Karena itu, timbul kecurigaan di hati Khalifah Umar.

Dia sangat khawatir kalau-kalau pemerintahan yang dipimpin Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara), karena tidak ada orang yang maksum (terpelihara dari dosa) selain Rasululah saw. Lalu, beliau memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair.

Kata kalifah Umar, "Tulislah surat kepada Umair, katakanlah kepadanya, 'Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin'."

Selesai surat tersebut di baca oleh Gubernur Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.

Umair segera masuk menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan Umair, lalu dia bertanya, "Bagaimana keadaan Anda wahai Umair?"
Jawab Umair, "Tidak kurang suatu apa. Saya sehat walafiat, alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya."
Tanya Khalifah Umar, "Dunia manakah yang Anda bawa?" (Khalifah menduga dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Mal).
Jawab Umair, "Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudu, untuk membasahi kepala, dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan."
Tanya khalifah, "Apakah Anda datang berjalan kaki?"
Ia menjawab, "Betul, ya Amirul Mukminin!"
Umar bertanya, "Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?
Jawab Umair, "Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya."
Tanya bertanya, "Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Mal?"
Jawab Umair, "Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal"
Umar, "Mengapa?"
Umair, "Setibanya di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak."

Mendengar itu Khalifah Umar berkata kepada juru tulis, "Perpanjang masa jabatan Umair sebagai gubernur Hims."
Namun Umair menukas, "Maaf khalifah! saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah Anda, wahai Amirul Mukminin."

Kemudian Umair minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Khalifah mengizinkannya.

Belum begitu lama Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu, diperintahkannya Al-Harits, seorang kepercayaan khalifah, "Pergilah engkau menemui Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh nikmat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Jika engkau melihat keadaaannya melarat, berilah uang ini kepadanya." Khalifah Umar memberikan pundi berisi seratus dinar kepada Al-Harits.

Al-Harits pun pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya ke sana-sini di mana rumah Umair. Setelah bertemu, Al-Harits mengucapkan salam, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Jawab Umair, "Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Anda datang dari mana?"
Jawab Harits, "Dari Madinah!"
Tanya Umair, "Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal Anda?"
Jawab Harits, "Baik-baik saja."
Umair, "Bagaimana kabar Amirul Mukminin?"
Harits, "Alhamdulilah baik."
Umair, "Adakah ditegakkannya hukum?"
"Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dari anaknya sendiri sampai mati karena bersalah melakukan perbuatan keji."
Kata Umair, "Wahai Allah, tolonglah Umar! Saya tahu, sungguh dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!"

Al-Harits menjadi tamu Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, "Sesungguhnya Anda telah menyusahkan Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih mementingkan Anda walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknya Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya."

Al-Harits pun mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada Umair.
Tanya Umair, "Apa ini?"
Jawab Harits, "Amirul mukminin mengeluarkannya untuk Anda."
Kata Umair, "Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu."
Istri Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, "Terima saja wahai Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya. Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan."
Mendengar Ucapan istri Umair, Harits meletakan uang itu di hadapan Umair. Kemudian, dia pergi. Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannaya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikannya kepada anak-anak yatim, yang orang tuanya tewas seabgai syuhada di medan perang fi sabilillah.

Al-Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah Khalifah Umar bertanya, "Bagaimana keadaan Umair?"
Jawab Harits, "Sangat menyedihkan ya Amirul Mukminin."
Tanya Khalifah, "Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?"
Harits,"Sudah."
Umar, "Apa yang diperbuatnya dengan uang itu?"
Harits, "Saya tidak tahu. Tetapi, saya kira uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja untuknya."
Khalifah Umar menulis surat kepada Umair, katanya, "Bila surat ini selesai Anda baca, janganlah Anda letakan sebelum menghadap kepada saya."

Umair bin Saad datang ke Madinah memenuhi panggilan Khalifah. Sampai di Madinah dia langsung menghadap Amirul Mukminin. Khalifah Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada Umair, sebagai pengohormatan.
Tanya Khalifah, "Apa yang Anda perbuat dengan uang itu ya Umair?"
Jawab Umair, "Apa maksud Anda menanyakan sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?"
Jawab Khalifah, "Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya."
Jawab Umair, "Uang itu saya simpan untuk saya sendiri dan akan saya manfaatkan nanti pada suatu hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat lagi, yaitu hari kiamat."
Mendengar jawaban Umair, Khalifah Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, "Saya menjadi saksi, sesungguhnya Anda tergolong orang yang mementingkan orang lain sekalipun Anda sendiri melarat."
Kemudian, khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasak pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikannya kepada Umair.
Kata Umair, "Kami tidak membutuhkan makanakan, ya Amirul Mukminin. Saya ada meninggalkan dua sha' gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Taala memberi lagi rezeki untuk kami. Tetapi, pakaian ini saya terima untuk istri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang sehingga hampir telanjang."

Tidak lama sesudah pertemuan Umair dengan khalifah, Allah mengizinkannya untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW. Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung berupa kemewahan dunia. Tetapi, dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya, wara dan taqwa.

Ketika Khalifah Umar mendengar kematian Umair, bukan main sedihnya. Sehingga, dia mengurut dada karena menyesal. Kata Khalifah, "Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Saad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin."

Semoga Allah meridai Umair bin Saad dan semoga dia senang dalam keridaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dia adalah bekas mahasiswa yang menonjol di universitas Muhammad bin Abdullah.
Wallahu a'lam.

SELESAI


Sumber: Shuwarmin Hayatis Shahabah, Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya

0 komentar:

Post a Comment