Tuesday, July 12, 2011

AL-TAJRÎD & AL-TAFRÎD


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sahabatku rahimakumullah,

Dahan pohon ma’rifat yang kedua adalah al-Tajrîd.
  • Dilihat dari asal kata al-tajrîd , ia terdiri dari tiga huruf; ja, ra dan da yang fi’il madhinya berasal dari kata jarrada—yujarridu—tajrîdan yang berarti menyongsong, menurunkan, menelanjangi.
Maksud tajrîd dalam pembahasan ini adalah -pengosongan diri dari selain Allah SWT- yaitu dengan melaksanakan ikhlas. Ikhlas merupakan langkah pertama dari inti menuju al-Tajrîd. Ikhlas berarti suci, murni, tidak ada campuran seperti orang Arab menamakan madu murni dengan ‘asalun khâlishun atau emas murni dengan dzahabun khâlishun. Berikut ini uraian ikhlas secara umum dalam bentuk skema sebagai ringkasan dari sebuah kitab bernama din al-Khalîsh

Skema tersebut menggambarkan sepertiga dari kandungan al-Qur’an ialah Ikhlas dalam Aqidah yang terkenal dengan kata tauhid, lawannya Syrik. Orang yang syirik dinamakan musrik; sedangkan ikhlas dalam niat lawannya Riya’ (unsur mata), ‘Ujub (kebanggaan hati) dan Sum’ah (unsur telinga), sedang Ikhlas dalam amal lawannya Bid’ah. Hal ini akan dibahas dalam kulliah al-Tazkiyah.

Para ulama “irfan (ahli ma’rifat) mengartikan ikhlas dengan menjadikan Allah SWT. sebagai satu-satunya sesembahan atau obyek pengabdian. Sikap ta’at dimaksudkan adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya dengan mengesampingkan makhluk lain, yang biasanya dimaksudkan untuk memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia , atau unsur-unsur lain selain taqarrub kepada Allah semata. Dapat dikatakan, ikhlas dalam amal berarti mensucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk, atau melindungi diri sendiri dari urusan kepentingan individu-individu manusia.
Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
  • “Barangsiapa yang memilah-milah-NYA, maka sesungguhnya dia tidak mengenal-NYA. Barangsiapa yang tidak mengenal-NYA, maka dia akan melakukan penunjukan kepada-Nya. Barangsiapa yang melakukan penunjukan kepada-Nya, maka dia telah membuat batasan tentang-NYA. Dan barangsiapa yang membuat batasan tentang-Nya, sesungguhnya dia telah menganggap-Nya berbilang”.
Dengan ikhlas, baik dalam aqidah, dan niat serta amal aktivitas, maka seseorang itu akan mampu fanâ, tenggelam dalam lautan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya sebagai inti dan hakekat al-tajrîd .

Jika al-tauhid dinamakan qath’u al-andâd (atau ‘adad) berarti memutus keterbilangan Allah SWT., maka al-tauhid dinamakan qath’u al-asbâb yaitu memutuskan segala sebab.

Adapun al-tafrîd karena ia dinamakan qath’u al-jam’i yaitu memutuskan bentuk jama’ (plural/keterbilangan). Seperti halnya istilah fanâ yaitu melepaskan diri dari ruang dan waktu dan tenggelam bersama Allah SWT. Dapat juga diartikan berkhalwat dengan Allah, yaitu ber-dua-duaan dengan-Nya. 3.)

-AL-TAFRÎD-

Kata al-Tafrîd berasal dari kata ; farrada–yufarridu–tafridan–wa furûdan.., yang berarti tunggal, bersendirian, mengerjakan sendirian.

Dari istilah ini lahir kata mufrad (tunggal) lawan dari jama’ (banyak). Kemudian ‘ain fi’il disyaddah, maka bentuknya berubah menjadi farrada – yufarridu – tafrîdan. Maksud kata al-tafrid disini adalah pengosongan diri dalam menempuh perjalanan menju Allah tanpa washilah (perantara).

Unsur-unsur “al-tafrîd minimal ada lima [5] yaitu:
  1. Al-khauf (takut) yaitu hanya takut kepada Allah baik lahir maupun bathin;
  2. Al-thâ’ah (taat) yaitu senantiasa taat dan patuh hanya kepada Allah semata;
  3. Al-wara’ (wara) yaitu menuju Allah SWT., dengan membelakangi segala urusan lain;
  4. Al-ikhlâsh (ikhlas) yaitu khlas kepada Allah baik di dalam niat, ucapan, maupun perbuatan.
  5. Al-murâqabah (kontemplasi) yaitu pengawasan diri dalam segala lintasan batin dan seluruh manifestasi hidupnya, dimana merasakan sepenuhnya kehadiran Allah SWT dan pengawasannya karena Allah SWT melampaui segenap ruang dan waktu.
Semua permasalahan di atas, selanjutnya akan dibahas secara bertahap dan mendalam pada pembahasan berikutnya. Insya Allah.-
  • “Segala puji bagi ALLAH Yang "ADA" sebelum adanya Kursi atau Arsy, langit atau bumi, jin atau manusia. ~ DIA tidak dapat dicapai dgn khayalan, tidak dapat di duga dgn pemahaman, tidak dapat dicapai dengan indera, dan tidak dapat pula dibandingkan dengan manusia. ~ DIA Satu tidak dengan bilangan [AHAD], Kekal tidak dengan masa, dan Berdiri tidak dengan penyangga.~
  • “Wahai Dzat Yang Maha Esa, murnikanlah ketauhidanku untuk-Mu. Selamatkanlah kami dari makhluk. Murnikanlah kami untuk-MU. Benarkanlah pengakuan kami dengan bukti kemurahan-Mu dan rahmat-Mu. Perbaikilah hati kami, mudahkanlah urusan kami, dan jadikanlah kesukaan kami dengan Engkau, kegelisahan kami dengan selain Engkau. Jadikanlah cita-cita kami hanya satu, yaitu Engkau dan berdekatan dengan-Mu di dunia maupun di akhirat. "
  • "Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” “Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika..., Allâhumaghfirlî

Dipetik dari tulisan: al-Ustadz KH. Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said
dalam bukunya: “Ma’rifatullah”

Baca artikel selanjutnya di sini

Artikel sebelumnya silahkan klik disini

0 komentar:

Post a Comment