Sunday, March 6, 2011

MEMBINA HUBUNGAN BAIK DENGAN SESAMA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
(10)
MEMBINA HUBUNGAN BAIK DENGAN SESAMA


Para pembaca yang budiman,
Dengan rahmatnya, MUHAMMAD berusaha mengarahkan ketakutan manusia pada Allah. Suatu ketakutan yang kadang kala menutup hati dan penglihatan mereka. Menggiring ummatnya ke sisi Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang, yang senantiasa menerima kekhilafan dan taubat hamba-Nya, yang selalu mengampuni dosa dan gembira menyambut hambaNya yang kembali ke padaNya. Lebih gembira dari seorang ayah yang kasih menemukan kembali anaknya yang hilang.

Kini, marilah kita meneliti pula bagaimana MUHAMMAD mengenyahkan rasa takut jenis lainnya, yakni rasa takut terhadap manusia.

Kenapa manusia harus merasa takut terhadap sesamanya? Takut adalah perasaan hilangnya rasa aman. Setiap upaya orang memperkecil atau melenyapkan rasa aman itu merupakan suatu tindakan terror dan kezaliman. Dan di belakang semua tindakan permusuhan yang menimbulkan rasa takut itu, bersembunyi suatu kekuatan angkara murka, yakni keganasan hati. Keganasan hati atau keganasan pribadi merupakan pendorong segala perbuatan orang yang mendatangkan keresahan dan ketakutan pada sang korban. Dan keganasan itu sekalipun di awasi secara konstitusional ataupun lewat keadilan hukum, namun dalam tindakannya menampilkan bentuk aslinya, yakni, kezaliman!

Kata mutiara Romawi kuno mengatakan:

“Keadilan yang tajam sama dengan kezaliman yang tajam.”

Dalam upaya mengatasi penyakit takut itu, MUHAMMAD mulai dari sumber sebab-sebabnya, dari sarang penyakit itu. dari keganasan jiwa. Kemudian, barulah beliau menanggulangi rasa takut itu dalam segala corak dan manifestasinya. Dan berkat rahmatnya yang besar itu, dapatlah diciptakan suatu kehidupan yang bersih dari rasa takut. Keganasan merupakan musuh bebuyutan dari rahmat. Karena itulah Rasulullah bertindak tegas dalam menghadapinya. Baik keganasan yang kecil apalagi yang besar, yang tentunya akan besar pula bahayanya. ‘

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Beberapa orang Badui datang bertamu pada Rasulullah saw., lalu mereka berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Jawab Rasulullah: “Ya”. Maka kata mereka pula: “Tapi kami,demi Allah, tidak pernah melakukannya!”. Lalu sabda Rasulullah saw.,: “Apa dayaku kalau sekiranya Allah akan mencabut rahmat dari dalam hati kalian!”
Ciuman kasih kebapaan yang kita tunjukan sebagai tanda cinta pada anak-anak kita, merupakan sesuatu yang agung dalam penilaian MUHAMMAD. Jadi bukan sekedar hiburan atau main-main. Tapi merupakan suatu wajah rahmat yang di tampilkan sepintas lalu, namun di dalamnya tersimpan kekayaan besar yang diinginkan MUHAMMAD bagi setiap orang, yakni berupa rahmat, kelembutan, dan kecintaan. Maka beliau hampir mengecap mereka yang tidak perduli untuk mempraktekkan rahmat yang nampaknya sepele itu, sebagai orang yang berhati batu. Dan pada mereka diberitahukan, bisa jadi Tuhan akan mencabut rasa kasih dari hati mereka.
Sabdanya: “Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah". (HR. Bukhari)

“Tiada dicabut rahmat kasih sayang, kecuali dari (hati) seorang pendurhaka. (HR. Abu Dawud)

Mencium anak yang nampaknya merupakan rahmat yang sepele itu, hendaknya ditingkatkan pula dengan mempraktekkan rahmat secara merata dalam segala aktifitas kehidupan.
  • Ucapan yang lembut mengandung rahmat,
  • Pandangan yang manis berisi rahmat,
  • Bimbingan yang lemah lembut adalah rahmat,
  • Nasihat yang baik termasuk rahmat,
  • Memberi rahmat merupakan rahmat,
  • Mengunjungi orang sakit (ta’ziah) termasuk rahmat,
  • Menebarkan salam adalah rahmat,
  • Malah menyambut (mendoakan) orang yang bersin juga rahmat.
Meskipun nampaknya kecil dan sederhana, semua pekerjaan itu dipandang Rasulullah sebagai untaian mutiara yang akan memperindah hubungan sosial dan menciptakan ikatan persaudaraan. Dan dengan sendirinya akan menghapuskan upaya pemerkosaan hak, melenyapkan rasa takut, dan menciptakan hubungan baik.

MUHAMMAD senantiasa menutup jalur yang menimbulkan rasa takut seseorang terhadap sesamanya, dengan memupuk jalan kearah percaya pada diri sendiri, membina hubungan akrab sesamanya, serta berusaha semaksimal mungkin menempuh cara terbaik dalam berkata-kata dan bertindak.

MUHAMMAD saw, dengan segala kelembutannya dan kasih sayangnya, sangatlah menganjurkan hubungan antar manusia yang hakiki, yang sarat dengan cinta dan rasa saling memiliki antar sesama. Persaudaraan orang mukmin diibaratkan beliau sebagai sebuah bangunan rumah atau bagaikan sesosok tubuh yang saling bertautan rasa.

Sabdanya:
  • “Orang mukmin sesama orang mukmin bagaikan sebuah rumah. Satu sama lain hendaklah saling menguatkan.”
  • “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam dalam hal saling mencinta,, saling mengasihi dan saling menyayang, bagaikan sesosok tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh pun akan merasakan sakitnya. Tidak dapat tidur dan demam.”
  • Manusia dengan manusia lainnya merupakan saudara, “Ia tidak boleh dizalimi, tidak boleh dihinakan dan tidak boleh dicemoohkan.”
Ucapan yang sederhana itu, yang memantulkan rasa kasih saying dan kelembutan, punya dampak yang kuat dalam membina persaudaraan kemanusiaan. Rasulullah berusaha keras menggalakkan persaudaraan, seperti juga halnya beliau sangat kuat membina hati yang masih sehat, murni dan jujur.

Barra’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah saw.mewasiatkan pada kami untuk melakukan tujuh perkara:
  1. Memerintahkan kami mengunjungi orang sakit,
  2. Mengantarkan jenazah,
  3. Menyambut orang bersin,
  4. Menebuskan sumpah orang lain,
  5. Menolong orang teraniaya,
  6. Menyambut undangan,
  7. dan menyebar-luaskan (menebarkan) salam.”

Karena keganasan itu dalam banyak aspeknya bersumberkan sifat lupa diri. an lupa diri ini pulalah asal dari sikap suka menghina orang-orang yang rendah kedudukannya dalam masyarakat, bukan karena orang berbuat siatu dosa. Lantas karena lupa diri ditimbulkan dari perasaan sombong karena punya harta, kedudukan atau pangkat, maka MUHAMMAD menyamakan semua manusia dengan asal mereka, yakni tanah.

Asal yang sama itu kranya bisa menyembuhkan penyakit lupa diri yang egois itu, dan sekaligus bisa jadi obat penawar bagi kaum lemah dan rakyat jelata. Dalam hal ini MUHAMMAD menampilkan perumpamaan bagi orang-orang yang mau berfikir:

“Surga dan Neraka saling menonjolkan kebanggaan masing-masing. Kata Neraka: “Di dalam saya berkumpul para tiran yang angkara murka. Dan Surga berkata: “Di dalam saya berkumpul orang-orang lemah dan orang-orang miskin. Lalu Allah menengahi keduanya. Firmannya pada Surga: “Engkau rahmatKu, dengan engkau Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki”. Dan pada Neraka Dia berfirman: “Engkau siksa-Ku, dengan engkau Aku menyiksa siapapun yang Aku kehendaki.”
Dengan perumpamaan yang dalam ini, kita memahami cara MUHAMMAD membabat habis unsur perpecahan jiwa manusia sampai keakar-akarnya.

~ Para tiran yang angkara murka itu berada dalam kedudukan yang patut untuk diirikan orang. Dan kedudukannya itu tidak memberikan hak baginya untuk berlaku sombong terhadap hamba-hamba Allah lainnya. Karena penyakit angkuh, sombong dan dengki, para tiran bergelimang dalam api kehinaan, dijauhkan dari rasa cinta pada sesama manusia atau tidak mendapatkan doa dari sesama manusia.

~ Mereka yang nampaknya lemah dan sengsara, namun bersih dari kuman penyakit lupa daratan, dari hidup bermewah-mewah serta dari angkara murka, mereka inilah yang akan meraih surga kasih sayang, Ketenteraman hidup dan keselamatan.

Selanjutnya Rasulullah mengecam pedas keganasan orang-orang sombong, dengan sabdanya:
  • “Adapun orang-orang yang tinggi besar itu, akan dihadapkan di hari Kiamat, sedangkan nilai timbangannya di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor nyamuk.”
Dan orang-orang yang ‘tinggi besar’ itu dimaksudkan sebagai ejekan terhadap orang yang merasa besar karena kedudukannya, merasa tinggi karena pangkatnya, serta menggelembungkan diri karena kekayaannya.
Mari kita baca riwayat ini: “Telah berjalan seorang lelaki di hadapan Nabi saw. lalu Tanya beliau pada seorang yang hadir: “Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?” Orang yang ditanya, menjawab: Dia orang bangsawan. Orang semacam itu kiranya kalau meminang akan diterima, dan kalau menolong orang akan berhasil”. Rasulullah berdiam diri sejenak. Lantas ada orang lain lagi melintas dihadapannya. Lalu tanyanya lagi: “Bagaimana pula pendapatmu tentang dia?” Orang yang ditanya, menjawab: “Ya, Rasulullah, dia seorang Islam yang miskin. Kalau meminang mungkin ditolak orang, kalau menolong orang tidak akan berhasil, dan kalau bicara tidak akan didengar”. Maka sabda Rasulullah: “Dia lebih utama sebanyak isi bumi ini ketimbang orang yang pertama tadi.”
Kiranya Rasulullah saw., berdasarkan makna riwayat tersebut, mengangkat martabat orang yang rendah hati dan menilai rendah orang yang silau oleh pangkat dan kedudukan. Rasulullah tidak mencampakkan orang pertama itu hanya karena dia bangsawan. Tetapi karena orang itu bersikap lupa daratan karena kebangsawanannya. Malah orang kecil yang bekerja secara diam-diam dan rendah hati, dinilai lebih tinggi oleh Rasulullah daripada mereka yang bersikap lupa daratan karena kedudukannya.

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

**
Dipetik dari buku berjudul NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA (dengan penambahan seperlunya) karya: Khalid Muhammad Khalid.

**
Tulisan ini merupakan Bagian Kesepuluh [10] dari 19 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, artikel selanjutnya dapat juga diikuti melalui nomor-nomor urut di bawah ini:

[1] . [2] . [3] . [4] . [5] . [6] . [7] . [8] . [9] . [10] . [11] . [12] . [13] . [14] . [15] . [16] . [17] . [18] . [19]

Baca juga Hakikat Mencintai Rasulullah di sini dan Kisah Penciptaan Muhammad di sini


0 komentar:

Post a Comment