Tuesday, July 27, 2010

ALLAH BERSAMA MAKHLUK-NYA


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Keyakinan seorang hamba bahwa ALLAH SWT senantiasa bersama makhluk-Nya akan mendorongnya menjadi orang yang selalu sadar akan posisi dirinya. Ia akan merasa terus terawasi oleh Allah, sehingga gerak-geriknya terkontrol dan takut terjerumus dalam perilaku menyimpang.

Keyakinan inipun mendorongnya untuk berani dan lugas, ketika harus mendakwahkan kebenaran atau mempertahankan nya. Sebab ia merasa Allah senantiasa menyertai, menolong dan membelanya.


Berikut ini adalah ringkasan yang amat ringkas tentang penjelasan bahwa Allah SWT selalu bersama dan menyertai makhluk-Nya. Diringkas oleh ustadz Ahmad Faiz bin Asifuddin dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih a-'Utsaimin di dalam kitab beliau al-Qawa;idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna. Kitab yang ditahqiq dan ditahrij hadits-haditsnya oleh Asyraf bin 'Abdul Maqshud bin Abdur-Rahim. Penerbit Maktabah as-Sunnah.

Tulisan ini dibuat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih a-'Utsaimin dengan maksud untuk menghilangkan kesalahfahaman orang tentang sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya). Berkaitan dengan masalah ma'iyyah, ada beberapa hal yang perlu diketahui:
Perkara tentang ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya). merupakan perkara yang sudah jelas berdasarkan al-Qur'an, Sunnah dan Ijma' para salaf.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS al-Hadiid [57):4)

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS al-Nahl [16): 128)


Allah juga berfirman kepada Nabi Musa AS dan Harun AS, ketika keduanya diutus untuk berdakwah kepada Fir'aun:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS.Thaaha [20]:46)

Demikian pula Allah, Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam:


إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia (Muhammad) berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita....". ( QS. at-Taubah [9]: 40)

Disamping beberapa nash diatas, para salaf pun berijma' untuk menetapkan sifat bersamanya Allah dengan para makhluk-Nya.
Perkara tentang ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) adalah sesuai dengan hakikatnya. Akan tetapi, sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya). adalah menunjukkan sifat atau tanda kebesaran Allah, tidak serupa dengan bersamanya antar sesama makhluk (ciptaan Allah).
Hal ini di dasarkan pada firman Allah SWT tentang diri-Nya:


يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura [42]: 11)

وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
"Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patur disembah)?"(QS.Maryam [19]: 65)
Abu 'Umar Ibnu 'Abdil-Barr mengatakan: "Ahlus-Sunnah telah bersepakata untuk menetapkan seluruh sifat Allah yang ada di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, serta bersepakat untuk mengimaninya dan membawanya pada penertian yang sebenarnya, tidak pada pengertian majaz (kiasan) atau tidak sebenarnya).
Namun Akhlus Sunnah tidak men-takyif (membayang-bayangkan bentuk sesungguhnya dari) sifat-sifat tersebut, dan tidak menetapkan batasan bagi sifat-sifat Allah dengan sifat terbatas."
Perkara tentang sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) memiliki pengertian: Ilmu-Nya, kekuasan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kesultanan-Nya, pengaturan-Nya, dan semua kewenangan lainnya, meliputi segenap makhluk.
Contoh sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) secara umum:

مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى
مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا
"Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada." (QS Al-Mujaadilah [58]: 7)

Contoh sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) ditujukan khusus kepada pribadi tertentu, bermakna untuk memberikan pertolongan, pembelaan, dan taufiq.

Kisah Nabi Musa dan Harun, ketika keduanya diutus untuk berdakwah kepada Fir'aun:

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
"Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan Melihat". (QS.Thaaha [20]: 46)


Demikian pula, kisah Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan Abu Bakkar Abi Quhafah, ketika bersembunyi dari kejaran kafir Quraisy di gua Tsur selama tiga hari:

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia (Muhammad) berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." ( QS. at-Taubah [9]: 40)

Perkara tentang sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) sama sekali tidak berarti bahwa Dzat Allah bersama-sama berbaur dengan makhluk atau berada di tempat-tempat mereka (para makhluk-Nya)
Perkara tentang ifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluq-Nya) sama sekali tidak bertentangan dengan sifat Maha Tingginya Allah di atas makhluk-Nya.
    Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi, baik dari nash al-Qur'an, as-Sunnah, Ijma', akal, maupun fitrah. Yang kesemuanya tidak satupun bertentangan dengan sifat ma'iyyah Allah.

    Karenanya, setiap Muslim wajib mengimani tanpa keraguan sedikitpun bahwa sesungguhnya Allah SWT senantiasa selalu bersama, menyertai, serta mengawasi makhluk-Nya di manapun mereka berada.

    0 komentar:

    Post a Comment