TANYALAH HATI NURANIMU

Rasulullah SAW bersabda; "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

MENGAPA AKU BELAJAR AL-QURAN?

Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. - Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Quran itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya" [HR. Bukhari - Muslim]

RAHASIA DI SEKITAR DUNIA IBUKU

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

SUDAH BAIKKAH SHALATKU?

Rasulullah SAW bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya." [HR. At-Thabrani - Dari Anas RA]

AJARI KAMI ILMU YANG BAIK

Rasulullah SAW bersabda; "Mendidik anak lebih baik bagimu daripada setiap hari bersedekah satu sha - Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) akhlak yang baik." [HR. At-Tirmidzi Dari Jabir bin Samurah r.a dan Amr bin Sa’id bin Ash r.a]

Tampilkan postingan dengan label Tasawwuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawwuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

TENTANG SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT, DAN MAKRIFAT




Dalam SYARIAT ada hijab...
Tidak akan tertembus kecuali oleh HAKIKAT..
Syariat jalannya umat...
untuk berkhidmat pada Yang Maha Kuat...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..
Ada yang bertanya tentang apakah yang dimaksudkan dengan Syariat, apa itu Tarikat, dan ada juga yang bertanya tentang Hakikat. Dengan segala keterbatasan, kami mencoba untuk menjelaskannya secara singkat, dengan harapan semoga dapat di pahami. ~ Mohon koreksi.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dlm hidup dan kehidupannya..

SEBAGAI PANDANGAN HIDUP
Seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Firman Allah SWT:

"Syara'a lakum mina alddiini maa washshaa bihi nuuhan waalladzii awhaynaa ilayka wamaa washshaynaa bihi ibraahiima wamuusaa wa'iisaa an aqiimuu alddiina walaa tatafarraquu fiihi kabura 'alaa almusyrikiina maatad'uuhum ilayhi allaahu yajtabii ilayhi man yasyaau wayahdii ilayhi man yuniibu..."

"(Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama^1341 dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)".(QS Asy-Syura [42]:13) [^ 1341: Yang dimaksud "agama" di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menta'ati segala perintah dan larangan-Nya.]

Firman-Nya pula:

"Tsumma ja'alnaaka 'alaa syarii'atin mina al-amri faittabi'haa walaa tattabi' ahwaa-a alladziina laa ya'lamuuna..." 

(Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS Al-Jatsiyah [45]:18)

"Wa-anzalnaa ilayka alkitaaba bialhaqqi mushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alkitaabi wamuhayminan 'alayhi fauhkum baynahum bimaa anzala allaahu walaa tattabi' ahwaa-ahum 'ammaa jaa-aka mina alhaqqi likullin ja'alnaa minkum syir'atan waminhaajan walaw syaa-a allaahu laja'alakum ummatan waahidatan walaakin liyabluwakum fiimaa aataakum faistabiquu alkhayraati ilaa allaahi marji'ukum jamii'an fayunabbi-ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifuuna..." 

(Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian421 terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu422, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS Al-Maidah [5]:48).

Dan untuk mengetahui hakikat..makrifat.maka ada baiknya kita pahami dulu istilah2 yang sering dipakai oleh para sufi..

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
HAKIKAT berarti "kebenaran" atau "kenyataan yang sebenarnya", seakar dengan kata al-Haqq, "reality", "Absolut" adalah kebenaran esoteris yang merupakan batas-batas dari transendensi dan teologis.

Dalam pengertian seperti ini, hakikat merupakan unsur ketiga dlm ilmu tasawuf, yakni:
  • SYARI'AT (hukum yang mengatur), 
  • TAREKAT (suatu jalan atau cara); ~ sebagai suatu tahapan dalam perjalanan spiritual menuju ALLAH Al-HAQQ, 
  • HAKIKAT (Kebenaran yang essensial), dan 
  • MA'RIFAT (mengenal ALLAH dengan sebenar-benarnya, baik Asma, Sifat, maupun Af'al-Nya). 
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

"Inna haadzaa lahuwa haqqu alyaqiini, fasabbih biismi rabbika al'azhiimi.." 

"Sungguh, yang demikian itu adalah hakikat yang meyakinkan maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS Al-Waqiah [56]: 95-96)

"Fadzaalikumu allaahu rabbukumu alhaqqu famaatsaa ba'da alhaqqi illaa aldhdhalaalu fa-annaa tushrafuuna.." 

"Maka ikutilah DIA Tuhanmu yang hakiki. Tidak ada sesudah kepastian itu melainkan kesesatan. Tetapi bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari kebenaran?" (QS Yunus [10]: 32) 

Ilmu "HAKIKAT" ini termasuk ilmu Maknun (Ilmu yang tersimpan) yang tidak boleh disebarkan kecuali kepada ahlinya karena mengandung unsur yang membahayakan bagi orang awam (kebanyakan), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini:

"Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yang kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)". 

Al-Ghazali menegaskan bahwa Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yang kelihatannya bertentangan dengan Ilmu SYARIAT, namun hakekatnya tidaklah bertentangan.

Ilmu ini, yang tidak boleh ditulis dan tidak boleh disebar-luaskan secara umum, tetapi harus disembunyikan kecuali kepada orang-orang yang terpercaya (yang dapat menyimpan amanah), sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ali Zainuddin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.

"Banyak Ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebar-luaskan, niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala, dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik." 

HAKIKAT, juga disebut 'lubb' ("dalam", "saripati", "inti") kaitannya dengan sebuah frase Al-Qur'an (dalam surah Al-Qashash ayat 29, dan ayat-ayat lain).

Sedangkan Ulul Albab adalah orang yang memiliki pengetahuan (yang mendalam), yakni mereka yang memiliki pandangan atau pengertian tentang HAKIKAT. Kaitannya dengan hal ini terdapat pada pepatah Sufi,

"Untuk mencapai Hakikat (inti), Anda harus mampu menghancurkan kulit", yang mengandung pengertian bahwa paham eksoterisme (perwujudan), melampaui batas-batas pemahaman eksoteris, karena esensi melampaui bentuk-bentuk luaran yang mana ia tidak dapat direduksikan kepada bentuk luaran yang bersifat eksoterik.

Lebih lanjut dapat dilihat dari uraian "SYARIAT".

Secara sederhana kita ambil contoh ibadah Shalat yang menjadi inti daripada hakekat hidup kita sekalian, yaitu "Hakekat hidup adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (liya' buduni), sedangkan ibadah yang paling pokok dan utama adalah Shalat!

SHALAT
SYARI'AT-nya adalah memenuhi kewajiban. Sesuai dengan firman-Nya; 

" Inna alshshalaata kaanat 'alaa almu'miniina kitaaban mawquutaan.."

"Bahwa sesungguhnya shalat itu diwajibkan atas orang-orang mukmin pada waktu-waktu yang sudah ditentukan." (QS An-Nisaa [4]:103). 

TAREKAT-nya adalah memberi pengaruh pada sikap dan membekas pada perbuatan. 
HAKIKAT-nya adalah zikir kepada ALLAH Subhanahu wa Ta'ala. 

Sebagaimana firman-Nya: 

"Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii.." 

"Sungguh, AKU inilah ALLAH, tiada Tuhan melainkan AKU. Maka sembahlah AKU dan tegakkanlah shalat ini untuk dzikir kepada-KU." (QS Thaha [20]:14) 

MAKRIFAT-nya adalah mi'raj ruhani kehadirat Ilahi. 

"Shalat adalah Mi'raj-nya orang-orang yang beriman." (HR Baihaqi dan Muslim)

Seperti telah disinggung pada awal tulisan ini, dimana diuraikan bahwa:

SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dalam hidup dan kehidupannya.. 

Sebagai PANDANGAN HIDUP, seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah (QS Asy-Syura:13, Al-Jatsiyah:18, QS Al-Maidah:48). 

Sebagai PEGANGAN HIDUP, SYARI'AT diturunkan ALLAH Subhanahu wa Ta'ala ke dunia ini dengan Ilmu-Nya yang tak terbatas. Oleh karena itu, SYARIAT bersifat UNIVERSAL. 

Kemudian, DIA mengutus Rasulullah SAW. sebagai RAHMATAN LIL ALAMIIN yang memberlakukan Syariat sampai akhir zaman. (Lihat QS Al-Furqan:1; dan QS Al-Anbiya:107). 
Sebagai PERJUANGAN HIDUP, Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijtihad sebagai sumber syariat meliputi: 

(1) Prinsip Dasar (Iman/Aqidah/Islam /Ibadah, dan Ikhsan/Akhlak) dan
(2) Norma-norma Hukum Islam.

Menurut Syaikh Athaillah As-Sakandary dan para sufi, bhw amal perbuatan terdiri atas tiga bagian, yaitu: Amal Syariat; ~ Amal Tarekat, dan ~ Amal Hakikat; atau... 
  • Amal Islam, Amal Iman, dan Amal Ihsan; ATAU.. 
  • Amal Ibadah, Amal Ubudiyyah, dan Amal Ubudah; ATAU.. 
  • Amal Ahli Bidayah (tahap pemula); Amal ahli Wasat (tahap pertengahan), dan Amal Ahli Nihayah (tahap akhir). 
  1. SYARIAT untuk memperbaiki 'zawahir' atau 'zawarih' (anggota badan),
  2. TARIKAT untuk memperbaiki 'dhamir' (hati); dan
  3. HAKIKAT untuk memperbaiki 'sarair' (ruh).
Memperbaiki zahir (anggota badan) dgn tiga perkara pula yaitu: 
  • Ikhlas 
  • Sidq (jujur), dan 
  • Tumaninah (ketenangan). 
Dan, memperbaiki 'Ruh' juga dengan tiga perkara, yaitu; 
  1. Muraqabah (waspada/merasa di awasi/seolah-olah melihat ALLAH Subhanahu wa Ta'ala), 
  2. Musyahadah (menyaksikan Asma, Sifat, dan Afal Alllah Subhanahu wa Ta'ala.), dan, 
  3. Makrifat (mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala.) 
Atau ...
  • Memperbaiki Zahir (anggota badan) yaitu dgn 'menjauhi larangan Allah Swt.dan mengikuti perintah-Nya. 
  • Memperbaiki Hati yaitu dgn menjauhi sifat2 tercela dan menghiasinya dgn sifat2 utama..Dan,.. 
  • Memperbaiki Ruh yaitu dgn menghinakannya dan menundukkannya shgga menjadi terdidik adab,tawaduk, dan berbudi.. 
Ahli Syariat ialah orang yang melaksanakan amal ibadah 'litalabil ujur' (karena mengharapkan upah atau pahala dari Allah Swt.). 

Ahli Tarekat masih dalam perjalanan antara syariat dan hakikat. Sedangkan ahli Hakikat ialah orang-orang yang melaksanakan 'ibadah' (pengabdian kepada Allah Swt.) semata-mata karena mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. (ikhlas), disertai dgn rasa 'khawf' (takut/gentar), 'raja' (harap), 'mahabbah' (cinta) dst. 

Syaikh Athaillah As-Sakandariyah berkata;

"Orang yang telah sampai pada Hakikat Islam, maka ia tidak kuasa menghindari melaksanakan Syariat; 

Orang yang telah sampai pada Hakikat Iman, maka ia tidak kuasa berpaling kepada amal perbuatan atas dasar selain Allah Subhanahu wa Ta'ala (riya); 

Dan, orang yang telah sampai pada Hakikat Ihsan, maka ia tidak kuasa berpaling kepada segala apapun selain Allah Swt." 

Menurut Syaikh Ali bin al-Haitamy r.a.,

"Syariat ialah apa yang berkaitan dengan 'taklif' (pembebanan suatu ibadah), sedangkan Hakikat ialah apa yang dapat menghasilkan 'pengenalan kepada Allah'. Syariat dikuatkan oleh Hakikat, dan hakikat terikat pada Syariat. 

Syariat adalah sebagai wujud perbuatan Allah Swt., dan melaksanakannya dengan syarat disertai ilmu melalui perantaraan para Rasul, sedangkan Hakikat ialah 'menyaksikan hal ihwal mengenal Allah Swt. dan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya tanpa ada perantaraan". 

Syaikh al-Arif Billah Sayyid Ibrahim ad-Dasuqi al-Quraisy r.a., berkata:

"Syariat adalah POKOK, sedangkan Hakikat adalah CABANG. Syariat mengandung segala ilmu yang disyariatkan, sedangkan Hakikat mengandung segala ilmu yang tersembunyi, dan seluruh maqam (kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala) bertingkat-tingkat di dalam keduanya". 

"Syariat itu Pohon dan Hakikat itu Buahnya." 

"Ahli Syariat akan batal shalatnya dengan bacaan yang buruk, sedangkan ahli Hakikat akan batal shalatnya dengan akhlak yang buruk.~ Jadi apabila di dalam bathinnya terdapat kedengkian atau iri hati, buruk sangka kepada seseorang, mencintai dunia, shalatnya batal. 

Karena sesungguhnya pemilik akhlak buruk itu berada pada hijab (terhalang) dari menyaksikan keagungan Allah Swt di dalam shalat. Dan orang yang hatinya terhijab maka ia tidak shalat, karrna sesungguhnya shalat adalah sebuah hubungan dengan Allah Swt.".

Seorang Sufi bersyair:


Dalam Syariat Ada hijab
Tidak akan tertembus kecuali oleh Hakikat 
Syariat jalannya umat 
Untuk khidmat pada Yang Maha Kuat

Sedang Hakikat ada syariat yang samar bagi umat
Hingga disangka sesat,  
Padahal jalan yang selamat 
Syariat adalah awalan 

Hakikat bukan akhiran 

Karena pada hakikat terdapat syariat 

Yang berbeda dengan syariat awalan, 
Pada khidmat umat 

Padahal pada tiap ayat
Ada makna yang tersirat dan tersurat 
Adalah sabda Rasul berpendapat 
Maka apakah mereka tidak melihat? 

Pada tiap-tiap umat ada syariat 
Begitulah ayat berpendapat 
Apakah mereka tidk melihat? 
Maka Hakikat dalah Syariat 

Yang berasal dari syariat umat 
Sedangkan dia berpijak 
Maka bagaimanakah Hakikat dikatakan sesat? 
Sedangkan dia berpijak pada syariat 

Yang dibawa oleh Rasul yang mulia 
Sebagai amanat 
Tetapi Allah mempunyai pendapat 
Siapakah para hamba yang mendapat hidayah 

Untuk dapat mengenal hakikat 
Maka siapa yang menolaknya 
Berarti melepaskan hidayah 

Karena mencapai makrifat adalah dengan syariat 
Yang terususun dengan hakikat 
Maka syariat dan hakikat adalah syariat-Nya 
Apakah mereka tidak melihat?




Segala puji hanya bagi Allah 'Azza wa Jalla semata.., dan Shalawat dan Sallam semoga senantiasa tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam beserta ahlul baitnya, para sahabat serta para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.-

Wassalam

Selasa, 12 Juli 2011

MAKRIFATULLAH



Tidak ada yang kita ingat-ingat, tidak ada yang kita tuju, tidak ada yang kita takuti, tidak ada yang kita cintai, dan tidak ada yang kita sembah, kecuali ALLÂH SWT.

MUKADDIMAH 

Sahabatku rahimakumullah,
Dalam kuliah ma’rifatullah akan tergambar betapa Islam merupakan integrasi antara... ~ syariat-tarikat-hakikat ~ Ketiga unsur ini terpusat dan dilandasi ma’rifatullah.

Dalam hadis Nabi saw yang popular disebutkan bahwa:

Awwalu al-dîn ma’rifatullâh
Awal agama adalah mengenal Allah

Al-diin, ialah wahyu Allah yang sesuai dengan akal sehat, dengan usaha keras kearah itu, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Hadits ini tidak pernah dikenal sebagai hadis yang riwayatnya sampai kepada Nabi, tetapi di kalangan ulama dikenal berasal dari Yahya bin Mu’az al Râzi. Demikian juga ungkapan Imam al-Nawawi, bahwa hadis ini tidak jelas (tsabit).
Siapa saja yang mengenal dirinya pasti dia akan mengenal Allah sebagai “Qadim” dan siapa yang mengenal bahwa dirinya akan fana niscaya yakinlah dia bahwa Tuhannya pastilah Kekal (Baqâ). 
Dari sini dapat dipahami, bahwa jiwa riwayat hadis ini tidak bertentangan dengan al-Qur’an, bahkan sejiwa. Sebagian ulama memandang bahwa hadis ini adalah perkataan Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Disini bukanlah tempat untuk mempertentangkannya tetapi cukup diambil jiwanya saja karena ulama-ulama tafsir di dalam memahami surah Muhammad [47]:19 sepakat bahwa haramnya taklid dalam aqidah. Dalam istilah lain, mengenal dan memahami Allah wajib berdasarkan ilmu. Sedangkan ilmunya tentu saja ilmu dari Allah SWT.

Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: 
“Barangsiapa yang memilah-milah-NYA, maka sesungguhnya dia tidak mengenal-NYA. Barangsiapa yang tidak mengenal-NYA, maka dia akan melakukan penunjukan kepada-Nya. Barangsiapa yang melakukan penunjukan kepada-Nya, maka dia telah membuat batasan tentang-NYA. Dan barangsiapa yang membuat batasan tentang-Nya, sesungguhnya dia telah menganggap-Nya berbilang. 

‘Abdullah Ibnu ‘Abbas r.a. seorang sahabat Nabi -ahli tafsir al-Qur’an- , menafsirkan surah al-Dzâriât [51]:56 yang berbunyi “liya’budûni” maksudnya lima’rifatî, yaitu untuk ma’rifat kepada-Ku. Ini menunjukkan bahwa Ma’rifatullah adalah inti ajaran Islam.

Pada pembahasan yang berikutnya, akan dibahas bahwa Ma’rifat adalah puncak atau tujuan akhir manusia. Inti dan tugas semua para Nabi dan Rasul adalah Ma’rifatullah, termasuk misi utama Al-Qur’an

"Wahai Tuhanku, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku dari sujud kepada selain-MU, maka jagalah wajahku dari meminta kepada selain-MU". 

"Wahai Tuhanku, cukuplah bagiku kebanggaan bahwasanya Engkau menjadi Tuhan bagiku, dan cukuplah kemuliaan bagiku bahwasanya aku menjadi hamba-MU. Sesungguhnya Engkau seperti yang kuinginkan, maka jadikanlah aku seperti yang Engkau inginkan." [wasiyat dari Imam Ali r.a] 


MA’RIFATULLÂH

Sahabatku rahimakumullah,
Bila diumpamakan Ma’rifatullah itu adalah pohon, maka dahannya ada tiga yaitu:
  1. Al-Tauhîd,
  2. Al-Tajrîd,
  3. Al-Tafrîd. 
Untuk dapat memahami lebih mudah dan mendalam berikut ini uraiannya:

Al-Tauhîd.
Dahan yang pertama ini dapat dipahami berdasarkan firman Allah SWT diantaranya Surah Muhammad [47]:19.

“Hendaklah kamu mendasarkan kepada ilmu tentang“lâ ilâha illallaâh”dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa oang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”.(Surah Al-Baqarah [2]:163);
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa”(Surah Al-Ikhlas [114]: 1-4);

“Atas nama ALLAH sumber rahmat, pemancar kasih sayang. Katakanlah! ALLAH itu AHAD (satu yang tiada duanya). ALLAH tempat semua makhluk menggantungkan diri. Tidak berputera dan tidak pula diputerakan. Dan tidak ada seorangpun yang dapat menandingi-Nya”

DIA tidak beranak, maka tiadalah DIA dilahirkan; dan tidak pula Dia di peranakkan, maka tiadalah Dia menjadi terbatas. Sungguh Mahaagung Dia untuk mempunyai anak dan Mahasuci bagi-Nya untuk menyentuh wanita. DIA tidak di peranakkan, Mahasuci DIA, maka tiada sekutu bagi-NYA dalam keagungan; tidak pula DIA beranak, maka tiadalah DIA diwarisi.

Istilah TAUHID tidak kita temukan dalam al-Qur’an sehingga sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa istilah ini baru popular sesudah terbitnya buku karangan Muhammad Abduh yang berjudul Risâlah al-Tauhîd . Tetapi jika kita telusuri hadits Nabi Saww istilah ini akan kita temukan dalam riwayat al-Imam Bukhari:

“Ada seorang dari generasi sebelum zaman kamu sekalian, yang sama sekali tidak pernah beramal baik kecuali bertauhid saja. Orang tersebut berwasiat pada keluarganya: ~ “Bila aku mati, bakarlah aku dan hancurkanlah diriku, kemudian taburkanlah separuh abu jasadku di darat dan separuhnya lagi di laut pada saat angin kencang”.~ Keluarganya pun melaksanakan wasiatnya itu. Kemudian Allah SWT berfirman kepada angin: “Kemarikan apa yang kamu ambil”. Tiba-tiba orang tersebut sudah berada di sisi-Nya. Kemudian Allah bertanya pada orang tersebut: “Apa yang membebanimu, sehingga kamu berbuat begitu?” Dia menjawab: “Karena malu kepada-Mu”. Kemudian Allah mengampuninya”. (HR Imam Bukhari).

Dilihat dari jiwa ayat-ayat dan hadits Nabi riwayat diatas, menunjukkan betapa pentingnya Tauhid. TAUHID adalah tingkat pertama dari ma’rifatullah karena ia “qath’u al andâd” yaitu memutuskan apa saja yang dianggap sebagai sekutu bagi ALLAH SWT.

Dari segi etimologi, tauhid berasal dari akar kata wahada (fi’il mâdhi) - yuwahhidu (fi’il mudâri)- tauhîdan (mashdar) berubah jadiwâhid atau wahad dan wahîd.

Sama dengan kata farrada (fi’il mâdhi)-- yufarridu (fi’il mudâri) – tafrîd (mashdar) berubah jadi farîd.

Akar kata ahad adalah wahada, kemudan huruf wâu diganti dengan hamzah sebagaimana huruf-huruf yang dikasrah dan didhammah diganti. Orang Arab mengatakan wahhadathu apabila anda menyifati dengan sifat wahdaniyyah (menyifatkan ke-MahaESA-an-Nya).

Inti Tauhid adalah kalimat;“lâilâha illâ llaâh” (tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkah hanya Allah). Dalam ilmu balâghah susunan kalimat ini dikenal dengan susunan yang sangat balîgh (sangat tinggi sastranya) dibandingkan dengan segala ungkapan yaitu:lâ, menafikan (meniadakan)- ilâh, yang dinafikan (disangkal)-illa,istitsnâ-(pengecualian) =ALLAH, itsbât (penetapan). Jika dalam satu pertemuan seorang membuat pernyataan:“Muhammad Ali adalah seorang mubaligh”, maka pernyataan ini dapat dipahami bahwa “Muhammad Amin” bisa jadi adalah seorang mubaligh pula. Berbeda jika pernyataan itu berbunyi: “Tidak ada mubaligh disini kecuali Muhammad Ali”. Kalimat ini menunjukkan bahwa satu-satunya mubaligh di tempat itu hanyalah Muhammad Ali dan bukan yang lainnya. Disinilah letaknya ketinggian sastranya.

Kata ALLAH terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 2698 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut. Mayoritas ulama lebih cenderung berpendapat bahwa kata itu tidak musytaq-artinya tidak terambil dari satu akar kata tertentu, tetapi asli merupakan Ismu al-Dzat, yaitu nama Dzat yang tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun juga. 

Menurut sebagian ulama, kata ini berakar dari kata “walaha” yang berarti mengherankan atau menakjubkan. Sebab memang semua perbuatan-Nya pastilah menakjubkan bagi yang mentafakkurinya. Segala ciptaan-Nya membuat heran orang yang mengkajinya sampai sedetail mungkin, apalagi sampai pada hakekat-hakekat ciptaan-Nya pasti penelitinya akan semakin takjub, tercengang dan akan Teheran-heran akan Tuhan yang diperkenalkan oleh al-Qur’an dengan nama ALLÂH ( اللّهُ ).

Pendapat lain mengatakan bahwa kata itu terambil dari akar kata aliha, ya’lahu yang artinya menuju atau memohon. Setiap makhluk dipastikan behwa semuanya sedang menuju kepada-Nya rela atau terpaksa, siap atau lalai, sesuai dengan firman-Nya pada surah al-Baqarah [2]:156; “Innâ lillâhi wainnâ ilaihi râji’un” .

Setiap makhluk terutama manusia, untuk memenuhi kebutuhannya, pasti akan bermohon kepada Tuhan yang mereka yakini dapat mengabulkannya yaitu ALLÂH SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa kata itu pada mulanya bermakna mengabdi. Ini dapat dimaklumi karena setiap makhluk ciptaan Tuhan pasti mengabdi kepada-Nya. Diantara sekian banyak makhluk yang mengabdi, manusialah makhluk yang paling banyak membangkang dan durhaka kepada Allah.

Ulama berupaya berupaya membedakan antara kata ALLÂH dan ILÂH dalam kalimat “lâ ilâha illâ llaâh”. Imam al-Marâghi misalnya mengungkapkan bahwa ilâh = Tuhan, yakni segala sesuatu yang disembah. Penyembahan itu baik dibenarkan oleh ajaran Islam atau sebaliknya tidak ditolerir oleh Islam. Penyembahan yang tidak ditolerir oleh ajaran Islam adalah menyembah segala sesuatu selain Allah, seperti misalnya menyembah: ~ matahari, bulan, bintang, api, berhala, makhluk, roh leluhur, anak manusia, berhala atau patung dan hawa nafsu.~

Dari sini dapat dipahami bahwa ilâh mencakup seluruh objek sesembahan atau semua yang dianggap sebagai kekuatan yang menguasai hidup atau matinya sesuatu. Berbeda dengan at yang wajib wujudnya (pantas dan mutlak di ibadahi) yang diperkenalkan al-Qur’an yaitu ~ ALLÂH SWT.

~ DIA-lah yang memiliki nama yang wajib disembah; Al-Khâliq, Zat yang harus ada dan selalu ada berada dengan zat-zat lainnya yang terkenal dengan Asmâ-u al-Husnâ.

Menarik dikemukakan disini apa yang disampaikan oleh seorang ulama kontemporer dan guru besar Universitas al-Azhar Mesir, pakar bahasa Arab yaitu syekh Mutawwali al-Sya’rawi. Ia menulis dalam tafsirnya tentang khawâsh (keindahan dan ke khususan lafadz Allah). Menurutnya, Allah selalu ada dalam diri manuia walaupun ia mengingkari wujud-Nya baik melalui ucapan dan tindakan. Kata ini selalu menunjuk kepada-Nya yang diharapkan pertolongan-Nya. Perhatikan lafadz “Allâh” اللّهُ (Alif;lam;lam;hâ), bila huruf pertamanya (alîf) dihapus, maka ia akan terbaca “lillâh” yang artinya berbentuh sumpah “demi Allâh” atau “milik Allâh”. Bila satu huruf berikutnya atau huruf kedua (lam) dihapus, akan terbaca yang berarti “untuk-Nya” atau “milik-Nya”. Kemudian jika huruf berikutnya yaitu huruf ketiga (lam) dihapus juga, ia akan terbaca dan tertulis ““lahu” hu” yang dapat dibaca “huwa” sebagai dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga) yang berarti DIA yaitu Allah SWT. (lihat dhamir “hu” pada ayat kursi atau al-Ikhlas).

Menarik lagi apa yang dikemukakan oleh ImamAl-Sy’râwi bahwa setiap orang yang mengeluh selalu berkata ah, ih, uh..(tanpa memandang siapa, bangsa, agama, dan keturunan). Kata ini menurut analisanya bahwa di dalamnya tersirat singkatan dari lafadz Allâh. Semua ini menunjukkan bahwa sadar atau tidak, setiap orang mengeluh kepada-Nya dan dapat ditarik satu kesimpulan bahwa keyakinan kepada-Nya atau ma’rifatullah terdapat dalam sanubari setiap insan. Inilah fitrah, sebagaimana sudah diisyaratkan di dalam al-Qur’an.

Kesempurnaan makrifat tentang-NYA adalah dengan 'tashdiiq' (membenarkan) terhadap-Nya. Kesempurnaan tashdiq terhadap-Nya adalah dengan tauhid kepada-Nya. Dan kesempurnaan tauhid kepada-Nya adalah dengan ikhlaskepada-Nya.

Barangsiapa yang melekatkan suatu sifat kepada-Nya, berarti dia telah menyertakan sesuatu kepada-Nya. Dan barangsiapa yang menyertakan sesuatu kepada-Nya, maka dia telah menduakan-Nya. Barangsiapa yang menduakan-Nya, maka dia telah memilah-milahkan (Zat)-Nya.

Sahabatku rahimakumullah,
Dalam khazanah Islam, kata "ma’rifatullâh" tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Tetapi dalam sejarah perkembangannya istilah ini lambat laun menyurut, kurang populer. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena pada kenyataannya dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam baik di TV maupun di majlis-majlis Ta’lim khususnya di Indonesia berpusat pada fikhi, dan pembahasannya pun berputar hanya pada masalah wudhu, shalat, shaum (puasa), zakat, haji. Inipun hanya sekedar lahiriyahnya saja, pembahasannya pun hanya dari satu mahzab, kemudian diklaim bahwa inilah yang dinamakan sunnah Nabi, dan yang tidak sesuai dicap bid’ah dan mengangkat dirinya menjadi Tuhan, dan mencap yang tidak sepaham sebagai ahli neraka. Na’udzu billâh, dari kesempitan dan kebodohan ini.Metode ini telah melahirkan muslim-muslim, tetapi jiwanya gersang dari daya pancaran spiritual dan akhlaknya jauh dari nilai-nilai Islam, bahwa Islam itu adalah rahmatan lil âlamîn.

Kata ma’rifatullâh berasal dari kata ‘arafa, ya’rifu, ‘irfatan, wa ‘irfânan, wa ‘itifânan, wa ma’rifatan. Arti menurut istilah antara lain adalah; Pengetahuan yang sangat pasti tentang al-Khâliq (Allah SWT) yang diperoleh dari hati sanubari. Ma’rifat adalah hadirnya al-Haq sementara kalbunya selalu berhubungan erat dengan nur-Nya.

DR. Mustafa Zuhri mengungkapkan bahwa ma’rifat adalah; ketetapan kalbu dalam meyakini wujudnya al-Wâjib (Allah Swt) yang menggambarkan segala kesempurnaan;

Sedangkan Imam al-Qushairî berkata: ” ma’rifat membuat ketenangan dalam kalbu sebagaimana ilmu membuat ketenangan pada akal pikiran."

Semakin meningkat ma’rifat seseorang, semakin meningkat pula ketenangan kalbunya. Ma’rifat seseorang akan membawanya kepada puncak kemerdekaan yang hakiki, bukan kemerdekaan yang semu. Tidak ada yang ditakuti dalam hidupnya hanya yang satu itu Allah Swt sehingga dia benar-benar merdeka dalam hidupnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Ma’rifatullâh adalah awal dari al-dîn (keber-agama-an) seseorang. Meskipun sebagian orang menempatkannya pada tingkat tertinggi sesudah syareat, tarekat, dan hakekat. Mereka tampaknya membagi dan memecahkan Islam pada “kepingan-kepingan” yang berserekan dan hanya tenggelam dalam ruang lingkup sareat atau fikhi dalam istilah yang sempit.


URGENSI MA’RIFATULLÂH 

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

“Awwalu al-dîn ma’rifatullâh” 

Fondasi (azas) dari al-dîn (keberagamaan) adalah ma’rifatullah.
Secara sederhana ma’rifatullah berarti mengenal Allah atau merasakan kehadiran-Nya.

Kebeningan hati seseorang tergantung kualitas ma’rifat-nya dan kehancuran diri, keluarga, sampai kepada hancurnya satu bangsa intinya bersumber dari ketidaktahuan-nya tentang ma’rifatullah. Kemampuan dalam merasakan kehadiran Illahi dalam kehidupan ini, bahwa DIA bersama kita, maka secara otomatis dapat mengantarkan seseorang untuk melaksanakan ibadah secara baik seperti shalat, shaum, zakat dan haji, serta ibadah-ibadah social lainnya. 

Ma’rifatullâh yang tertancap dalam jiwa akan menjauhkan diri seseorang untuk melakukan suatu maksiat dalam bentuk apapun seperti berbohong, korupsi, mark-up anggaran yang merugikan perusahaan, apalagi yang merugikan bangsa dan negara. Tidak akan ada peluang untuk untuk mengkhianati keluarga, teman, mitra kerja, bangsa dan Negara sekalipun. 

Membina keluarga dan mendidik anak-anak sejak dini dengan ma’rifatullah akan melahirkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta melahirkan anak-anak dan generasi yang shaleh dan rumah tangganya, hanya kematian yang memisahkannya, karena nanti akan bertemu lagi di didalam surga.

Dengan penataan diri lewat ma’rifatullah, hidup ini menjadi semakin indah, tenang tenteram tanpa rasa takut, bahkan rezekinya dijamin oleh Allah dan dia akan memperleh rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Disamping itu, kegoncangan jiwa dapat teratasi seperti susah tidur (insomnia), stress dan depresi baik dikala menghadapi masalah di rumah, di kantor atau di tempat kerja termasuk diakhir masa kerja (pensiun). Hati selalu bersama dengan-Nya sekalipun dalam keramaian, dan selalu tuma’ninâh (nikmat) dalam ibadah.Kebodohan terhadap-Nya merupakan awal dari segala malapetaka yang akan menimpanya dan akan berbuah penyesalan yang tak kunjung berakhir hingga di akhirat kelak.

"Wahai Ghulam, jika khalwatmu bersama Allah Swt. telah benar, hatimu tentu akan tercengang dan menjadi bersih. Pandanganmu dapat menarik pelajaran, hatimu bertafakur, ruh dan maknamu sampai pada Al-Haq Azza wa Jalla. Berfikir perihal dunia adalah siksaan dan hijab. Tetapi memikirkan akhirat adalah ilmu dan menghidupkan hati. Orang yang bertafakur diberi ilmu tentang keadaan dunia dan akhirat.” (Syaikh Abd.Qadir al-Jailani)

“Ya Allah, dekatkanlah kami kepada Engkau, jangan jauhkan kami dari Engkau. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa api neraka.”

Selanjutnya, silahkan simak juga penjelasan tentang "ALLASTU BIRABBIKUM" di sini.


~ Subhanakallâhumma Robbana wabihamdika, Allâhummaghfirlî ~ 

[Dari Al-Ustadz KH.Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said dalam bukunya: “Ma’rifatullah”]



ALLASTU BIRABBIKUM?




AWAL DAN PUNCAK TUJUAN 
PENCIPTAAN MANUSIA


Sahabatku rahimakumullah,
ALLAH Maha Bijaksana, maka sebagai wujud nyata kebijakan-Nya dinampakkan, bahwa setiap perbuatan-Nya pasti mempunyai maksud dan tujuan tanpa sia-sia.

Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Âli Imrân [3]: 191

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً 
“Tuhanku, semua yang Engkau ciptakan ini tidak sia-sia” 

Semua ciptaan dan perbuatan-Nya mengandung hikmah. Terdapat beberapa ayat al-Qur’an menginformasikan bahwa alam raya ang luas ini diciptakan semuanya untuk manusia. Penciptaan dilakukan bukan semata-mata karena manusia memiliki akal dan intuisi yang bisa mengolah kekayaan bumi ini, tetapi yang terpenting adalah wujud dari perjanjian yang telah dibuat Allah kepada manusia selain perjanjian primordial dalam (surah al-A’raâf [7]: 172) yaitu:

أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Allastu bi rabbikum?” (“bukankah AKU Tuhanmu?”). ~ Mereka (semua manusia) menjawab: “Bala Syahidnâ..” ~ “Benar! Engkaulah Tuhan kami..”~ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", 

Hal ini dapat juga dipahami dari terjemah surah al-Ahzâb [33]:72;

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 
 وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
“Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat (tugas-tugas kekhalifahan Allah di bumi) kepada langit, bumi dan gunung-gunung semuanya enggan memikul amanat tersebut dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah amanat itu oleh manusia; Sesungguhnya dia (manusia) zalim dan bodoh.” 

Selain itu, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, seperti isyarat dalam surah al-Baqarah [2]:30; yang artinya:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً 
“Sesungguhnya AKU hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. 

Menjadi khalifah adalah wujud tanggung jawab manusia -terhadap alam semesta ini- kepada Allah. Karena alam ini diperuntukkan bagi manusia, konsekwensinya dia wajib memelihara, mengatur dan menata seluruh alam ini serta memakmurkannya sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Hûd [11]:61;

غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi tanah dan menjadi kamu pemakmurnya karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmat-Nya lagi memperkenankan doa hamba-Nya”. 

Maksud ayat ini, manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

Dalam kehidupannya di muka bumi manusia mengemban amanat-Nya yaitu amanat ‘ibâdah dan amanat isti’mar yaitu menciptakan kemakmuran di muka bumi ini.

Sebagai ‘âbid, manusia wajib beribadah sebagai tanda terima kasihnya kepada Allah, bahwa atas kecintaan-Nya serta rahmat-Nya, manusia dapat melaksanakan aktifitasnya.

Sebagai khalîfah, atau penguasa di bumi, ia wajib menciptakan kemakmuran, keamanan dan menjaga kelestarian alam ini agar tidak menimbulkan malapetaka. Akan tetapi tujuan yang paling esensial dari penciptaannnya, selain untuk menunaikan amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, adalah untuk beribadah atau menghambakan diri hanya kepada Allah SWT semata. 

Dunia ini pada prinsipnya hanya sebagai sarana untuk menghambakan diri pada-Nya. Akan tetapi ibadah, menghambakan diri pda-Nya tanpa ma’rifât adalah omong kosong belaka. Karena ma’rifatlah yang melahirkan ibadah, dan ibadah yang paripurna lahir karena ma’rifat.

Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa hakekat dan inti tujuan penciptaan manusia dan seluruh alam adalah ma’rifatullah agar dapat secara sempurna menjalankan tugasnya sebagai khalifatullâh di muka bumi dan sebagai ‘âbid (pelayan dan anak panah Allah SWT serta kembang matahari yang memancarkan harum-haruman kesekelilingnya).

Pada saat Bai’atul ‘Aqabah ke satu dan ke dua dilaksanakan di Mina, orang-orang Yatsrib yang telah masuk Islam sebelumnya bersumpah setia (kepada Nabi ketika mereka akan kembali ke Yatsrib (yang kemudian berubah menjadi Madinah), mereka meminta nasehat kepada Nabi Saw. berupa konsep untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Nasehat Nabi Saw. ternyata sangatlah sederhana yaitu: 
 
  • Jangan menyekutukan Allah, 
  • Jangan membunuh tanpa haq, 
  • Jangan berzina, 
  • Jangan mencuri/korupsi, 
  • Jangan berdusta, dan 
  • Jangan memfitnah. 
[Lihat surah al-An’am [6]: 151-152]

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ 
"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). 

وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواْ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللّهِ أَوْفُواْ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ 
"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah520. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. "

Orang-orang Yastrib berbai’at untuk tidak mengerjakan ke-enam perkara yang di wasiatkan Nabi Saw ini.

Isi bai’at ini tidak berbicara tentang ekonomi, Bank Dunia, IMF, apalagi Perdagangan Bebas (AFTA), karena pada saat itu memang tidak ada. Kalaupun ada, Nabi tidak akan membicarakannya karena seluruh perjuangan nabi-nabi dan gerakannya adalah menanamkan ma’rifatullah sebagai inti permasalahannya. Jika sumber permasalahannya dapat dibenahi tentunya solusi seluruh persoalan akan menjadi lebih mudah dan lancar. Dialah sumber keamanan dan ketenteraman serta kesejahteraan bangsa. Tanpa Ma’rifatullâh, kesejahteraan yang dijanjikan hanya fatamorgana semata-mata, bayangan kosong yang tak mungkin terwujud. Syirik (menyekutukan Allah) adalah penyakit rohani yang akan merusak jiwa dan mental spiritual dan Zinah adalah penyakit sosial yang dampaknya bukan hanya pada pelakunya tetapi termasuk pada lingkungannya bahkan bisa menjadi sebab runtuhnya sebuah Negara dan musnahnya suatu peradaban seperti halnya kaum Luth yang pernah hidup di kota Sodom & Gomorah. Apa yang dilarang oleh Nabi Saww dapat terjadi bila jiwa ma’rifat sirna dalam diri dan masyarakat, lebih-lebih jika sirna dari hati para anggota DPR baik Pusat maupun Daerah dan para Birokrat dan Aparat.

Bahaya dari enam larangan tersebut diatas (Syirik, membunuh, zinah, korupsi, bohong, fitnah) langsung terbayang di hadapan kita, tapi bagaimana dengan berbohong?

Sederhana sekali nasehat Nabi, tapi langsung menembus inti permasalahan!

Coba bayangkan jika sebuah keluarga pembohong. Suami, istri dan anak-anaknya semuanya pembohong, kira-kira bagaimana nasib keluarga itu? Bisa dipastikan keluarga itu akan hancur berantakan. Jika kebohongan telah merajalela dalam suatu Negara maka disanalah sumber kehancurannya. Nabi Saww pernah bersabda bahwa ide dan kebiasaan suatu warga bangsa sedikit banyaknya ditentukan oleh kebiasaan penguasa mereka. 

Itulah sebabnya maka Imâm Mâlik bin Anas (93-179H./712-795 M.[pendiri Mazhab Maliki] -Madinah), menegaskan:

"Manusia tergantung kepada adat-kebiasaaan penguasa mereka.” 

Jika Presiden mereka pembohong, dapat dibayangkan bahwa kebohongan itu akan merajalela dalam lingkungan kekuasaannya. Dalam bahasa politik disebut “kebohongan publik” 

Dalam kita Ihyâ Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa: 
“Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuannya mengenal Allah (ma’rifatullah)”. 

Seluruh misi dakwah para Nabi dan Rasul berpusat pada ma’rifatullah. Apa saja yang terjadi di dunia ini dan apa saja yang dilakukan para Nabi itu, semuanya dilakukan dalam rangka mencapai ma’rifatullah. Jika langkah ini sukses, maka yang lain pun dengan sendirinya mengikuti.

Kebejatan-kebejatan yang terjadi di dunia ini adalah hasil ketidak-tahuan dan kebodohan mereka pada Allah SWT.

”Menjadikan ekonomi semata-mata sebagai indicator suksesnya membangun suatu bangsa dan Negara tetapi kosong dari membangun dan membina ma’rifatullah, adalah khayalan dan fatamorgana semata. Sudah 66 tahun merdeka, dan setiap pemerintahan berjuang dan bercita-cita menciptakan masyarakat adil makmur, para Caleg dan calon Presiden setiap menghadapi Pemilihan Umum, penuh dengan janji-janji muluk, tetapi ujung dari semuanya adalah, kesengsaraan, kelaparan, kesulitan, pengangguran, gizi buruk, dan lebih buruk lagi, muncul dan ramainya perampokan, bajak laut, merajalelanya pelacuran, pembunuhan, bunuh diri, kebrutalan, kerusuhan, PHK, perceraian, pengangguran dan aneka kejahatan lainnya yang puncaknya merajalelanya kezaliman, dimana keadilan itu makin jauh dan terus meluncur semakin jauh. Sementara itu para pemimpin yang telah “buta mata hatinya” serta kehilangan nurani sekaligus berkhianat terhadap amanat Allah..., terus saja terlelap.., tenggelam dalam kebohongan dan kepalsuan. 

Firman Allah: 

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang di dalam dada” (QS Al-Hajj:46). 

“Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat munafik dan jauhkanlah kami dari sifat khianat dalam seluruh keadaan kami. Dan berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Demikian, semoga bermanfaat!

Simak juga penjelasan sebelumnya, "MA'RIFATULLAH" di sini. 



~ Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika, Allâhumaghfirlî ~

[Dari tulisan: al-Ustadz KH.Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said dalam bukunya: “Ma’rifatullah”]

Senin, 11 Juli 2011

CINTA, TAKUT, DAN HARAP



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..,
Segala puji bagi Allah Yang membaguskan susunan ciptaan-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki dan makanan, Yang menurunkan Kitabullah Al-Qur'anul Kariim, Yang menghidupkan dan mematikan, serta Yang memberi pahala atas perbuatan-perbuatan baik.

Shalawat dan salam bagi junjungan kita, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beserta ahlul baitnya, para shahabat, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ketiga kata yang disebutkan dalam judul di atas (Cinta-Takut dan Harap) merupakan kata-kata yang diri kita, hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, menjelang usia muda bahkan ketika kita tua.

Namun terkadang kita salah mengartikan dan menyalurkan ketiga hal di atas dengan sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu menjadi suatu hal yang selayaknya kita tahu ketiga hal di atas dengan benar, untuk itulah mari kita luangkan sejenak waktu kita untuk mempelajari sekelumit tentangnya.

Mengenal Cinta (Mahabbah)
Cinta dan keinginan merupakan asal/sebab setiap perbuatan/amal dan gerakan di alam semesta ini, kedua hal itulah yang mengawali segala perbuatan dan gerakan sebagaimana benci dan rasa ketidaksukaan adalah asal/sebab yang mengawali seseorang untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu [1].

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa dasar ibadah, kesempurnaan serta kelengkapannya adalah cinta. Karena itulah seorang hamba tidak boleh mempersekutukan Allah dengan kecintaan kepada selainNya [2]. Bahkan dua kalimat yang seseorang tidak akan masuk islam kecuali dengannya yaitu dua kalimat syahadat tidaklah sah jika seseorang yang mengucapkannya kecuali dengan rasa cinta [3]. 

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya), 
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (melebihi cinta orang musyrik kepada berhala mereka)” (QS. Al Baqoroh [2] : 165). 

Bahkan hakikat peribadatan adalah menghinakan diri dan tunduk kepada yang dicintai. Dengan kata lain yang dinamakan hamba adalah orang yang dihinakan oleh rasa cinta dan ketundukan kepada orang yang dicintai. Oleh karena itulah tingkatan yang paling mulia bagi seorang hamba adalah penghambaan kepada yang dicintainya.

Lihatlah betapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mahlukNya yang paling mulia dan paling dicintaiNya yaitu Rosulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengan sebutan hamba. Sebagaimana dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya), “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (QS. Al Isro’ [17] : 1) [4].

Lima Hakekat Cinta yang Harus Dibedakan
Terdapat 5 macam cinta yang harus dibedakan, sebab orang yang tidak membedakannya pasti akan tersesat kerenanya.

1. Mahabbatullah/cinta kepada Allah
Hal ini saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab Allah dan mendapatkan pahalaNya. Sebab kaum musyrikin, penyembah salib dan yahudi juga mencintai Allah [5]. 

2. Mahabbatu maa yuhibbullah/mencintai perkara yang dicintai Allah. 
Hal inilah yang memasukkan pelakunya ke dalam islam dan mengeluarkannya dari kekafiran. 

3. Al Hubb lillah wa fillah/mencintai karena Allah dalam keta’atan kepada-Nya. 
Hal ini merupakan konsekwensi dari mencintai perkara yang Allah cintai. Sungguh mencintai sesuatu tidaklah akan benar-benar terwujud kecuali dengan mencintai hal itu karena Allah dan dalam keta’atan kepadaNya. 

4. Al Mahabbatu ma’allah/mencintai selain Allah bersama Allah
Ini adalah kecintaan orang-orang musyrik kepada Allah. Barangsiapa yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan sebagai sarana kepada kecintaan pada Allah dan bukan dalam keta’atan kepadaNya maka dia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah. Seperti inilah kecintaan kaum musyrikin. 

5. Al Mahabbatu ath-Thobi’iyah/cinta yang sejalan dengan tabi’at. 
Cinta ini bentuknya berupa kecenderungan seseorang terhadap perkara yang sesuai dengan tabi’atnya seperti seseorang yang haus mencintai air, seseorang suami dan ayah mencintai istri dan anak dan seterusnya. Kecintaan jenis ini tidaklah tercela selama kecintaan tersebut tidak melalaikan dari mengingat Allah (ibadah) dan menghambat kesibukan hamba dalam mencintai Allah. Semisal seorang yang karena cintanya kepada anaknya menyebabkan ia lalai dari sholat jama’ah karena bekerja untuk memberi nafkah anaknya. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun [63] : 9).[6]

Jika demikian celaan Allah pada hal-hal yang mubah maka bagaimanakah celaan Allah terhadap kecintaan seseorang terhadap perkara yang haram semisal seorang pemuda yang mencintai pacarnya [7] , apalagi jika kecintaan ini menghalanginya dari ibadah kepada Allah, semisal melalaikan sholat jama’ah. Maka tentulah celaan Allah untuk orang yang demikian bertumpuk-tumpuk banyaknya.

Makna Takut (Khouf)
Ibnu Qudamah rohimahullah mengatakan, “Rasa takut merupakan sebuah ungkapan dari rasa sedihnya hati disebabkan hal-hal yang dibenci yang akan terjadi pada masa yang akan datang, rasa ini berbanding lurus dengan sebab-sebabnya kuat dan akan melemah jika sebabnya melemah pula” [8].

Ada tiga jenis rasa takut, yakni:

1. Takut karena tabi’at, 
takut jenis ini semisal seseorang takut binatang buas, api, tenggelam dan lain sebagainya. Takut jenis ini tidaklah menyebabkan pemiliknya tercela. Jika takut jenis ini menjadi sebab seseorang meninggalkan yang hukumnya wajib atau melakukan perbuatan yang hukumnya haram maka takut jenis ini menjadi takut yang hukumnya haram. 

2. Takut dalam rangka ibadah
misalnya seseorang takut kepada seseorang yang rasa takut tersebut bernilai ibadah kepadanya. Perasaan takut jenis ini hanya boleh kepada Allah semata. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam jenis ketakutan yang semisal ini maka ia telah berbuat kesyirikan besar. 

3. Takut sirr
yaitu perasaan takut yang tersembunyi. Misalnya seseorang takut kepada penghuni kubur dan yang semisal. Takut yang semisal ini digolongkan para ulama sebagai salah satu bentuk syirik[9]. 

Takut yang Bernilai Lebih dan Takut yang Tercela
Takut yang bernilai lebih adalah takut yang didasari ilmu, manusia yang paling takut kepada Allah adalah manusia yang paling mempunyai ilmu/kenal dengan Robbnya. 

Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Aku adalah orang yang paling mengetahui/mengenal Allah dan akulah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian (ummat beliau); [10]”. 

Takut kepada Allah dapat menjadi sebuah hal yang terpuji dan pada kedaan yang lain dapat saja tercela. Jika rasa takut tersebut melahirkan keterpalingan diri pemiliknya dari maksiat dalam artian rasa takut tersebut membawa pemiliknya untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram maka rasa takut yang demikian merupakan rasa takut yang terpuji. Namun jika rasa takut tersebut menggiring pemiliknya kepada rasa putus asa dari rahmat Allah, patah semangat dan semakin terjerumus dalam kemaksiatan karena putus asa (dan meninggalkan amal ibadah) maka takut yang demikian adalah takut yang tercela[11].

Makna Rasa Harap (Roja’)
Ibnu Qudamah rohimahullah mengatakan, “Rasa tenang dalam penantian terhadap suatu perkara yang dicintai, namun hal ini akan terwujud dengan disertai adanya sebab yang mewujudkannya. Adapun jika tanpa adanya sebab maka hal ini bukanlah rasa harap akan tetapi sekedar angan-angan”[12].

Harapan mengandung dua unsur yaitu adanya perendahan diri (serendah-rendahnya) dan ketundukan (sepasrah-pasrahnya) kepada yang diharapkan. Maka harapan yang demikian hanya boleh diberikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga barangsiapa yang menyekutukan Allah pada harapan yang semisal ini maka ia telah terjatuh dalam kemusyrikan. [13].

Rasa Harap yang Terpuji dan Tercela
Ketahuilah bahwa rasa harap terdiri dari dua jenis, 
  • Rasa harap yang terpuji, semisal rasa harap terhadap pahala dari Allah ketika seseorang yang melaksanakan keta’atan kepada Allah di atas ilmu/cahaya Allah. Demikian juga rasa harap akan diterimanya taubat yang ada pada orang yang bertaubat dari perbuatan dosa. 
  • Rasa harap yang tercela, semisal rasa harap akan diterimanya taubat dari sebuah dosa seseorang yang senantiasa melakukan dosa tersebut. Maka rasa harap yang demikian bukanlah rasa harap melainkan sebuah ketertipuan, angan-angan kosong dan rasa harap yang palsu. [14]. 
Sebahagian orang keliru dalam menafsirkan sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Aku bersesuaian dengan persangkaan hambaku” [15].

Dalam riwayat yang lain, “Seseungguhnya Aku bersesuaian dengan persangkaan hambaku maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau” [16].

Mereka menafsirkannya dengan berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan mengampuni dosa mereka padahal mereka tetap dalam kemaksiatannya. Maka penafsiran demikian keliru sebagaimana lanjutan teks hadits yang hadits di atas, “Dan Aku akan bersamanya jika ia mengingatKu, jika dirinya mengingatKu maka Aku akan mengingatnya,…. jika ia mendekatkan dirinya (dengan keta’atan) kepadaKu sejauh sejengkal maka Akan mendekatkan diriKu padanya sehasta” [17].

Maka jelaslah yang dimaksud dengan bersesuaian dengan persangkaan hamba-hambaKu dalam hadits di atas adalah persangkaan akan adanya pahala dari Allah pada orang-orang yang beramal keta’atan kepadaNya. Hal yang tak jauh berbeda juga dikatakan Al Hasan Al Bashriy rohimahullah, “Sesunguhnya mukmin yang berbaik sangka kepada Robb- nya adalah orang yang membaguskan amal keta’atannya. Sesungguhnya orang yang fajir adalah orang yang berburuk sangka kepada Robbnya maka ia akan beramal keburukan”[ 18].

Penutup
Sebagai penutup kami nukilkan perkataan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rohimahullah, 
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya yang mengerakkan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla ada 3 hal yaitu rasa cinta, rasa takut dan rasa harap". 

Yang paling kuat pengaruhnya adalah rasa cinta, karena ia adalah maksud yang dicari di dunia dan akhirat, adapun rasa takut maka ia akan hilang di akhirat sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala (yang artinya), 

“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah (orang-orang yang beriman dan bertaqwa) itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Yunus [10] : 62). 

Rasa takut melahirkan adanya ketercegahan dari keluar dari keta’atan di jalan Allah sedangkan rasa harap adalah sesuatu yang menuntun kepada keta’atan di jalan Allah.

Ketiga hal ini merupakan landasan yang agung, setiap hamba wajib untuk memperhatikannya karena tidaklah akan terwujud ubudiyah/penghambaan diri (kepada Allah) kecuali dengan ketiganya”[ 19].

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita sehingga amal ibadah kita lebih berkualitas di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. [Aditya Budiman]

Baca juga artikel artikel menarik tentang "Langkah Menuju Ma'rifat" di sini. 

[Oleh: Aditya Budiman | Dari:Bulletin At Tauhid edisi VI/41]

-----------------------
CATATAN KAKI:

[1] Lihat Mawaridul Aman Al Muntaqo min Ighotsatil Lahfan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 325 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.
[2] Idem hal. 328 dengan perubahan redaksi kalimat.
[3] Lihat At Tanbihatul Mukhtashoroh oleh Syaikh Ibrohim bin Syaikh Sholeh bin Ahmad Al Khuroisyi hal. 37, terbitan Dar Shomi’i, Riyadh.
[4] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 268 dengan ringkasan dan perubahan redaksi.
[5] Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 165 di atas.
[6] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 271 dengan ringkasan dan perubahan redaksi.
[7] Dan telah jelas dalil yang menunjukkan haramnya pacaran sebelum nikah dalam Al Qur’an pada surat Al Isro’ ayat 32.
[8] Mukhtashor Minhajul Qoshidin oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisiy dengan tahqiq Zuhair Asy Syawis hal. 347, terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut, Lebanon secara ringkas.
[9] Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin hal. 57, terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.
[10] HR. Bukhori no. 7301, Muslim no. 2356.
[11] Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 57.
[12] Lihat Mukhtashor Minhajul Qoshidin hal. 368 secara ringkas.
[13] Lihat Hushulul Ma’mul Syarh Tsatatsatul Ushul oleh Syaikh Abdullah bin Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 81, terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA.
[14] Idem hal. 82.[
15] HR. Bukhori no. 7405, Muslim no. 2675.
[16] HR. Ibnu Hibban no. 633, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij beliau untuk kitab ini hal. 402/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut, Lebanon.
[17] HR. Bukhori no. 7405, Muslim no. 2675.
[18] Atsar ini dikatakan Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd hal. 348. Lihat tahqiq beliau untuk kitab Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 38.
[19] Lihat Majmu’ Fatawa oleh Ahmad bin Abdul Halim hal. 95/I, Syamilah.

=========

Jumat, 23 Juli 2010

FATIMAH AZ ZAHRA RA






Alam Firdaus
Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as,: "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi di sisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Sebelum memasuki pembahasan tentang kezuhudan Sayyidah Fatimah as dalam menjalani kehidupan, kita harus mengetahui terlebih dahulu makna kezuhudan itu sendiri. Makna kezuhudan dalam Alquran adalah sebagai berikut, "Supaya kalian tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian."

Sayyidah Fatimah as adalah seorang wanita yang sangat sederhana dan sama sekali tidak tertarik dengan keindahan dunia. Beliau selalu mencari keridhaan Allah swt karena keridhaan-Nya merupakan kenikmatan yang paling tinggi. Bentuk kerelaan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya bukanlah dunia yang hina dan fana ini, akan tetapi alam akhirat yang mulia dan abadi. Sebagaimana Allah swt dalam surat Al-Anfal 67 berfirman, "Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah swt menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)."

Waktu Sayyidah Fatimah as banyak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beliau sama sekali tidak menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia karena cinta terhadap dunia merupakan penghalang untuk sampai ke tujuan yang mulia.

Keindahan dan kesenangan dunia bersifat sementara, akan tetapi sangat disayangkan banyak manusia yang tertipu ketika melihatnya. Mereka tidak sadar bahwa ada alam yang lebih indah dan lebih menyenangkan dibanding dunia.

Oleh karena itu Sayyidah Fatimah as memilih alam akhirat karena hakekat kebahagiaan dan kehidupan ada di alam tersebut. Beliau menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan dan tidak perduli dengan keindahan dunia. Selain itu Sayyidah Fatimah selalu ridha dengan keadaannya. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluh kepada siapapun dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah as adalah sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan. Kesederhanaannya bukan karena beliau miskin namun disebabkan oleh puncak pengetahuan (makrifat) dan kekayaan spiritual.

Bukti terbaik bahwa Sayyidah Fatimah as hidup dalam kesederhanaan adalah ketika beliau memiliki tanah Fadak. Tanah Fadak adalah tanah yang sangat subur karena tanah ini bisa menghasilkan gandum yang sangat banyak sehingga kebutuhan semua penduduk Madinah terpenuhi dengannya. Setelah Allah swt menyuruh Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam memberikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah as, semua keuntungan hasilnya ada di tangan Sayyidah Fatimah as. Namun penghasilan yang banyak ini tidak merubah kesederhanaan beliau dalam menjalani kehidupan. Semua penghasilan tanah Fadak beliau infakkan kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan hanya demi mencari keridhaan Allah swt. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesederhanaan Sayyidah Fatimah as bukan karena keterpaksaan dan kemiskinan tetapi karena kecintaan beliau kepada Allah swt.

Kesederhanaan dan ketidakcintaan terhadap dunia adalah suatu hal yang dicontohkan oleh para Nabi dan Imam as. Tidak ada satupun dari mereka memiliki rasa cinta terhadap dunia seperti yang kita lihat dalam sejarah kehidupan mereka. Kezuhudan Sayyidah Fatimah as adalah salah satu pelajaran yang didapatkan dari ayahnya.

Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as, "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi disisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Contoh ajaran Nabi Shalallahu' Alaihi Wassalam kepada Sayyidah Fatimah as bisa kita lihat dalam riwayat berikut ini.

Rasulullah sudah terbiasa ketika hendak pergi atau pulang dari bepergian harus menemui putri tercintanya terlebih dahulu. Suatu hari untuk menyambut kedatangan ayah dan suaminya, Sayyidah Fatimah as memakai gelang dari perak dan anting-anting serta kalung. Beliau juga menghias rumahnya dengan memasang gorden yang berwarna warni. Seperti biasa, ketika datang dari bepergian, Rasulullah terlebih dahulu datang ke rumah Fatimah. Namun setelah beristirahat sebentar, Rasulullah keluar dari rumah putrinya dan menuju masjid. Melihat raut wajah ayahnya yang tidak seperti biasa, Sayyidah Fatimah as menyadari sebabnya. Pada saat itu juga ia membuka gorden dan perhiasannya lalu mengirimkannya kepada Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam yang pada saat itu berada di masjid.

Sayyidah Fatimah as juga mengirim salam kepada ayahnya dan berpesan supaya barang-barang ini digunakan di jalan Allah. Rasulullah mengambil barang-barang itu dan berkata "Ayahmu adalah tebusanmu, ayahmu adalah tebusanmu! Keluarga Muhammad perlu apa dengan dunia? Mereka bukan diciptakan untuk dunia, akan tetapi mereka diciptakan untuk akhirat, walaupun semua yang ada di dunia diciptakan karena mereka. Seandainya dunia itu memiliki nilai sebesar sayap nyamuk di sisi Allah, maka tidak seorangpun dari kafir akan meminumnya." Setelah itu Rasulullah berdiri lalu menuju rumah Fatimah as.

Riwayat di atas selain menunjukkan ketegasan Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam juga menunjukkan ketidakcintaan Sayyidah Fatimah as terhadap dunia, karena tanpa ada rasa berat hati beliau menginfakkan barang-barangnya di jalan Allah.

Diriwayat lain juga dikatakan, suatu hari Salman Al-Farisi melihat Sayyidah Fatimah as memakai cadar yang sederhana, penuh jahitan dan terbuat dari kulit pohon kurma hendak pergi menjenguk ayahnya. Salman sangat terkejut dan sambil menangis ia berkata, "Kami sangat bersedih! Putri-putri raja Persia dan Romawi duduk di atas kursi-kursi yang terbuat dari emas dan memakai pakaian yang terbuat dari sutra tetapi putri Muhammad Shalallahu' Alaihi Wassalam memakai cadar yang sangat sederhana dan memiliki dua belas jahitan."

Ketika Sayyidah Fatimah as sampai ke rumah ayahnya, beliau mengatakan, "Wahai Rasulullah! Salman sangat heran dengan kesederhanaan pakaianku. Demi Allah! selama lima tahun karpet rumah kami dari kulit kambing yang ketika siang hari unta-unta memakan rumput diatas karpet itu dan pada malam hari kami tidur di atas karpet itu. Bantal kami juga dari kulit yang diisi dengan kulit pohon kurma." Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Salman, "Sesungguhnya putriku berada di barisan terdepan orang-orang yang menuju Allah swt."

Sekarang kita dapat melihat betapa zuhudnya Sayyidah Fatimah as. Ketika kita menjadikan Sayyidah Fatimah as sebagai panutan maka konsekuensinya kita harus meniru beliau. Dan salah satu contoh yang bisa kita ambil dari beliau adalah kezuhudannya dalam menjalani kehidupan.

Sebetulnya tidaklah sulit untuk menjadi orang yang zuhud ketika kita mengetahui bahwa sebenarnya segala sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah swt adalah sebuah amanat, sehingga dengan senang hati dan tanpa rasa keberatan sedikit pun kita akan menginfakkannya kepada orang yang membutuhkan. Selain itu kita juga tidak akan terlalu bergembira dengan apa yang Allah SWT berikan kepada kita. Semua manusia datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan juga kembali kepada penciptanya dengan hanya membawa sepotong kain putih.

Seseorang tidak akan pernah bisa menjadi zuhud ketika dia tidak mengetahui hakekat dunia yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali as "Yang berhak dikatakan bahwa orang itu zuhud ketika dia mengetahui kekurangan dunia." Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menjadi orang-orang yang selalu diridhoi oleh-Nya.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.


إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)