Friday, August 6, 2010

TANDA-TANDA GOLONGAN YANG SELAMAT - I


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Golongan yang selamat jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya umat manusia.

Tentang keadaan mereka, Rasulullah bersabda, "Keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang menta'atinya." (HR Ahmad, hadits shahih)

Dalam Al-Qur'anul Karim, Allah memuji mereka dengan firman-Nya;
"Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba': 13)
  • Untuk memahami arti sedikit dari keterangan di atas tentunya adalah berpatokan dengan kebenaran yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Tidak bisa kelompok aliran sempalan yang ajarannya menyesatkan dan jumlahnya sedikit menganggap dirinya benar atas dalil tersebut diatas. Begitu juga orang-orang yang memiliki keyakinan dan aqidah yang menyimpang lainnya dengan dalih jumlahnya sedikit, maka mereka merasa yang benar.
  • Jumlah sedikit ini adalah bahwa agama Islam yang bermula datang dalam keadaan asing akan berakhir pula dengan keadaan asing maksudnya pada awal munculnya agama Islam, kebanyakan ummat manusia hidup dalam keadaan jahiliyah, hidup dengan adat, kepercayaan, budaya yang bertentangan dengan Islam.
  • Kemudian akhirnya orang-orang yang benar-benar memegang prinsip-prinsip atau nilai-nilai Islam akan dianggap asing, dianggap kuno dan terbelakang, dianggap aneh dan lain-lain. Orang yang bertujuan menegakkan syareat yang Allah turunkan dianggap teroris, Islam Keras. Dan kebanyakan ummat sekarang ini adalah berkiblat pada budaya Barat. Karena kemajuan teknologi dan kemajuan ekonomi, maka kebanyakan orang tergila-gila dan nge-fans berat kepada budaya Barat.
  • Karena berkiblat pada budaya Barat, maka kebebasan tak terbendung. Liberalisme merajalela, kemaksiatan menjalar kemana-mana, pornografi, pornoaksi, perjudian, narkoba, sex bebas, gaya kehidupan bebas yang tidak terikat dengan hukum syareat dan seterusnya. Begitulah kebanyakan ummat yang sekarang berkiblat pada budaya jahiliyah.
Oleh karenanya orang-orang yang benar-benar memiliki iman, orang-orang yang masih mencintai Allah dan Rasulnya, orang-orang yang masih mencintai syari'at yang Allah turunkan itu benar-benar sangat sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang pro kehidupan ala jahiliyah.
  • Karena jumlahnya sedikit dan kekuatan ekonomi dan persenjataan kalah dengan negar-negara maju yang jahiliyah, maka hidupnya tertindas oleh mereka kaum jahiliyah. Orang yang mendurhakainya lebih banyak dari pada yang mentaatinya. Itulah arti dari golongn ummat yang dianggap asing.
  • Golongan Yang Selamat banyak dimusuhi oleh manusia, difitnah dan dilecehkan dengan gelar dan sebutan yang buruk. Nasib mereka seperti nasib para nabi yang dijelaskan dalam firman Allah,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ
wakadzaalika ja'alnaa likulli nabiyyin 'aduwwan syayaathiina al-insi waaljinni yuuhii ba'dhuhum
ilaa ba'dhin zukhrufa alqawli ghuruuran walaw

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (QS Al-An'am: 112)

Rasulullah misalnya, ketika mengajak kepada tauhid, oleh kaumnya beliau dijuluki sebagai "tukang sihir lagi sombong." Padahal sebelumnya mereka memberi beliau julukan "ash-shadiqul amin", yang jujur dan dapat dipercaya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang Golongan Yang Selamat, beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang salaf dan setiap orang yang mengikuti jalan para salafush shalih (Rasulullah, para sahabat dan setiap orang yang mengikuti jalan petunjuk mereka)."
  • Hal-hal di atas adalah sebagian dari manhaj dan tanda-tanda Golongan Yang Selamat. Semoga kita termasuk mereka yang berakidah Firqah Najiyah (Golongan Yang Selamat) ini. Amin.....

Sumber: Diadaptasi dari Jalan Golongan yang Selamat, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Seri Artikel [1] [2] [3] [4]

0 komentar:

Post a Comment