Saturday, July 10, 2010

ISRA' MIKRAJ MENURUT HADITS


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Subhaana alladzii asraa bi'abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii'u albashiiru.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya *847 agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
(QS al-Isra [17]:1)

Isra Mi’raj merupakan momen pernyataan-Nya. Bahwa bila Anda berjalan di orbit yang digariskan-Nya, maka Anda akan mampu menjadi diri yang sejati.

Dalam memperingati Isra Mi’raj biasanya kita akan mengingat kembali perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidrat al Muntaha. Interpretasi perjalanan ini bisa beragam.

Ada yang menafsirkan ini sebagai perjalanan simbolik ruhani Rasulullah untuk menembus hijab-hijab/tirai-tirai kemanusiaan yang menutup selubung ketuhanan. Ada pula yang menafsirkan sebagaimana perjalanan fisis biasa yang dilakukan manusia dengan cara terbang melebihi kecepatan cahaya hingga menembus arasy langit sap tujuh yang terletak nun jauh di atas sana.

Peristiwa Isra dan Miraj ini terjadi pada 27 Rajab. Isra' Miraj antara lain menghasilkan perintah yang mewajibkan kaum Muslimin untuk mendirikan salat lima waktu sehari semalam, yang kemudian dipertegas oleh Nabi sebagai tiang agama. Hasil kewajiban untuk menjalankan salat inilah yang menjadi esensi dari peristiwa Isra' Miraj ini.

Sesungguhnya, hanya insan yang memang sudah dipersiapkan-Nya sajalah seperti baginda Rasulullah SAW yang dapat menembus tujuh petala langit pulang pergi selama semalam untuk menerima perintah Shalat yang merupakan kewajiban bagi umat Islam yang diterima beliau langsung dari Tuhannya.

Muhammad adalah manusia paripurna yang memiliki kekuatan jiwa yang sangat luar biasa, sehingga Allah, Tuhan yang Maha Besar berkenan untuk menerima-nya secara langsung.

Muhammad Husein Haikal dalam "Sejarah Muhammad" menggambarkan Isra Miraj dengan mengatakan, ''Apabila jiwa telah mencapai kekuatan dan kesempurnaan yang begitu tinggi seperti yang telah dicapai oleh jiwa Rasulullah, sangat pantas Allah memperjalankan Rasulullah pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa guna memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.''

Sungguh, Nabi Muhammad telah dipersiapkan Allah untuk menjadi insan kamil bahkan sejak dari masa kanak-kanak sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Anas bin Malik r.a. katanya.

" Jibril a.s. mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang bermain-main dengan beberapa orang anak (di jaman kanak-kanak).Tiba-tiba Jibril memegang dan membaringkan beliau, lalu membelah dan mengeluarkan jantung beliau, kemudian dibuangnya segumpal darah dari jantung itu seraya berkata: "Ini menguntungkan setan dari dirimu." Kemudian dibersihkannya dalam sebuah bejana emas dengan air zamzam. Sesudah itu diletakkannya ditempatnya dan dijahitkannya kembali. Anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu segera lari kepada ibu susu beliau, mengabarkan bahwa Muhammad dibunuh orang. Mereka segera mencarinya, dan didapatinya Muhammad masih dalam keadaan pucat".
Kata Anas, "Aku melihat bekas jahitan itu di dada Nabi SAW".

Para sahabat rahimakumullah,
Berikut ini marilah kita renungkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik & Abu Dzar r.a.,.. yaitu cerita Rasulullah SAW sendiri tentang perjalanan Isyra' Mi'raj beliau di malam hening yang diberkati Allah SWT. Marilah kita ikuti kisah beliau tersebut.

“Pada suatu ketika, waktu aku masih di Makkah, atap rumahku tiba-tiba terbuka. Lalu Jibril a.s. turun dan membelah dadaku, kemudian dibersihkannya dengan zamzam. Sesudah itu diambilnya sebuah bejana emas penuh beirisi hikmah dan iman, lalu dituangkannya ke dadaku, lalu sesudah itu, dadaku dipertautkannya kembali. “Jibril membawakan kepadaku seekor “Bouraq”, yaitu sejenis hewan berwarna putih, lebih panjang dari keledai dan lebih pendek daripada *baghal. Ia dapat melompat sejauh mata memandang. Hewan itu lalu kutunggangi sampai ke Baitul Makdis. Sesampainya disana, hewan itu kutambatkan di tambatan yang biasa digunakan para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua raka’at.

Setelah aku keluar, Jibril datang membawa dua buah bejana, yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Jibril memintaku untuk memilih salah satu diantaranya, dan Aku memilih susu. Kata Jibril,”Anda memilih yang benar. Bila Anda memilih khamar, maka kelak umat Anda akan tersesat”.

Kemudian Jibril a.s. memegang tanganku, dan ia membawaku naik ke langit. Ketika kami sampai di langit dunia, Jibril berkata kepada penjaga langit, “Buka pintu!” Tanya penjaga, “Siapa itu?” Jawab-nya,”Aku Jibril! Tanya: Adakah orang lain bersama Anda?” Jawab Jibril,”Ya, ada! Bersamaku Muhammad SAW,” Tanya, “Apakah dia sudah di utus menjadi Rasul!?” Jawab,”Ya, dia sudah di utus”. Maka terbukalah pintu untuk kami.

Ketika kami sudah sampai di langit dunia, tiba-tiba kami melihat seorang seorang laki-laki, yang di kanan kirinya tampak menghitam. Apabila dia melihat ke sebelah kanannya dia tertawa, dan apa bila dia melihat ke sebelah kirinya dia menangis. Dia berujar kepada-ku, “Selamat datang, wahai Nabi dan anak yang shaleh, semoga anda memperoleh kebaikan”. Aku bertanya, “Siapa ini, wahai Jibril?”. Jawab Jibril, “Ini Adam ‘alaihissalam”. Ternyata yang kelihatan menghitam di kanan kirinya itu ialah ruh anak-cucunya. Yang sebelah kanan penduduk surga dan yang sebelah kirinya penduduk neraka. Karena itu, apabila dia menengok ke kanan, dia tertawa dan apabila dia menengok ke kiri dia menangis”.

Kata Nabi SAW selanjutnya…. “Kemudian Jibril membawaku naik ke langit kedua.
Kata Jibril kepada penjaga,”Buka pintu!” Penjaga bertanya seperti pertanyaan penjaga langit dunia. Sesudah itu, barulah pintu terbuka. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak dan paman, yaitu ‘Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimas salam. Keduanya mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga.
Jibril minta dibukakan pula pintu. Penjaga bertanya seperti pertanyaan penjaga langit kedua. Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Yusuf a.s.., yang kecantikannya seperdua dari seluruh kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit keempat.
Jibril minta dibukakan pula pintu. Penjaga bertanya seperti pertanyaan penjaga langit ketiga. Lalu pintu dibukakan bagi kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris a.s.., Dia mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Firman Allah:
وَرَفَعْنَاهُ مَكَاناً عَلِيّاً
“Kami naikkan dia (Idris) ke tempat yang tinggi”. (QS Maryam:57)

Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit kelima.
Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya,”Siapa Anda?” Jawab-nya,”Aku Jibril! Tanya: Siapa bersama Anda?” Jawab Jibril,”Muhammad SAW,” Tanya, “Apakah dia sudah di utus menjadi Rasul!?” Jawab,”Ya, dia sudah di utus”. Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Harun a.s. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Kemudian kami naik ke langit ke-enam.
Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya,”Siapa Anda?” Jawab-nya,”Aku Jibril! Tanya: Siapa bersama Anda?” Jawab Jibril,”Muhammad SAW,” Tanya, “Apakah dia sudah di utus menjadi Rasul!?” Jawab,”Ya, dia sudah di utus”. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Musa a.s. Aku memberi salam kepadanya, dan dia menjawab salamku pula. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Ketika aku telah berlalu daripadanya, dia menangis. Lalu ia ditanya oleh suara Yang di dengar, “Kenapa anda menangis?” Jawab Musa a.s.”Ya Allah! Engkau mengutus anak ini menjadi Rasul sesudahku. Tetapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku”.

Kemudian kami naik ke langit ke-tujuh.
Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya,”Siapa Anda?” Jawab-nya,”Aku Jibril! Tanya: Siapa bersama Anda?” Jawab Jibril,”Muhammad SAW,” Tanya, “Apakah dia sudah di utus menjadi Rasul!?” Jawab,”Ya, dia sudah di utus”.
Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Ibrahim a.s.. sedang bersandar ke Baitul Makmur, dimana 70.000 malaikat setiap hari masuk ke dalamnya dan mereka tidak pernah keluar lagi dari tempat itu Aku memberi salam kepadanya, dan dia menjawab salamku pula. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan.

Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, mendapatkan sebatang pohon yang daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia tertutup dengan kehendak Allah, ia berubah sehingga tidak satu pun makhluk Allah yang sanggup mengungkapkan keindahannya.

{Konon, dari tempat ini, Jibril berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, Teruskanlah perjalanan Anda, sedangkan saya akan menunggu anda disini”. Rasulullah saw bertanya,” Mengapa Anda tidak ikut bersamaku lagi?” Jibril menjawab,”Anda telah di beri-Nya ilmu hikmah dan kemampuan untuk sampai ke hadlirat-Nya, sedangkan aku tidak. Dan bila aku memaksakan diri, maka tubuhku pasti akan terbakar habis!”…Wallahu ‘alam}

Kata Nabi SAW selanjutnya,

“Kemudian aku dibawa naik ke Mustawa, dimana aku mendengar bunyi coretan kalam”. Lalu Allah mewajibkan atas umatku shalat 50 kali sehari semalam. Setelah itu aku kembali membawa perintah itu, dan bertemu dengan Musa a.s.

Tanya Musa a.s., “Kewajiban apa yang diperintahkan Tuhanmu atas umatmu?”
Jawabku,”Allah memerintahkan shalat wajib 50 kali”.
Kata Musa,”Kembalilah kepada Tuhanmu! Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukan sebanyak itu”. Aku sendiri telah mencoba terhadap Bani Israil”.

Kata Nabi Saw.,”Aku kembali kepada Tuhanku, lalu aku memohon,”Ya,Tuhan-ku! Berilah umatku keringanan!” Maka Allah SWT menguranginya lima”.
Sesudah itu aku kembali kepada Musa. Kataku,”Allah menguranginya lima”.
Kata Musa,”Umatmu tidak akan sanggup melakukan sebanyak itu”. Karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringan”.
Kata Nabi selanjutnya,”Aku jadi berulang-ulang pulang pergi antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dengan Musa, sehingga akhirnya Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Hanya lima kali sehari semalam, namun nilainya sama dengan lima puluh; dan putusan ini tidak dapat dirubah lagi”.


Sesudah itu aku turun kembali ketempat Musa a.s., lalu kuceritakan kepadanya apa yang difirmankan Tuhanku itu.
Kata Musa,”Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan”.
Jawab Rasulullah Saw.,”Aku telah berulang kali kembali kepada Tuhanku meminta keringanan, sehingga aku malu kepada-Nya".

Keterangan:

*Baghal
(hewan silang antara keledai jantan dengan kuda betina pen.).
*847: Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.

(Dipetik dari: Shahih Muslim No.134-136)

Lihat juga tentang kisah Isra' di sini & disini

0 komentar:

Post a Comment