Tuesday, July 12, 2011

MAKNA “MA’RIFATULLÂH” ( BAB-II )


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Sahabatku rahimakumullah,

Dalam khazanah Islam, kata "ma’rifatullâh" tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Tetapi dalam sejarah perkembangannya istilah ini lambat laun menyurut, kurang populer. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena pada kenyataannya dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam baik di TV maupun di majlis-majlis Ta’lim khususnya di Indonesia berpusat pada fikhi, dan pembahasannya pun berputar hanya pada masalah wudhu, shalat, shaum (puasa), zakat, haji. Inipun hanya sekedar lahiriyahnya saja, pembahasannya pun hanya dari satu mahzab, kemudian diklaim bahwa inilah yang dinamakan sunnah Nabi, dan yang tidak sesuai dicap bid’ah dan mengangkat dirinya menjadi Tuhan, dan mencap yang tidak sepaham sebagai ahli neraka. Na’udzu billâh, dari kesempitan dan kebodohan ini.
Metode ini telah melahirkan muslim-muslim, tetapi jiwanya gersang dari daya pancaran spiritual dan akhlaknya jauh dari nilai-nilai Islam, bahwa Islam itu adalah rahmatan lil âlamîn.

Kata ma’rifatullâh berasal dari kata... ‘arafa, ya’rifu, ‘irfatan, wa ‘irfânan, wa ‘itifânan, wa ma’rifatan. Arti menurut istilah antara lain adalah; Pengetahuan yang sangat pasti tentang al-Khâliq (Allah SWT) yang diperoleh dari hati sanubari.

  • Ma’rifat adalah hadirnya al-Haq sementara kalbunya selalu berhubungan erat dengan nur-Nya.
  • DR. Mustafa Zuhri mengungkapkan bahwa ma’rifat adalah; ketetapan kalbu dalam meyakini wujudnya al-Wâjib (Allah Swt) yang menggambarkan segala kesempurnaan;
  • sedangkan Imam al-Qushairî berkata: ” ma’rifat membuat ketenangan dalam kalbu sebagaimana ilmu membuat ketenangan pada akal pikiran."
Semakin meningkat ma’rifat seseorang, semakin meningkat pula ketenangan kalbunya. Ma’rifat seseorang akan membawanya kepada puncak kemerdekaan yang hakiki, bukan kemerdekaan yang semu. Tidak ada yang ditakuti dalam hidupnya hanya yang satu itu Allah Swt sehingga dia benar-benar merdeka dalam hidupnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Ma’rifatullâh adalah awal dari al-dîn (keber-agama-an) seseorang. Meskipun sebagian orang menempatkannya pada tingkat tertinggi sesudah syareat, tarekat, dan hakekat. Mereka tampaknya membagi dan memecahkan Islam pada “kepingan-kepingan” yang berserekan dan hanya tenggelam dalam ruang lingkup stareat atau fikhi dalam istilah yang sempit.
URGENSI MA’RIFATULLÂH

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

= “Awwalu al-dîn ma’rifatullâh” =
Fondasi (azas) dari al-dîn (keberagamaan) adalah ma’rifatullah.
  • Secara sederhana ma’rifatullah berarti mengenal Allah atau merasakan kehadiran-Nya.
Kebeningan hati seseorang tergantung kualitas ma’rifat-nya dan kehancuran diri, keluarga, sampai kepada hancurnya satu bangsa intinya bersumber dari ketidaktahuan-nya tentang ma’rifatullah. Kemampuan dalam merasakan kehadiran Illahi dalam kehidupan ini, bahwa DIA bersama kita, maka secara otomatis dapat mengantarkan seseorang untuk melaksanakan ibadah secara baik seperti shalat, shaum, zakat dan haji, serta ibadah-ibadah social lainnya.

Ma’rifatullâh yang tertancap dalam jiwa akan menjauhkan diri seseorang untuk melakukan suatu maksiat dalam bentuk apapun seperti berbohong, korupsi, mark-up anggaran yang merugikan perusahaan, apalagi yang merugikan bangsa dan negara. Tidak akan ada peluang untuk untuk mengkhianati keluarga, teman, mitra kerja, bangsa dan Negara sekalipun.


Membina keluarga dan mendidik anak-anak sejak dini dengan ma’rifatullah akan melahirkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta melahirkan anak-anak dan generasi yang shaleh dan rumah tangganya, hanya kematian yang memisahkannya, karena nanti akan bertemu lagi di didalam surga.

Dengan penataan diri lewat ma’rifatullah, hidup ini menjadi semakin indah, tenang tenteram tanpa rasa takut, bahkan rezekinya dijamin oleh Allah dan dia akan memperleh rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Disamping itu, kegoncangan jiwa dapat teratasi seperti susah tidur (insomnia), stress dan depresi baik dikala menghadapi masalah di rumah, di kantor atau di tempat kerja termasuk diakhir masa kerja (pensiun). Hati selalu bersama dengan-Nya sekalipun dalam keramaian, dan selalu tuma’ninâh (nikmat) dalam ibadah.
Kebodohan terhadap-Nya merupakan awal dari segala malapetaka yang akan menimpanya dan akan berbuah penyesalan yang tak kunjung berakhir hingga di akhirat kelak.
  • "Wahai Ghulam, jika khalwatmu bersama Allah Swt. telah benar, hatimu tentu akan tercengang dan menjadi bersih. Pandanganmu dapat menarik pelajaran, hatimu bertafakur, ruh dan maknamu sampai pada Al-Haq Azza wa Jalla. Berfikir perihal dunia adalah siksaan dan hijab. Tetapi memikirkan akhirat adalah ilmu dan menghidupkan hati. Orang yang bertafakur diberi ilmu tentang keadaan dunia dan akhirat.” (Syaikh Abd.Qadir al-Jailani)
“ Ya Allah, dekatkanlah kami kepada Engkau, jangan jauhkan kami dari Engkau..Berilah kami kemi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa api neraka...”

“Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika..., Allâhumaghfirlî


Baca artikel selanjutnya
di sini

Artikel sebelumnya silahkan
disini

0 komentar:

Post a Comment