Jika pada masing-masing tulisan tsb kami hanya melampirkan tautan ke tulisan-tulisan lain dari sumber dimaksud berdasarkan nomor urut saja, maka pada halaman ini dapat dilihat judul dari masing-masing nomor urut tsb.
Demikian, semoga berguna.
Salam.
Rasulullah SAW bersabda; "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]
Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. - Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Quran itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya" [HR. Bukhari - Muslim]
Rasulullah SAW bersabda; "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]
Rasulullah SAW bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya." [HR. At-Thabrani - Dari Anas RA]
Rasulullah SAW bersabda; "Mendidik anak lebih baik bagimu daripada setiap hari bersedekah satu sha - Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) akhlak yang baik." [HR. At-Tirmidzi Dari Jabir bin Samurah r.a dan Amr bin Sa’id bin Ash r.a]
Dengan mengungkapkan suri tauladannya yang telah dipraktekkannya dengan agung yakni berupa aspek-aspek kemanusiaan MUHAMMAD yang teramat gemilang itu,-SHALAWAT dan SALAM ALLAH--untuk beliau, telah memantulkan sinar terang sehingga tampaklah keindahan yang terpendam, kandungan hikmah yang selama ini masih rahasia.
Sanubarinya yang peka tidak pernah luput memperhatikan dambaan dan dukacita orang lain. Keluh kesah selalu ditanggapinya, dan orang-orang yang memerlukan bantuan selalu ditolongnya, diberi santunan dan diperhatikan secara pribadi. Kami melihat seorang manusia yang telah menyurati semua kaisar dan raja-raja dunia, meminta agar mereka membuang keangkuhan….! Mendengar dengan seksama dan senang hati kata-kata seorang Badui kelana. Mengindahkan seorang pengembara yang datang dengan kaki telanjang dan berucap: “Berlaku adil-lah hai MUHAMMAD! Harta itu bukan milikmu dan bukan pula milik bapakmu!”
Pada setiap hari di kala fajar menyingsing, lingkaran-lingkaran putih di ufuk sana mulai nampak hendak menghalau kegelapan malam, ketika itu seorang muazzin bangkit, berseru kepada setiap makhluk insani, bahwa bangun untuk Shalat berkhidmat pada Tuhan-nya sungguh lebih baik daripada terus tidur. Ia mengajak mereka bersujud kepada Allah, membaca shalawat serta salam buat Rasulullah.
Di seluruh jagat ini, siapakah yang lebih kuat dari seorang yatim yang sendirian menghadapi tantangan alam, dan sendirian pula bangkit memikul beban tanggungjawabnya? Sementara pengasuhnya, satu demi satu meninggalkannya, untuk memberikannya peluang tampil sebagai “seorang lelaki”, guna mengisi semua kekosongan yang ada agar tumbuh dengan sendirinya seperti pohon yang tinggi, agar beliau ditopang dan didukung oleh kebapakan dari diri pribadinya sendiri?Memang tepat, keyatiman bisa merupakan sumber utama dari keagungan, kalau yang menerima keyatiman itu seorang anak yang berkesiapan besar. Dan hal itu sudah terjadi pada diri MUHAMMAD! Memahami betapa pedihnya hidup sebagai anak yatim, Allah Swt. mencela orang-orang yang tidak perduli dan mengabaikan anak-anak yatim sebagai orang-orang yang termasuk sebagai para “pendusta agama”.
MUHAMMAD Saw. Diutus menjadi rasul, yang salah satu syariatnya mewajibkan kepedulian terhadap anak yatim. Menjalin rumah tangga yang harmonis tidak lepas dari keperdulian terhadap anak yatim dan fakir miskin, dalam arti adanya kemauan untuk mengurus mereka dan berlaku baik terhadap mereka. Karena beliau percaya bahwa dari sikap kepedulian ini akan memunculkan nilai-nilai positip bagi keluarga yang perduli terhadap mereka berupa keharmonisan, ketenangan, dan keberkahan dalam keluarga.Tentang hal ini, beliau bersabda:
Perhatikanlah betapa rahmat kasih sayang begitu memenuhi relung bathinnya yang terdalam terhadap para hamba Allah yang seringkali terabaikan bahkan termarjinalkan di dalam kehidupan sosial umat manusia. Oleh karenanya, maka MUHAMMAD dengan penuh keyakinan terhadap rahmat, MUHAMMAD yang kuat itu menampilkan rahmat. Semerbak wanginya dan kiranya pula beliau diciptakan dengan adonan rahmat yang berlimpah. Dan beliau Saw - untuk beliau shalawat Allah dan salam-Nya - terpekik riang gembira karena rahmat, memperlakukan rahmat itu dengan penuh bijaksana dan secara cerdas.Bila kita meneliti hadits-hadits beliau tentang rahmat, kita dapat menemukan sesuatu yang menyerupai hitungan matematis. Beliau tidak mempraktekkan rahmat itu sebagai sekedar basa-basi yang membangkitkan emosi atau pelepas duka. Beliau bicara tentang rahmat dalam kapasitas seorang ahli yang mengerti nilainya, menyelusuri hajat orang yang haus pada rahmat itu. Seolah-olah beliaulah pemilik rahmat dan beliau pula yang menetapkan tata-cara serta perundang-undangannya.
Dari sinilah pembicaraan tentang rahmat dimulai, dan dari sini pula anjuran membudayakan rahmat digalakkan. Dengan kebijakan seorang jujur yang memancarkan cahaya terang dari diri pribadi, MUHAMMAD telah menata rahmat jiwa dan diri pribadi secara jelas. Beliau telah memilih dan menempatkan rahmat pada sudut-sudut yang tepat. Sebelumnya tak ada yang menduga, beliaulah yang telah menata dan merangkaikan rahmat itu. Sebagai seorang rasul, seorang pengabdi, MUHAMMAD datang menegakkan panji peribadatan dan mengarahkan orang agar melakukan ibadat. Lantas apakah beliau hanya menekankan ibadat semata, dan dengan demikian menimbulkan kesejangan atau mengambil jarak dengan rahmat? Manusia agung itu telah menyadari persoalan ini. Maka, karena itu malah beliau menyatakan bahwa rahmat lebih utama dari pada ibadat yang berlebihan. Bahkan lebih membersihkan.Suatu hari di bulan Ramadhan pada tahun Al-Fatah, Rasulullah pergi menuju kota Mekkah. Sampailah beliau beserta rombongannya di suatu desa Kurra’il Ghamim. Kemudian beliau berpuasa dan berpuasa jugalah semua sahabatnya. Melihat sebagian sahabatnya sangat kepayahan karena berpuasa dalam perjalanan yang melelahkan itu, beliau meminta segelas air. Diangkatnya gelas itu tinggi-tinggi agar kelihatan oleh para sahabatnya. Lantas, beliau pun minumlah. Ketika disampaikan pada beliau, masih ada yang bertahan berpuasa, maka beliau berucap: “Mereka tergolong para pembangkang!”
Rasulullah SAW pernah bercerita tentang dirinya: “Suatu hari ketika saya bershalat, saya bermaksud akan memanjangkan shalat saya itu. Tiba-tiba saya dengar ada suara bayi sedang menangis. Maka saya persingkat shalat saya agar ibu bayi itu tidak gelisah.”Alangkah besarnya nilai rahmat itu menurut pandangan MUHAMMAD SAW. Andaikan rahmat diletakkan pada piring timbangan bersebelahan dengan piring timbangan yang berisi ibadat, ternyata piring timbangan rahmat itu lebih berat. Ya, sungguh berat, seperti yang dipaparkan dalam kisah ini:
Sebuah kisah lagi: Seorang lelaki lain datang menghadap beliau sambil berkata: “Ya, Rasulullah! Saya datang untuk melakukan bai’at kepada Anda, berhijrah, sambil meninggalkan kedua orang tua saya yang menangis sedih.” Rasulullah menjawab: “Kembalilah pada kedua orang-tuamu. Gembirakanlah mereka sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.”Suatu ketika, ada yang bertanya: “Ya, Rasulullah! Saya ingin sekali berjihad, tetapi saya tidak mampu.” Rasulullah menjawab: “Apa masih ada salah seorang dari orangtuamu?” “Ya”, sahut orang itu. Maka bersabdalah Rasulullah: “Jumpailah Allah SWT dengan berbakti pada orangtuamu. Apabila engkau telah melakukannya dengan sebaik-baiknya maka samalah engkau telah berhaji, ber’umrah dan berjihad.”
Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan:Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.”
“Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah.
Baca juga:
Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam Menjelaskan bahwa seseorang yang berjalan mengunjungi orangtuanya, maka Allah akan mencatat baginya setiap langkah 100 kebaikan, menghapus darinya 100 kejelekan, dan mengangkat baginya 100 derajat kemuliaan. Apabila dia duduk di hadapan keduanya serta berbicara dengan kata-kata sopan, maka di hari kiamat kelak Allah memberi kepadanya sinar yang memancar di hadapannya. Apabila ia keluar dari keduanya (pulang), maka ia akan mendapatkan ampunan.Bayangkanlah, baru mengunjungi saja sudah memperoleh 100 kebaikan, terhapus 100 kejelekan, dan di angkat baginya 100 derajat, apalagi jika berbuat lebih dari itu. Subhanallah!
Allah dan Rasul-Nya memberikan perhatian khusus kepada orang yang berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini memberikan ‘mafhuum mukhalafaah (pemahaman sebaliknya) bahwa berbuat baik kepada orangtua, walaupun sedikit akan memberikan ganjaran nilai kebaikan yang banyak. Artinya, ia akan memperoleh nilai berkah yang melimpah. Sebaliknya, jika ia melakukan perbuatan buruk kepada orangtua, walaupun sedikit akan memberikan ganjaran nilai keburukan yang lebih besar. Dan ia akan semakin jauh dari berkah.Tentang hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
Renungkanlah!
Betapa mengharukannya. Di saat engkau masih kecil, ibundamu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anda. Iapun rela menahan rasa letih supaya anda bisa beristirahat dengan cukup. Adapun ayahmu, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan anda beserta saudara-saudaramu. Sehingga sudah sepantasnya bagi kita semua sebagai si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai balasan atas kebaikannya yang tak terhitung dan yang tak mungkin tergantikan, sampai kapan pun!
Dalam satu hadits, Rasulullah SAW. Menjelaskan bahwa seorang hamba Allah yang mengerjakan shalat fardhu dan berdoa untuk kedua orangtuanya dengan memohonkan ampunan, maka Allah akan mengabulkan doanya. Allah SWT juga akan mengampuninya karena berkah doanya kepada orangtuanya, walaupun orangtuanya tersebut fasik. Artinya, orangtua yang tidak saleh bisa terangkat berkat doa anaknya yang saleh di dalam kuburnya. Disini, Beliau mengisyaratkan bahwa mendoakan orangtua akan mendapatkan berkah berupa dikabulkan doa dan mendapat ampunan Allah. Terkabulnya doa dan ampunan merupakan Rahmat kasihsayang Allah, dan adanya kasih sayang Allah karena seorang anak mendoakan orangtuanya. Jika ia tidak mendoakan orangtuanya, doanya tidak akan dikabulkan Allah dan ampunan Allah tidak akan diberikan kepadanya. Orang yang doanya tidak makbul berarti hidupnya akan amburadul (tidak berkah). Inilah makna dari “doa anak yang shaleh” yang selalu diharapkan oleh kedua orang tua di dalam kuburnya.
Anehnya, sekarang ini kita menyaksikan sebagian pemuda yang begitu tunduk kepada isteri mereka, sementara mereka durhaka kepada ibu mereka. Padahal akibat perbuatannya itu menyebabkan Allah murka kepadanya!Alkisah, salah seorang sahabat Nabi bernama Alqamah sedang menghadapi sakaratul maut, tapi bibirnya terkunci untuk mengucapkan dua kalimah syahadat. Ternyata keadaan itu disebabkan ibunda Alqamah merasa tidak ridha atas sikapnya yang lebih mementingkan istrinya ketimbang ibunya sendiri. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk memanggil ibu Alqamah.
“Wahai sahabat Muhajirin dan Anshar! Barang siapa mengutamakan istrinya daripada ibunya, maka ia terkena laknat Allah, Malaikat, dan semua manusia. Bahkan, Allah tidak akan menerima darinya ibadah fardhu dan sunnahnya kecuali jika ia benar-benar bertobat kepada Allah, berbuat baik terhadap ibunya, dan meminta kerelaannya.”Hikayat ini menjelaskan betapa ridha seorang ibu sangat menentukan selamat atau celakanya seorang anak.
Baca juga:
Betapa banyak orang yang tidak menyadari bahwasanya akan datang suatu hari dimana mereka akan membutuhkan bakti anak-anak mereka, sebagaimana orang tua mereka sekarang membutuhkan bakti mereka kepadanya. Dan balasan itu akan didapat seperti apa yang dikerjakan.Mengingat besarnya keutamaan yang akan diperolehi seorang anak dengan rahmat yang dimiliki kedua orangtuanya, maka MUHAMMAD saw telah berwasiat kepada kita dengan sabdanya:
"Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagaikan akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan-akan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.'Selanjutnya Jabir berkata: "Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: "Engkau dan hartamu milik ayahmu!" (HR. At-Thabarani dalam "As-Saghir" dan Al-Ausath).
Baca juga:
Kami bisa membayangkan api Neraka yang bernyala-nyala sebagai puncak siksaan lahir atau bathin yang ditimpakan pada para penjahat. Dan Surga sebagai suatu puncak penilaian kebajikan yang merupakan ganjaran lahir atau batin, ataupun keduanya. Dalam hadits ini kami melihat Rasulullah SAW banyak sekali menampilkan rahmat dan amal kebajikan, dan penilaian pahala tidaklah serta merta mensyaratkan orang harus mengerjakan semuanya. Melakukan satu saja diantara berbagai perbuatan amal itu , sudah cukup baik. Ya, hanya satu saja sudah bisa membawa sipelakunya kepuncak sana (Surga). Itulah makna kata-kata agung yang diucapkan beliau pada penutup haditsnya itu.
Beliau bercerita sebagai berikut:
“Seorang rahib dari Bani Israel telah beribadat pada Allah di dalam sebuah biara selama enam puluh tahun. Pada suatu hari hujan pun turun dengan lebatnya dan pemandangan sekitar menjadi hijau menyegarkan mata. Sang rahib melepaskan pandangannya keluar biara seraya berkata di dalam hatinya: ‘Kalau aku turun ke luar sambil berzikir menyebut-nyebut nama Allah, tentulah akan menambah kebaikanku.’ Lalu, dia pun turun menuruni tangga sambil membawa bekal berupa dua potong roti. Sesampainya di bawah dia disambut seorang wanita. Maka berbincang-bincanglah mereka. Karena terhanyut suasana dan tak kuat melawan bujuk rayu si wanita, akhirnya sang rahib pun timbul birahinya, lupa diri dan akhirnya ia melakukan perbuatan yang sangat tercela (zina). Kemudian sang rahib pergi ke sebuah kolam untuk mandi. Lantas, datanglah seorang peminta-minta menghampirinya. Karena iba, sang rahib pun menunjuk pada dua potong rotinya agar diambil oleh si peminta-minta yang tampak sangat kelaparan itu. Dan, setelah itu, secara tiba-tiba sang rahib pun meninggal dunia. Lalu, ditimbanglah ibadah/pengabdiannya selama enam puluh tahun itu dan dibandingkan dengan perbuatan keji yang dilakukannya sesaat sebelum kematiannya. Ternyata perbuatan zina yang dilakukannya bersama wanita pelacur itu, mengalahkan semua kebaikannya. Kemudian pahala sedekah dua potong roti kepada si peminta-minta tadi ditambahkan ke dalam timbangan pengabdiannya itu. Dan ternyata timbangan kebaikannya menjadi lebih berat ketimbang keburukannya. Maka dengan rahmat-Nya, dia pun diampuni!”
Bukankah telah kami katakan pada anda, bahwa rindu MUHAMMAD akan rahmat tidak ada tolak bandingannya? Camkanlah – salam Allah teruntuk beliau -, sesuai kisah diatas, beliau menampilkan wajah seorang manusia yang dalam hidupnya samasekali tidak pernah melakukan kebaikan. Kecuali merahmati orang-orang yang berhutang padanya. Mereka di perlakukan dengan sabar dan tidak didesak-desak agar cepat membayar hutang. Lihatlah bagaimana beliau menggambarkan pahala orang itu. Suatu pengampunan umum. Karena orang itu selalu mengharapkan rahmat Allah yang maha luas.
Baca juga:
