Saturday, March 5, 2011

JANGAN BERDEBAT, MESKI BENAR

سْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

(Episode-21)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat memberi dampak yang positip maupun reaksi yang negatip bagi para pendengarnya. Adapun halnya keadilan dalam berucap, Rasulullah saw. telah memberikan amanat baiknya kepada kita sekalian. Beliau memberikan tanggungjawab yang berat pada lidah dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Kesetiaan MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keadilan berbicara (ucapan) ini jelas kelihatan dalam sepatah kata singkat yang diucapkannya:
  • “Orang ISLAM itu adalah orang yang menyelamatkan kaum Muslimin lainnya dari perbuatan lidah dan tangannya”. Itulah ISLAM!
Menahan diri dari tindakan dan ucapan serta dari perilaku kezaliman yang merugikan orang lain. Mencegah tindakan, maksudnya menghentikan perilaku permusuhan yang bersifat fisik terhadap kehidupan orang lain. Terhadap diri mereka,terhadap harta-benda dan kehormatan mereka. “Mencegah lidah”, maksudnya menghentikan lidah dari mengucapkan kata-kata yang sifatnya memusuhi kelestarian dan ketenangan hidup orang lain, mempergunjingkan urusan orang lain (ghibah) dan menyebar-luaskan hal yang tidak benar tentang seseorang (namimah).

Karena mengucapkan kesaksian palsu merupakan kezaliman lidah yang bisa melenyapkan hak seseorang dan menghilangkan rasa keadilan, maka MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk dengan keras perbuatan hina itu.
Simaklah kisah dibawah ini:
  • “Kami berada dalam majelis Rasulullah saw. Kemudian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar? “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan bersaksi palsu.’ Semula beliau bersandar lalu beliau duduk seraya mengulang-ulangi ucapannya;, ‘Dan kesaksian palsu atau ucapan dusta…ya bersaksi palsu, ya, berbicara palsu”, sehingga kami berfikir (berharap) kalau saja beliau berhenti…”.


Kejahatan lidah tidak hanya bersaksi palsu. Bukan hanya basa-basi penghias bibir penutup belang, akan tetapi semua kata-kata yang mengandung benih kejahatan juga dipandang sebagai kejahatan yang besar. Al-Quran yang suci telah menyatakan dengan tegas firman Allah SWT:

“Dan kalau kalian ber-ucap, berucaplah dengan adil!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan “Keadilan berucap” dengan segala bentuknya. Dan, hal itu kiranya terhimpun dalam ucapan (sabda) beliau:
Safin bin Abdullah At-Thagafi mengisahkan:

“Saya berkata: “Ya, Rasulullah, berilah saya bekal nasihat, yang akan saya jadikan penangkal!” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Katakanlah, Tuhanku Allah, dan tetaplah beristiqamah dengan pernyataanmu itu”. Aku berkata lagi; “Ya, Rasulullah, apa yang paling baginda takutkan pada diri saya ini?” Lantas beliau saw menjulurkan lidahnya sendiri seraya berucap, “Ini!”

Ajaran Islam amat sangat serius memperhatikan soal menjaga lisan sehingga Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
  • "Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kemaluannya) maka aku menjamin Surga untuknya." (HR. Al-Bukhari).
MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wa sallam paham benar akan ancaman lidah terhadap keadilan. Ancaman bahaya yang timbul dari untaian kata-kata yang serius maupun ucapan yang main-main dengan maksud bercanda-bersenda gurauan. Dengan penuh pemahaman dan kesungguhan, untuk mencegah korban-korban dari kejahatan lidah itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam member peringatan dini (early warning) sbb:
  • Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya, tetapi ia menjerumuskan diri-nya ke Neraka Jahannam" (HR. Bukhari)
Lihatlah! Ada seseorang yang melontarkan kata-kata tanpa memikirkan isi kata-katanya itu sama sekali yang menyebabkan murka Allah. Ia akan melayang-layang jatuh ke dalam api Neraka selama empat puluh tahun”. Sepatah kata yang terlontar tanpa kendali, bisa menghapuskan hak orang lain dan mengurangi martabatnya. Dan bencana serta dosa akibat kata-katanya itu, akan menimpa si pelakunya untuk waktu yang begitu lama.

Dilarang Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa.

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digandrungi oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah dagelan atau lawakan. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa. Mereka inilah yang mendapat ancaman melalui lisan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan sabda beliau:
  • “Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, dan celakalah dia!" (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).
Jangan Senang Berdebat Meski Benar.

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah bahkan malah digalakkan. Ada debat calon presiden, debat calon gubernur dan seterusnya. Pada kasus-kasus tertentu, menjelaskan argumentasi untuk menerangkan kebenaran yang berdasarkan ilmu dan keyakinan memang diperlukan dan berguna.

Tetapi, berdebat yang didasari ketidak-tahuan, ramalan, masalah ghaib seperti tentang Wujud Allah, tentang letak Singgasana-Nya, tentang Ruh, jumlah Ashhabul Kahfi atau yang sejenisnya maka hal itu hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan. Maka, jangan sampai seorang mukmin hobi berdebat yang melelahkan namun tidak ada manfaatnya. Jujur saja, sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan dilakukan karena sedang mencari kebenaran. Akan tetapi lebih dekat kepada tujuan untuk mencari kemenangan bagi pendapatnya sendiri. Hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang penuh dengan kata-kata saling berbantahan, saling menyalahkan serta saling menyudutkan lawan debatnya masing-masing. Ditambah lagi dengan emosi yang meninggi, kalimat yang saling menyerag dan berbau permusuhan serta kebencian, melecehkan, dan jauh dari kajian ilmiah yang penuh etika. Oleh karena itu, jika sekiranya kita berada dalam situasi yang tidak sehat seperti tadi, sebaiknya kita segera menghindar. Sikap seperti itu bukan berarti kita menghindari kebenaran, melainkan menghindari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan. Berpalinglah, dan carilah topik bahasan lain yang dapat mempersatu-padukan umat dalam satu barisan yang kokoh dan kuat.
Seseorang bertanya kepada seorang arif; “Tuan yang bijaksana, terangkanlah padaku bagaimana caranya agar aku dapat memenangkan perdebatan?”
“Jangan engkau hadiri majelisnya....!” jawab sang arif kalem..

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinanya:
  • "Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya" (QS Al-Isra': 36).
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
  • "Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meski dia benar. Dan di tengah-tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun dia bergurau. Juga di Surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya." (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sesuatu yang baik tentang istri beliau Shafiah radhiallahu ‘anha. Kiranya ucapan itu menimbulkan rasa cemburu dan iri pada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha Lantas ‘Aisyah berkata kesal, "Apa yang membuat baginda kagum padanya? Dia khan orangnya pendek!” Hanya itulah ucapan ‘Aisyah, tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur pedas, sabdanya:
  • “Apa katamu ‘Aisyah? Engkau telah melontarkan kata-kata yang sekiranya dicampur-aduk dengan air laut, niscaya akan merata!”.
Beliau konsekwen dengan prinsip yang telah di ajarkan Tuhannya dalam ayat-Nya: "Dan kalau kalian berucap, berucaplah dengan adil.” Keadilan dalan berucap mengharuskan orang untuk tidak melontarkan kata-kata yang menimbulkan keresahan bagi orang lain, siapapun orangnya dan apapun juga bentuk keresahan itu! Meskipun ucapan itu menyebutkan kekurangan orang lain yang memang benar adanya, namun ucapan itu pada sisi lain telah menyebabkan tersingkirnya rasa keadilan.
Seorang sahabat beliau bertanya: “Bagaimana pendapat baginda, kalau yang saya katakan itu benar ada pada orang itu?” MUHAMMAD saw menjawab: “Kalau yang engkau katakan itu memang benar halnya,maka engkau telah melakukan ghibah. Dan kalau tidak benar, engkau telah mengolah cerita palsu”.

Beliau juga menginginkan setiap orang memupuk “keadilan rasa “ dalam batin masing-masing. Sehingga detak kalbu, hasil pemikiran dan pandangan senantiasa bersih. Kalau anda memusuhi orang dengan tindakan anda,ini merupakan suatu kezaliman. Kalau anda melakukannya dengan lidah anda, itu juga suatu kezaliman. Dan.., MUHAMMAD yang manusiawi itu menemukan pula suatu corak kezaliman lain yang tidak pernah kita amati sebelumnya. Suatu kezaliman yang kelihatan abstrak namun merupakan penyebab langsung dari kezaliman yang nampak terlihat. Kezaliman yang tidak kelihatan itu ialah kezaliman rasa atau perasaan. Anda tergolong orang yang melakukan kezaliman terhadap orang lain, hanya karena anda menyembunyikan dalam hati anda rasa permusuhan tersebut.Rasa permusuhan itu antara lain terasa berupa dengki, buruk sangka, mengecewakan serta menceimohkan orang lain. Semuanya itu meskipun hanya baru berada dalam batin dan hati saja dan belum muncul dalam tindakan praktis, namun MUHAMMAD menganggapnya sebagai suatu tindak kezaliman. Karena itulah beliau saw berusaha memberantas sampai ke-akar-akarnya dan memperingatkan kita semua agar menjauhi sifat tersebut.
Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita MUHAMMAD Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya.., para sahabatnya..para tabi’in..tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman..”..Amiin..

[19]. [20]. [21]. [22]. [23]. [25]. [26]. [27]. [28].

0 komentar:

Post a Comment