Tuesday, July 12, 2011

MA'RIFATULLAH (BAB - I)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

BAB-I

MA’RIFATULLÂH

Sahabatku rahimakumullah,

Bila diumpamakan Ma’rifatullah itu adalah pohon, maka dahannya ada tiga yaitu:

  1. Al-Tauhîd
  2. Al-Tajrîd; dan...
  3. Al-Tafrîd
Untuk dapat memahami lebih mudah dan mendalam berikut ini uraiannya:

Al-Tauhîd.

Dahan yang pertama ini dapat dipahami berdasarkan firman Allah SWT diantaranya Surah Muhammad [47]:19.
  • “Hendaklah kamu mendasarkan kepada ilmu tentang “lâ ilâha illallaâh” dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa oang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Surah Al-Baqarah [2]:163);
  • “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa” (Surah Al-Ikhlas [114]: 1-4);
  • “Atas nama ALLAH sumber rahmat, pemancar kasih sayang. Katakanlah! ALLAH itu AHAD (satu yang tiada duanya). ALLAH tempat semua makhluk menggantungkan diri. Tidak berputera dan tidak pula diputerakan. Dan tidak ada seorangpun yang dapat menandingi-Nya”
DIA tidak beranak, maka tiadalah DIA dilahirkan; dan tidak pula Dia di peranakkan, maka tiadalah Dia menjadi terbatas. Sungguh Mahaagung Dia untuk mempunyai anak dan Mahasuci bagi-Nya untuk menyentuh wanita. DIA tidak di peranakkan, Mahasuci DIA, maka tiada sekutu bagi-NYA dalam keagungan; tidak pula DIA beranak, maka tiadalah DIA diwarisi.
Istilah TAUHID tidak kita temukan dalam al-Qur’an sehingga sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa istilah ini baru popular sesudah terbitnya buku karangan Muhammad Abduh yang berjudul Risâlah al-Tauhîd . Tetapi jika kita telusuri hadits Nabi Saww istilah ini akan kita temukan dalam riwayat al-Imam Bukhari:
“ Ada seorang dari generasi sebelum zaman kamu sekalian, yang sama sekali tidak pernah beramal baik kecuali bertauhid saja. Orang tersebut berwasiat pada keluarganya: ~ “Bila aku mati, bakarlah aku dan hancurkanlah diriku, kemudian taburkanlah separuh abu jasadku di darat dan separuhnya lagi di laut pada saat angin kencang”.~ Keluarganya pun melaksanakan wasiatnya itu. Kemudian Allah SWT berfirman kepada angin: “Kemarikan apa yang kamu ambil”. Tiba-tiba orang tersebut sudah berada di sisi-Nya. Kemudian Allah bertanya pada orang tersebut: “Apa yang membebanimu, sehingga kamu berbuat begitu?”. Dia menjawab: “Karena malu kepada-Mu”. Kemudian Allah mengampuninya”. (HR Imam Bukhari).
Dilihat dari jiwa ayat-ayat dan hadits Nabi riwayat diatas, menunjukkan betapa pentingnya Tauhid. TAUHID adalah tingkat pertama dari ma’rifatullah karena ia “qath’u al andâd” yaitu memutuskan apa saja yang dianggap sebagai sekutu bagi ALLAH SWT.

Dari segi etimologi, tauhid berasal dari akar kata wahada (fi’il mâdhi) - yuwahhidu (fi’il mudâri)- tauhîdan (mashdar) berubah jadi wâhid atau wahad dan wahîd.

Sama dengan kata farrada (fi’il mâdhi)-- yufarridu (fi’il mudâri) – tafrîd (mashdar) berubah jadi farîd.

Akar kata ahad adalah wahada, kemudan huruf wâu diganti dengan hamzah sebagaimana huruf-huruf yang dikasrah dan didhammah diganti. Orang Arab mengatakan wahhadathu apabila anda menyifati dengan sifat wahdaniyyah (menyifatkan ke-MahaESA-an-Nya).

  • Inti Tauhid adalah kalimat; “lâ ilâha illâ llaâh” (tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkah hanya Allah). Dalam ilmu balâghah susunan kalimat ini dikenal dengan susunan yang sangat balîgh (sangat tinggi sastranya) dibandingkan dengan segala ungkapan yaitu: , menafikan (meniadakan)- ilâh, yang dinafikan (disangkal)- illa, istitsnâ-(pengecualian) = ALLAH, itsbât (penetapan). Jika dalam satu pertemuan seorang membuat pernyataan: “Muhammad Ali adalah seorang mubaligh”, maka pernyataan ini dapat dipahami bahwa “Muhammad Amin” bisa jadi adalah seorang mubaligh pula. Berbeda jika pernyataan itu berbunyi: “Tidak ada mubaligh disini kecuali Muhammad Ali”. Kalimat ini menunjukkan bahwa satu-satunya mubaligh di tempat itu hanyalah Muhammad Ali dan bukan yang lainnya. Disinilah letaknya ketinggian sastranya.
Kata ALLAH terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 2698 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut. Mayoritas ulama lebih cenderung berpendapat bahwa kata itu tidak musytaq-artinya tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi asli merupakan Ismu al-Dzat, yaitu nama Dzat yang tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun juga.

Menurut sebagian ulama, kata ini berakar dari kata “walaha” yang berarti mengherankan atau menakjubkan. Sebab memang semua perbuatan-Nya pastilah menakjubkan bagi yang mentafakkurinya. Segala ciptaan-Nya membuat heran orang yang mengkajinya sampai sedetail mungkin, apalagi sampai pada hakekat-hakekat ciptaan-Nya pasti penelitinya akan semakin takjub, tercengang dan akan Teheran-heran akan Tuhan yang diperkenalkan oleh al-Qur’an dengan nama ALLÂH ( اللّهُ ).

Pendapat lain mengatakan bahwa kata itu terambil dari akar kata aliha, ya’lahu yang artinya menuju atau memohon. Setiap makhluk dipastikan behwa semuanya sedang menuju kepada-Nya rela atau terpaksa, siap atau lalai, sesuai dengan firman-Nya pada surah al-Baqarah [2]:156; “Innâ lillâhi wainnâ ilaihi râji’un” .


Setiap makhluk terutama manusia, untuk memenuhi kebutuhannya, pasti akan bermohon kepada Tuhan yang mereka yakini dapat mengabulkannya yaitu ALLÂH SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa kata itu pada mulanya bermakna mengabdi. Ini dapat dimaklumi karena setiap makhluk ciptaan Tuhan pasti mengabdi kepada-Nya. Diantara sekian banyak makhluk yang mengabdi, manusialah makhluk yang paling banyak membangkang dan durhaka kepada Allah.

Ulama berupaya berupaya membedakan antara kata ALLÂH dan ILÂH dalam kalimat “lâ ilâha illâ llaâh”. Imam al-Marâghi misalnya mengungkapkan bahwa ilâh = Tuhan, yakni segala sesuatu yang disembah. Penyembahan itu baik dibenarkan oleh ajaran Islam atau sebaliknya tidak ditolerir oleh Islam. Penyembahan yang tidak ditolerir oleh ajaran Islam adalah menyembah segala sesuatu selain Allah, seperti misalnya menyembah: ~ matahari, bulan, bintang, api, berhala, makhluk, roh leluhur, anak manusia, berhala atau patung dan hawa nafsu.~

Dari sini dapat dipahami bahwa ilâh mencakup seluruh objek sesembahan atau semua yang dianggap sebagai kekuatan yang menguasai hidup atau matinya sesuatu. Berbeda dengan at yang wajib wujudnya (pantas dan mutlak di ibadahi) yang diperkenalkan al-Qur’an yaitu ~ ALLÂH SWT.

~ DIA-lah yang memiliki nama yang wajib disembah; Al-Khâliq, Zat yang harus ada dan selalu ada berada dengan zat-zat lainnya yang terkenal dengan Asmâ-u al-Husnâ.
Menarik dikemukakan disini apa yang disampaikan oleh seorang ulama kontemporer dan guru besar Universitas al-Azhar Mesir, pakar bahasa Arab yaitu syekh Mutawwali al-Sya’rawi. Ia menulis dalam tafsirnya tentang khawâsh (keindahan dan ke khususan lafadz Allah). Menurutnya, Allah selalu ada dalam diri manuia walaupun ia mengingkari wujud-Nya baik melalui ucapan dan tindakan. Kata ini selalu menunjuk kepada-Nya yang diharapkan pertolongan-Nya. Perhatikan lafadz “Allâh” اللّهُ (Alif;lam;lam;hâ), bila huruf pertamanya (alîf) dihapus, maka ia akan terbaca “lillâh” yang artinya berbentuh sumpah “demi Allâh” atau “milik Allâh”. Bila satu huruf berikutnya atau huruf kedua (lam) dihapus, akan terbaca yang berarti “untuk-Nya” atau “milik-Nya”. Kemudian jika huruf berikutnya yaitu huruf ketiga (lam) dihapus juga, ia akan terbaca dan tertulis ““lahu” hu” yang dapat dibaca “huwa” sebagai dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga) yang berarti DIA yaitu Allah SWT. (lihat dhamir “hu” pada ayat kursi atau al-Ikhlas).
Menarik lagi apa yang dikemukakan oleh ImamAl-Sy’râwi bahwa setiap orang yang mengeluh selalu berkata ah, ih, uh..(tanpa memandang siapa, bangsa, agama, dan keturunan). Kata ini menurut analisanya bahwa di dalamnya tersirat singkatan dari lafadz Allâh. Semua ini menunjukkan bahwa sadar atau tidak, setiap orang mengeluh kepada-Nya dan dapat ditarik satu kesimpulan bahwa keyakinan kepada-Nya atau ma’rifatullah terdapat dalam sanubari setiap insan. Inilah fitrah, sebagaimana sudah diisyaratkan di dalam al-Qur’an.
  • Kesempurnaan makrifat tentang-NYA adalah dgn 'tashdiiq' (membenarkan) terhadap-Nya. Kesempurnaan tashdiq terhadap-Nya adalah dengan tauhid kepada-Nya. Dan kesempurnaan tauhid kepada-Nya adalah dgn ikhlas kepada-Nya.
  • Barangsiapa yang melekatkan suatu sifat kepada-Nya, berarti dia telah menyertakan sesuatu kepada-Nya.
  • Dan barangsiapa yang menyertakan sesuatu kepada-Nya, maka dia telah menduakan-Nya. Barangsiapa yang menduakan-Nya, maka dia telah memilah-milahkan (Zat)-Nya. ...

Baca artikel selanjutnya di sini

Artikel sebelumnya silahkan klik
disini


Dipetik dari tulisan: ~ al-Ustadz KH.Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said;
dalam bukunya: “Ma’rifatullah”

0 komentar:

Post a Comment