Tuesday, July 12, 2011

AL-TAUHÎD


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kesempurnaan makrifat tentang-NYA adalah dgn 'tashdiiq' [membenarkan] terhadap-Nya. Kesempurnaan tashdiq terhadap-Nya adalah dengan tauhid kepada-Nya. Dan kesempurnaan tauhid kepada-Nya adalah dgn ikhlas kepada-Nya. Barangsiapa yang melekatkan suatu sifat kepada-Nya, berarti dia telah menyertakan sesuatu kepada-Nya. ~ Dan barangsiapa yang menyertakan sesuatu kepada-Nya, maka dia telah menduakan-Nya. Barangsiapa yang menduakan-Nya, maka dia telah memilah-milahkan (Zat)-Nya."

Saudaraku Rahimakumullah,

Betapa penting ungkapan tauhid ini, sehingga di dalam al-Qur’an ditemukan istilah ini sebanyak 23 nama padanan (sinonim) kata al-Tauhîd yaitu:

  1. kalimah al-ikhlâsh pada surah al-Zumar [39]:2-3.
  2. kalimah al-Ihhsân pada surah al-Rahman [55]:60.
  3. kalimah al-‘Adlu ini dapat dipahami dar surah al-Nahl [16]:90.
  4. kalimah al-Thayyibah, pada surah Ibrâhim [14]:24.
  5. kalimah al-Tsâbitah, pada surah Ibrâhim [14]:27.
  6. kalimah al-Taqwâ pada surah al- al-Fathh [48]:26
  7. kalimah al-Sidq, ini dipahami dari surah al-Zumar [39]:33.
  8. kalimah al-Thayyib min al-Qaul, pada surah al-Haj [22]:24-.
  9. kalimah al-Bâqiyah, pada surah al-Zukhruf [43]:28.
  10. kalimatullâh al-‘Ulyâ, pada surah al-Taubah [9]:40.
  11. kalimah al-Matsalu al-A’lâ pada surah al-Nahl [16]:60.
  12. kalimah al-Sawâi, pada surah Ali Imran [3]:64.
  13. da’wah al-haq, pada surah al-Ra’du [13]:14.
  14. kalimah al-‘Ahdi, pada surah Maryam [19]:87.
  15. kalimah al-istiqâmah, pada surah Fusshilat [41]:30.
  16. maqâlidu al-Samâwâti wa al-Ardh, tercantum pada surah al-Zumar [39]:63.
  17. al-Qaul al-Sadîd, tercantum pada surah al-Nisâ [4]:9; al-Ahzab [33]:70.
  18. kalimah al-Birri, tercantum pada surah al-Baqarah [2]:177.
  19. al-din al-Khâlish, tercantum pada surah al-Zumar [39]:3;
  20. al-Shirât al-Mustaqîm, tercantum pada surah al-An’âm [6]:153; al-Syura [42]:52-53.
  21. kalimah al-Haq, tercantum pada surah al-Zukhruf [43]:86.
  22. al-‘Urwah al-Wutsqâ, tercantum pada surah al-Baqarah [2]:256;
  23. kalimah al-Nazâh, tidak akan selamat dari siksa Allah kecuali bersama Allah, pada surah al-Nisâ [4]:28; surah Luqmân [31]: 13 .

Selain kalimah tauhid di atas, puncak dari tauhid terkandung dalam satu surah yang terkenal yaitu surah al-Ikhlâs. Dikalangan mufassir (ahli tafsir), surah ini juga dinamakan surah al-Tauhid. Adapun terjemahan kata ahad dalam surah al-Ikhlas, penulis terjemahkan sebagai “satu yang tidak ada duanya” sehingga kalau diterjemahkan dengan ‘esa’ ini tidak cocok, karena jika ada esa, akan ada dwi, tri, dan seterusnya; jika diterjemahkan ‘satu’ juga tidak cocok karena satu ada dua, tiga, empat, dan seterusnya. Jika diterjemahkan ‘tunggal’ juga kurang cocok karena ada doble, triple, dan seterusnya. Ini dapat dilihat dan dibaca pada tafsir Mahâsin al-Takwîl oleh Imam al-Qasimi, surah al-Ikhlas.

Dari aspek dasarnya, tauhid terdiri dari:

PERTAMA: Tauhîd al-Ilmi, yaitu meng-esa-kan pemahaman yang bersifat berita yang diyakini. Keyakinan itu mencakup penetapan sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT dan mensucikan-Nya dari penyerupaan dan penyetaraan dengan selain-Nya dan darisifat-sifat kekurangan. · Tauhid ini tergambar dengan jelas dalam al-Qur’an surah al-Tauhid (al-Ikhlas).
Tauhid tingkat ini adalah teoritis.

KEDUA: Tauhîd al-‘Amali, yaitu meng-esa-kan Allah dalam beribadah. Maksudnya hanya menghamba kepada-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun dan dengan sesuatu apapun, meng-esa-kan dalam mencintai-Nya, ikhlas untuk-Nya, takut (khauf) hanya kepada-Nya, berharap (raja’) dan tawakkal hanya kepada-Nya serta rela (ridha) dengan-Nya sebagai Rab (Pencipta, Pengatur, Pemelihara,Pemimpin).
Tauhid semacam ini tersimpul dalam satu surah yang juga terkenal dikalangan mufassir surah al-Tauhid yaitu ‘surah al-Kâfirun’. Tauhid al-‘amali disini ditekankan pada bidang praktis, baik dalam salat, zikir, doa, tawakkal dan sebagainya. Sebelum melangkah lebih jauh pada pohon ma’rifat yang kedua dan ketiga, terlebih dahulu mari kita simak pandangan para ulama ‘irfân/ahli ma’rifatulâh tentang tauhid.

Dzun Nûn al-Mishri misalnya ditanya tentang tauhid, maka beliau berkata:
“Hendaklah engkau ketahui bahwa kekuasaan Allah terhadap makhluk itu tanpa ada campur tangan orang luar, ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, langsung atau tidak langsung segala yang ada, adalah ciptaan-Nya, ciptaan-Nya pun tidak ada yang cacat. Setiap yang terproyeksi dalam gambaran jiwamu tentangAllah, maka Dia berbeda.”
Yusuf ibnu Husain berkata: "Tauhidnya orang khusus yaitu tauhidnya itu total dengan batin, dimanifestasikan dengan hati, seakan-akan ia berdiri di sisi Allâh SWT mengikuti aliran yang berlaku dalam aturan-Nya dan hukum-hukum kudrat-Nya, mengarungi lautan fana dari dirinya, hilangnya rasa karena tegak-Nya al-Haq yang Maha Suci dan Luhur dalam kehendak-Nya”.

Dikatakan bahwa alam semesta ini berada dalam arus ketentuan Allah SWT ”. Demikianlah sebagian kecil pandangan ulama ‘irfan tentang tauhid.

Apakah makhluk itu?, dan apa pula surga atau neraka itu?
Dan siapakah selain Allah itu?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

“Dan mereka tidak diperintah melainkan supaya menyembah Allah, serta mengikhlaskan agama bagi-Nya (beribadat dengan mengharapkan keridhaan-Nya).”
(QS al-Bayyinah :5) .

  • Ya Allah, terimalah taubatku dan taubat mereka. Juhkanlah kami dari nafsu kami, berilah manfaat pada sebagian kami dengan sebagian yang lain.Ya Tuhan kami, masukkanlah kami kedalam rahmat-Mu. Ya Tuhanku, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Amiin.

“Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika..., Allâhumaghfirlî


Baca artikel selanjutnya
di sini

Artikel sebelumnya silahkan klik
disini


Dipetik dari tulisan: ~ al-Ustadz KH.Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said;
dalam bukunya: “Ma’rifatullah”

0 komentar:

Post a Comment