Friday, July 16, 2010

MENGUNGKAP RAHASIA AL-QUR'AN - IV


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

AL-QUR'AN
MEMILIKI ARTI LAHIR DAN BATHIN



Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
"Sembahlah Allah, dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (QS An-Nisaa' [4]:36)

Arti lahir ayat ini menunjukkan bahwa ayat tersebut melarang menyembah berhala, seperti ditunjukkan dalam firman Allah:

مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
"Jauhilah berhala-berhala yang najis itu." (QS Al-Hajj [22]:30)

Tetapi, setelah merenungkan dan menganalisis, maka jelas bahwa alasan pelarangan menyembah berhala itu ialah karena penyembahan semacam itu merupakan bentuk kepatuhan kepada selain Allah. Hal ini tidak hanya berupa penyembahan kepada berhala saja, tetapi juga menaati setan, sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
"Bukankah Kami telah memerintahkanmu, hai Bani Adam, agar kamu tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" (QS Yassin [36]:60)

Analisis lain menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara ketaatan kepada diri dan ketaatan kepada yanglain,karena meng­ikuti hawa nafsu merupakan penyembahan kepada selain Allah, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
"Tidakkah engkau mengetahui orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan-nya." (QS Al-Jaatsiah [45]:23)

Dengan analisis lebih cermat, tahulah kita tentang keharusan untuk tidak berpaling kepada selain Allah, karena berpaling kepada selain-Nya itu berarti mengakui kemandiriannya dan tunduk kepadanya. Inilah yang dinamakan menyembah dan taat itu. Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ
آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (QS Al-A'raaf [7]:179)

Sepintas kilas ayat “janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun" menunjukkan bahwa berhala-berhala tidak boleh disembah. Namun suatu pandangan Iebih mendalam menun­jukkan larangan untuk mengikuti hawa nafsu. Jika pandangan itu diperluas lagi, maka akan tampak larangan melupakan Allah dan berpaling kepada selain-Nya.

Penahapan ini, pertama tampak makna awal dari suatu ayat, kemudian tampak makna yang lebih luas daripada yang pertama dan begitu seterusnya, berlaku pada semua ayat Al-Quran.
Dengan merenungkan masalah ini, maka jelaslah makna hadis yang diriwayatkan dalam buku-buku hadis dan tafsir:

"Sesungguhnya Al-Quran mempunyai arti lahir dan batin. Dan batinnya terdiri atas satu sampai tujuh batin. "[1]

Atas dasar inilah Al-Quran mempunyai makna lahir (zhahr) dan batin (bathn), dan kedua makna tersebut sama-sama merupa­kan maksud. Hanya saja keduanya terjadi secara memanjang, tidak melebar, karena maksud makna lahir tidak menafikan maksud makna batin, dan maksud makna batin tidak menafikan maksud makna lahir.

Mengapa Al-Quran Berbicara dengan Gaya Lahir dan Batin

Manusia, dalam kehidupannya yang pertama dan sementara di dunia ini, menyerupai gelembung di samudra materi. Setiap kegiatannya dalam arus keberadaannya bergantung kepada samudra materi yang luas itu, dan ia harus berurusan dengan materi. Indera lahir dan batinnya sibuk dengan materi, dan pikirannya hanya mengikuti pengetahuan inderawinya. Makan dan minum, duduk dan berdiri, berbicara dan mendengarkan, pergi dan datang, bergerak dan diam, dan semua perbuatan serta pekerjaan yang dilakukan manusia, berkenaan dengan materi, dan dia tidak memiliki pikiran lain.

Aktivitas spiritual manusia, seperti cinta, permusuhan, cita­cita, derajat yang tinggi dan lain-lain, sebagian besar digambarkannya dalam bentuk materi, seperti menyamakan manisnya kemenangan dengan manisnya gula, daya tarik persahabatan dengan daya tarik magnit, tingginya cita-cita dengan tingginya tempat atau bintang di langit, besar dan tingginya kedudukan dengan besarnya gunung, dan lain-lain. Di samping itu, kemampuan ma­nusia untuk mengetahui hal-hal spiritual, yang wilayahnya lebih luas daripada wilayah materi, berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Sebagian ada yang sulit mengetahui hal-hal spiritual, dan sebagian lagi ada yang dengan mudah dapat mengetahui hal-hal spiritual yang paling luas. Semakin mampu mengetahui hal-hal spiritual, semakin sedikit keterkaitan manusia kepada materi dan pesonanya. Semakin sedikit keterkaitannya kepada materi, semakin ber­tambah pengetahuannya tentang hal-hal spiritual. Hal ini berarti bahwa setiap manusia, berdasarkan fitrahnya, memiliki kemampu­an untuk mengetahui ini. Dan seandainya manusia tidak meniada­kan kemampuan ini, maka ia dapat dididik dan dikembangkan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang di­ketahui oleh manusia yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, tidak dapat dikemukakan kepada manusia yang masih memiiliki tingkat pemahaman yang rendah. Seandainya kita berusaha mengemukakannya, maka reaksinya akan bertentangan, khususnya dalam hal-hal spiritual yang lebih penting daripada hal­hal materiil yang dapat diindera. Apabila hal-hal spiritual itu dikemukakan secara apa adanya kepada orang-orang awam, maka mereka akan memberikan kesimpulan yang bertentangan dengan kesimpulan yang benar dan diharapkan.

Tidak ada salahnya di sini bila kami memberikan contoh berupa suatu agama dan dualisme. Jika Upanisyad-Upanisyad Weda India, direnungkan secara mendalam dan ditelaah bagian-bagian tertentunya dengan bantuan bagian-bagian lainnya, maka akan diketahui bahwa kitab suci itu menuju kepada tauhid. Akan tetapi sayangnya, tujuan itu dikemukakan secara langsung dan tidak menurut tingkat pemikiran orang-orang awam, sehingga akibatnya orang-orang Hindu yang lemah akalnya berkecenderungan untuk menyembah bermacam-macam berhala. Karena itu, rahasia-rahasia metafisikal harus dikemukakan secara tertutup atau terselubung kepada orang-orang yang bersikap materialistik.

Dalam agama-agama lain, sebagian orang terhalang dari banyak hak keagamaan, seperti kaum wanita dalam Hindu Brahma, yahudi dan Kristen, sedangkan dalam agama Islam kasus seperti di atas tidak ada. Hak-hak keagamaan dalam Islam adalah untuk semua, bukan milik suatu kelompok tertentu, sehingga tidak ada perbedaan antara kaum awam dan kaum khusus, pria dan wanita, dan antara yang berkulit hitam dan yang berkulit putih. Semuanya sama dalam pandangan Islam dan tak seorang pun mempunyai kelebihan atas yang lain.

Allah SWT berfirman:


فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم
"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan." (QS Ali Imran [3]:195)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami meneiptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Dan Kami menjadakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling berkenalan. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. " (QS Al-Hujurat [49]:13)

Berdasarkan pemaparan di atas dapat kami katakan bahwa Al-Quran Suci memandang semua manusia bisa diajar, sehingga ia menggelarkan ajaran-ajarannya kepada semua manusia, makhluk yang mampu berjalan menuju kesempurnaan.

Mengingat terdapat perbedaan besar dalam memahami hal-hal spiritual, dan mengingat bahaya yang mungkin terjadi ketika ajaran-ajaran yang tinggi disampaikan, seperti telah kami sebutkan tadi, Al-Quran mengemukakan ajaran-ajarannya dengan penyam­paian sederhana yang sesuai untuk kebanyakan orang, dan ia berbicara dengan menggunakan bahasa yang dapat mereka pahami.

Cara seperti ini menyebabkan pengetahuan-pengetahuan yang tinggi terjelaskan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh orang kebanyakan. Dalam cara ini arti lahir kata-kata berfungsi menyam­paikan hal-hal dalam bentuk yang dapat dimengerti. Dan hal-hal spiritual - yang tetap berada di balik tirai arti-arti lahir - akan menunjukkan diri menurut pemahaman mereka. Setiap orang akan mengetahui arti-arti itu menurut kadar kemampuan akalnya. Allah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَوَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
"Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya. Al-Quran itu ada dalam Ummul Kitab di sisi Kami, benar-benar tinggi nilainya dan amat banyak mengandung hikmah. " (QS Az-Zukhruf [43]:3-4)

'Benar-benar tinggi nilainya' berarti bahwa ia tak terjangkau oleh manusia, dan 'mengandung hikmah' berarti bahwa akal manusia tak dapat menembusnya. Untuk memberikan perumpamaan ten­tang kebenaran, kepalsuan dan kemampuan akal, Allah berfirman:

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ
"Allah telah menurunkan air hujan dari langit, kemudian mengalirkan air di lembah-lembah menurut ukurannya. " (QS Ar-Ra'd [13]: 17)

Dan Rasulullah s.a.w. bersabda dalam sebuah hadis yang terkenal:

"Kami, golongan para Nabi, berbicara kepada manusia menurut kadar kemampuan akal mereka. " [2]

Hasil lain dari cara ini ialah bahwa arti-arti lahir Al-Quran itu adalah seperti lambang dari arti-arti batin. Yakni, dalam hal ajaran­ajaran Allah yang berada di luar pemahaman orang kebanyakan ada bentuk-bentuk perumpaannya, sehingga ajaran-ajaran itu bisa dimengerti oleh orang kebanyakan. Allah berfirman:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً
"Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia mengingkarinya. " (QS Al-Isra [17]:89)

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
"Itulah perumpamaan perumpamaan yang Kami buat bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS Al-Ankabut [29]:43)

Di dalam Al-Quran terdapat banyak perumpamaan, tetapi ayat-ayat di atas dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan masalah ini adalah mutlak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa seluruh ayat ini merupakan perumpamaan-perumpamaan tentang pengetahuan-pengetahuan tinggi yang merupakan maksud sejati Al-Quran.

CATATAN KAKI
[1]. Pendahuluan kedelapan kitab ash-Shaft dan Safinatul Bihar dibawah judul "Bathana”
[2]. Biharul Anwar, I, h. 37.
Baca seri artikel [1] [2] [3] [4]


0 komentar:

Post a Comment