Sunday, March 6, 2011

KELAPANGAN RAHMAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
(8)
KELAPANGAN RAHMAT


Para pembaca yang budiman,
Bagi MUHAMMAD, kepatuhan mempunyai arti luhur yang tak pernah bisa kita bayangkan. Namun kepatuhan bukanlah tujuan semata-mata. Tidak!

Kepatuhan bukan sarana satu-satunya untuk meningkatkan keluhuran jiwa seseorang. Tidak! Namun sebelum dan sesudahnya, ia merupakan sarana yang memberikan kelayakan pada kita untuk mengulurkan kedua tangan kepada Allah dan berjumpa dengan DIA.

Marilah kita ikuti pula hadits yang di sampaikan junjungan kita MUHAMMAD saw, tentang Tuhan-NYA.

Didalam suatu hadits Qudsi, 'Allah Subhana wa Ta’ala berfirman: “Siapa yang datang dengan bekal sebuah kebaikan, maka ia akan dapat sepuluh kelipatannya, atau AKU lebihkan sekehendak-Ku.
  • Barangsiapa yang datang dengan bekal sebuah keburukan, maka ia akan dapat satu keburukan pula, atau AKU ampuni dia;,
  • Barangsiapa mendekatkan dirinya kepadaKU sejengkal, AKU akan mendekatkan diriKU sehasta;
  • Barangsiapa yang datang padaKU dengan berjalan kaki, maka AKU akan mendatanginya dengan berlari-kecil;
  • Barangsiapa yang datang padaKU dengan wadah yang penuh dengan dosa, namun ia tidak menyekutukan AKU dengan siapapun, maka AKU akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.”.
Renungkanlah sejenak, betapa kasih sayang dan kerinduan Allah SWT kepada kita yang dilukiskan oleh MUHAMMAD dalam hadits di atas.

Allah Azza wa Jalla menginginkan kita semua ada di sisi-NYA. Apapun keadaan kita, patuh atau berdosa, kedua tangan-NYA terbentang lebar menyambut hasyrat dan harapan kita dengan penuh kasih sayang.

Coba renungkan kembali kalimat ini:
  • “Barangsiapa datang padaKU dengan berjalan kaki, maka AKU akan datang padanya dengan berlari-kecil!”.“
Alangkah indah dan cerahnya gambaran cerdik MUHAMMAD tentang Pemelihara dan Penciptanya, tentang Pemelihara dan Pencipta kita semua! Menghembuskan suasana segar!
Allah SWT ingin kita patuh pada-Nya, karena kepatuhan itu mengangkat martabat kita serta memberikan kelayakan pada kita untuk menghadap dan menemui-Nya. Kepatuhan itu bagaikan kawat tilpon yang menghubungkan kita dengan telaga wujud kita: "ALLAH" Pemelihara seru sekalian alam. Dan andai kata kita tergelincir dan kemudian berbuat dosa, kita tidak patut putus asa serta menyerah kalah di bawah tekanan dosa itu. Kita harus bangkit kembali melawan dosa itu. Karena kita lebih besar daripada dosa. Dan karena ampunan Allah lebih besar dari kita.., dan dari kita beserta dosa-dosa kita.. betapa pun besarnya!
Demikian yang kami pahami tentang uraian MUHAMMAD ketika beliau berbicara tentang kelapangan rahmat, di waktu beliau ingin membebaskan kita dari tekanan rasa bersalah akibat dosa.

Sabda beliau SAW:

“Demi Dzat yang diriku ada di tanganNya, kalau kalian tidak berdosa, Tuhan akan membawa pergi kalian dan menggantikannya dengan kaum yang berdosa. Kemudian mereka bertaubat, lalu.., DIA mengampuni mereka”.

Apakah dengan isyarat ini berarti MUHAMMAD mendukung penyebaran tindak kesalahan atau menggalakkan perbuatan dosa diantara umat manusia? Samasekali Tidak!. Malahan beliau memberikan kita obat mujarab agar kita dapat mengatasi segala bentuk kelemahan jiwa, dengan menyuguhkan pada kita suatu harapan terhadap rahmat Allah SWT. Kelemahan jiwa itu tidak akan menimbulkan sesuatu yang positip, kalau orang yang menderita kelemahan tersebut dibiarkan terus bergelimang dengan dosa dan hanyut dalam tekanan rasa berdosa.

Dalam upaya membina semua orang mencintai Tuhan mereka, MUHAMMAD menginginkan agar mereka selalu berbaik sangka pada Allah SWT. supaya terjalin suatu hubungan mesra dan kokoh berlandaskan cita-cita, pengharapan dan kerinduan. Karena itulah beliau senantiasa berpesan, sabdanya: “Jangan kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah “Azza wa Jalla”.

Sabdanya lagi: “Allah berfirman:
  • “AKU ini tergantung pada persangkaan hamba-KU, dan AKU bersamanya apabila ia menyeru-KU”.
Beliau bersabda pula:

“Berbaik sangka pada Allah Swt merupakan ‘ibadat yang paling baik”.
Ar-Rasul yang manusiawi ini mati-matian melawan ajaran kaum pemuka agama yang dengan senjata putus asa mematahkan harapan orang terhadap rahmat Tuhan mereka. Beliau dengan keras menyerang mereka, dan memberikan perumpamaan, sabdanya: “Ada dua orang bersaudara. Yang seorang rajin beribadat pada Allah sedangkan yang satunya lagi membangkang-Nya. Suatu ketika, berkatalah yang beribadat pada Allah itu kepada saudaranya. “Belumkah tiba saatnya bagimu untuk bertaubat? Demi Allah engkau akan dimasukkan Allah kedalam api, dan takkan memperoleh ampunan-Nya.” Setelah keduanya meninggal dunia dan dipanggil menghadap kehadlirat-Nya, Allah SWT bertanya pada orang beribadat itu: “Siapa yang memerintahkan engkau menetapkan suatu kepuusan tentang rahmatKU dan bahkan engkau bersumpah atas sesuatu yang bukan wewenangmu? Bawalah dia ke Api!” Dan Dia berfirman tentang orang yang satunya lagi: ”Masukkan ia kedalam Surga dengan rahmatKU!”.
Rahmat yang ditampilkan MUHAMMAD di sini, melampaui batas pujaan. Karena rasa cinta yang meluap-luap pada manusia, beliau berjerih-payah melawan keangkara-murkaan mereka yang hendak menggalakkan rasa keputus asaan. Beliau tahu pasti bahwa rahmat itu soal skunder, bukan kemewahan, akan tetapi merupakan soal primer yang mutlak diperlukan. Adapun orang yang paling patut mendapatkannya adalah orang yang paling membutuhkannya. Dalam upaya menyelamatkan orang yang berada dalam situasi bersalah serta berdosa dan para pembangkang yang sedang sangat membutuhkan rahmat Allah, di tampilkanlah cita-cita kemurahan Allah. Berpangkal dari sanalah beliau menolak sepak terjang orang yang berputus asa terhadap rahmat Tuhan, dan menganggap perbuatan itu sebagai dosa. Lebih besar dari segala dosa lainnya. Beliau SAW menyingkirkan semua kekuatan yang berupaya melumpuhkan hubungan antara manusia dengan Allah Tuhan-nya, dan menampilkan kesejukan serta keindahan gambaran kasih mesra cinta Sang Khalik, kepada semua makhluk-Nya yang berwujud manusia.

Camkanlah hadits QUDSI, berikut ini:
  • “Setiap saat matahari terbit, langit berkata: ”Ya, Allah! Izinkanlah saya menjatuhkan diri pada anak Adam, karena mereka telah menikmati kebaikan-MU akan tetapi mereka tidak mensyukuri-MU.”
  • “Bumi berkata: “Ya, Allah! Izinkanlah saya menelan anak Adam, karena mereka telah memakan kebaikan-MU, akan tetapi mereka enggan berterima kasih pada-MU.”
  • “Lautan berkata pula: “Ya, Allah! Izinkanlah saya menenggelamkan anak Adam. Mereka telah menelan kebajikan-MU, akan tetapi mereka tidak mau mensyukuri-MU.”
  • “Dan gunung-gunung pun berkata pula: “Ya, Allah! Izinkanlah saya melipat anak Adam, karena mereka telah makan semua kebaikan-MU akan tetapi mereka tidak suka mensyukuri-MU.”

Allah SWT berfirman pada mereka semua:
  • “Kalau kalian yang menciptakan mereka, tentulah kalian akan merahmati mereka. Biarkanlah AKU dengan hamba-hamba-Ku”. “Kalau mereka bertaubat pada-Ku, maka AKU kekasih mereka. Kalau mereka tidak bertaubat pada-Ku, maka AKU tabib mereka.”
Gambaran yang diutarakan MUHAMMAD ini sungguh cemerlang dan mempesonakan, tiada tara bandingnya baik dalam corak maupun makna kandungannya. Beliau menampilkan suatu hipotesa adanya bahaya yang mengancam dari segala penjuru terhadap eksistensi manusia di permukaan bumi ini. Ancaman dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri mereka. Tidak ada jalan keselamatan bagi mereka, selain menempuh jalan Allah Yang Maha Rahim, Maha Kasih, Maha Tunggal (AHAD), Dia Pemelihara dan Tuhan mereka sekalian.
Kemudian dengan kata-kata menarik, beliau mengungkapkan tentang watak rahmat ALLAH SWT yang mengayomi hamba-Nya itu. Rahmat Yang Maha Pencipta terhadap ciptaan-nya yang telah diadakan-Nya dengan kebijakan-Nya dan digerakkan sesuai dengan kehendak-Nya. Rahmat seorang bapak pada puteranya.

Camkanlah kalimat syahdu ini:
  • “Kalau kalian yang menciptakan mereka, tentulah kalian akan merahmati mereka.”

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.


**
Dipetik dari buku berjudul NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA (dengan penambahan seperlunya) karya: Khalid Muhammad Khalid.

**
Tulisan ini merupakan Bagian Kedelapan [8] dari 19 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, artikel selanjutnya dapat juga diikuti melalui nomor-nomor urut di bawah ini:

[1] . [2] . [3] . [4] . [5] . [6] . [7] . [8] . [9] . [10] . [11] . [12] . [13] . [14] . [15] . [16] . [17] . [18] . [19]

Baca juga Hakikat Mencintai Rasulullah di sini dan Kisah Penciptaan Muhammad di sini

0 komentar:

Post a Comment