Tuesday, May 25, 2010

MENYEMPURNAKAN SHALAT

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita diatas agama yang lurus, agama yang Haq dan yang di ridhoi-Nya. “Inad-diina indal laahil islam”

Puji dan syukur bagi Allah semata, yang telah menjadikan Sholat’: “seutama-utama peribadatan, kunci ibadah, tiang agama, penggenap dan penentu diterimanya amal-amal shalih, serta menjadi cahaya bagi pelakunya di Hari Kiamat kelak.”

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga ahlul baitnya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

Para pembaca rahimakumullah,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Allah SWT berfirman:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَالَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah kaum Mukmin, yaitu yang khusyuk di dalam sholat mereka.” (QS.al-Mu’minũn [23]: 1-2)

Tentang kekhusyukan ini, diantara para ‘ulama ada yang menjadikannya sebagai bagian dari pekerjaan-pekerjaan hati, seperti rasa takut (Khawf) dan harap (Raja’). Sebagian yang lain menjadikannya sebagai bagian dari pekerjaan-pekerjaan anggota badan, seperti ketenangan, tidak berpaling, dan tidak bersenda gurau (tuma’ninah). Mereka berbeda pendapat ikhwal kekhusyukan, apakah termasuk fardhu sholat atau hanya keutamaan saja. Yang berpegang pada pendapat pertama berargumen dengan hadits, “Sholat bagi hamba hanyalah yang disadari” dan firman Allah SWT: “Tegakkanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS.Thā Hā [201]: 14). Kelalaian berlainan dengan dzikir!

Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS.al-A’rāf [7]: 205).

Al-Bayhaqĩ meriwayatkan hadits dari Muhammad Ibn Sĩrĩn, katanya, “Saya diberitahu bahwa jika Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam menunaikan sholat, beliau mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat di atas."

‘Abdurrazzāq menambahkan, “Allah memerintahkannya agar khusyuk dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud.”

Didalam hadits lain yang diriwayatkan al-Hākĩm dan al-Byhaqĩ dari Abu Hurayrah r.a., dinyatakan ”Ketika menunaikan sholat, Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat ini. Kemudian beliau menundukkan kepalanya.”

Al-Hasan meriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda, “Perumpamaan sholat lima waktu adalah seperti sungai yang mengalir di depan pintu rumah seseorang dari kalian. Sungai itu mengalirkan air yang berlimpah. Ia mandi disitu lima kali sehari. Lantas apakah akan tersisa kotoran darinya?”

Artinya, sholat lima waktu itu menyucikan dosa dan tidak menyisakannya sedikitpun melainkan dosa-dosa besar. Hal itu diperoleh apabila sholat tersebut dilakukan dengan kehadiran qalbu. Jika tidak, maka sholat itu tertolak.

Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: ”Difardhukannya sholat; diperintahkannya haji dan thawaf; serta disyiarkannya ibadah hanyalah untuk menegakkan zikir kepada Allah SWT. Jadi, jika hal-hal tersebut tidak terdapat di dalam qalbumu, serta tidak untuk mencari keagungan disertai rasa takut (khawf), berarti zikirmu tidak bernilai.”

Di dalam hadits lain Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda, ”Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegah kekejian dan kemunkaran, tidak bertambah kepadanya selain bertambah menjauh.”

‘Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam berbicara kepada kami dengan asyik dan kami pun berbicara kepadanya. Akan tetapi ketika tiba waktunya sholat, beliau meninggalkan kami seakan-akan beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenalnya karena disibukkan dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla."

Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda, ”Allah SWT tidak memandang sholat orang yang tidak menghadirkan qalbu bersama badannya.”

Apabila Ibrāhĩm al-Khalĩl sedang menegakkan sholat, detak jantungnya terdengar hingga jarak dua mil. Sedangkan Sa’ĩd at-Tanũkhĩ, apabila sedang menegakkan sholat, tidak henti-hentinya air mata menetes dari pipinya hingga membasahi janggutnya.

“Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam pernah melihat seseorang memainkan janggutnya ketika sedang sholat, lalu beliau bersabda, ”Kalaulah qalbu orang ini khusyuk, tentu khusyuk pula anggota-anggota badannya.”

Jika tiba waktu sholat, ‘Alĩ Karamallahu Wajha menggigil dan pucat wajahnya. Lalu seseorang bertanya,”Apa gerangan yang menimpa Anda, ya Amirul Mu’minin?” Beliau menjawab, “Telah datang waktu menunaikan amanat yang pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung. Akan tetapi semua menolak untuk memikulnya, sementara saya memikulnya.”

Diriwayatkan bahwa apabila ‘Ali ibn al-Hasan berwudhu’, kulitnya menjadi pucat dan tubuhnya bergetar. Lalu keluarganya bertanya, ”Apa yang terjadi ketika Anda berwudhu?” Belau menjawab, Tahukah kalian, di hadapan siapa saya akan berdiri?”

Hātim al-‘Asham ditanya tentang sholatnya. Lalu ia menjawab: “Apabila tiba waktu sholat, saya membaguskan wudhu’ dan pergi menuju tempat sholat. Saya duduk disitu sehingga seluruh angota-anggota tubuh saya menyatu. Lalu saya berdiri untuk sholat. Saya menjadikan Ka’bah di antara kedua alis saya, ash-syirath dibawah kaki saya, surga di sebelah kanan saya, neraka di sebelah kiri saya, dan mala’ikat maut ada di hadapan saya (siap untuk mencabut nyawaku). Saya menganggap itu adalah sholat saya yang terakhir. Kemudian saya berdiri diantara harapan (raja’) dan takut (khawf). Saya bertakbir dengan keteguhan; membaca al-Fātihah dan surah dengan tartil; rukuk dengan kerendahan hati; bersujud dengan kekhusukan; duduk di atas kaki sebelah kiri; menumpukkan kaki kanan di atas ibu jari kaki; serta menyertai semua itu dengan keikhlasan. Selanjutnya saya tidak tahu apakah ibadah sholat saya itu di terima atau tertolak.!”
Ibnu Abbas r.a. berkata, “Dua raka’at yang diikuti dengan tafakur adalah lebih baik daripada sholat malam dengan hati yang lalai.”

Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda:

”Pada akhir zaman, orang-orang dari umatku mendatangi masjid. Lalu mereka duduk melingkar di situ, sementara yang mereka ingat adalah keduniawian dan kecintaan kepadanya. Oleh karena itu, janganlah berkumpul bersama mereka, karena Allah SWT tidak membutuhkan mereka!”

Al-Hasan meriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pencuri yang paling jahat?” "Siapakah dia, ya Rasulullah?” tanya para shahabat. “Orang yang mencuri dari sholatnya!” "Bagaimana dia mencuri dari sholatnya?” Tanya para sahabat. “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”

Dalam hadits lain, Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda, “ Hal yang pertama kali di hisab dari hamba pada Hari Kiamat adalah ibadah sholatnya. Jika ia telah menyempurnakannya, maka dimudahkan penghisaban baginya. Akan tetapi, jika sholatnya tidak sempurna, Allah SWT berkata kepada para malaikat, “Apakah hamba-Ku ini ada mengerjakan sholat-sholat sunnah?” Oleh karena itu, sempurnakanlah sholat fardhu itu dengan sholat-sholat sunnahnya.”

Dalam kesempatan lain, Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: ”Tidak ada karunia kepada hamba yang lebih baik daripada ia diberitahu tentang sholat dua raka’at, lalu menegakkannya.”

Khalaf ibn Ayyũb sedang menunaikan sholat, tiba-tiba seekor kumbang besar menyengatnya hingga mengeluarkan darah. Akan tetapi, ia tidak merasakannya hingga Ibn Sa’id datang dan memberitahukannya, lalu ia mencucikan pakaiannya. Kemudian dikatakan kepadanya, ”Kumbang besar telah menyengat Anda hingga keluar darah dari tubuh Anda, tetapi Anda tidak merasakannya.” Beliau menjawab, “Apakah hal seperti ini akan dirasakan oleh orang yang sedang berdiri di hadapan Sang Raja Yang Maha Perkasa, serta malaikat maut ada di belakangnya, neraka di samping kirinya, dan ash-syirath di bawah kakinya?”

Alkisah, penyakit borok (abses) telah menggerogoti tangan ‘Amr ibn Dzar yang terkenal sebagai orang zuhud dan ahli ibadat. Para tabib mengatakan, “Tangan Anda harus segera di amputasi!”
Kalau begitu, “Potonglah!” Jawabnya. “Kami tidak dapat memotongnya kecuali setelah mengikat Anda dengan tali.” Namun ‘Amr ibn Dzar berkata, “Tidak perlu, tetapi jika saya telah memulai sholat, potonglah ketika itu.” Maka ketika ia memulai sholat, dipotonglah tangannya, namun ia sama sekali tidak merasakannya!

Akhir kata, Sholat yang sempurna, merupakan inti daripada ibadah sholat setiap hamba Allah yang ingin mendekatkan diri kepada Rabb-nya.

Laksanakanlah perintah-Nya, tinggalkan larangan-Nya, bersabarlah terhadap berbagai ujian, dan lakukanlah ibadah-ibadah sunnah. Maka sungguh engkau disebut sebagai orang yang beramal dan berjaga. Mohonlah kepada-Nya dan merendahlah di hadapan-Nya. Mencari taufiq dari Allah adalah dengan berusaha, tidak hanya berpangku tangan, meski Dia pula yang menggerakkanmu untuk beramal.

“Ya Allah, dekatkanlah kami kepada Engkau, jangan jauhkan kami dari Engkau. Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan shahabatnya.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)

Dari kitab “Mukāsyafah al Qulũb” Tulisan Imam Al Ghazāli (dengan beberapa penambahan)


1 komentar:

Anonymous said...

Al ahzab ayat 56 tuh

Post a Comment