TANYALAH HATI NURANIMU

Rasulullah SAW bersabda; "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

MENGAPA AKU BELAJAR AL-QURAN?

Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. - Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Quran itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya" [HR. Bukhari - Muslim]

RAHASIA DI SEKITAR DUNIA IBUKU

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." [HR Imam Ahmad bin Hanbal]

SUDAH BAIKKAH SHALATKU?

Rasulullah SAW bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak akan rusak pula seluruh amal perbuatannya." [HR. At-Thabrani - Dari Anas RA]

AJARI KAMI ILMU YANG BAIK

Rasulullah SAW bersabda; "Mendidik anak lebih baik bagimu daripada setiap hari bersedekah satu sha - Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) akhlak yang baik." [HR. At-Tirmidzi Dari Jabir bin Samurah r.a dan Amr bin Sa’id bin Ash r.a]

Tampilkan postingan dengan label Non-Kategori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non-Kategori. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Februari 2011

TELAH BERPULANG, IBUNDA, EYANG, DAN BUYUT TERCINTA

Marwijah Binti Moehammad Sanim
(5 Mei 1926 - 12 Februari 2011)


Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
Telah berpulang ke Rahmatullah,
Ibunda, Mertua, Bulek, Bude, dan Eyang kami tercinta:
Marwijah Binti Moehammad Sanim
Tepat jam 2:00 WIB dinihari Sabtu, 12 Februari 2011, di RS-RKZ Surabaya.

Allahu Yarhamah dimakamkan jam 14:00 WIB pada hari yang sama
di Taman Pemakaman Pasarehan Kiyai Ageng Selo,
Wiyung Berantas, Surabaya.

Kami mohon doa,
Semoga arwah beliau mendapat ampunan dari Allah
Yang Maha Rahman dan Maha Rahim,
serta mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya.

Segenap keluarga yang ditinggalkan dengan ini mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak
atas segala budi baik yang telah diberikan kepada beliau,
baik semasa hidupnya, pada hari beliau tutup usia,
maupun pada hari-hari setelah kepergiannya.

Dengan segala kerendahan hati,
melalui kesempatan ini pula kami, putra-putri beliau,
mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
bila ada hal-hal yang dirasa tidak pada tempatnya
baik semasa hidupnya, maupun sampai pada hari beliau tutup usia.

Semoga segala bentuk kebaikan yang telah diberikan kepada beliau
oleh semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan
namanya satu demi satu di sini

akan mendapat ganjaran berlipat ganda dari Allah Subhanahu Wata'ala.
Amin, Ya, Ghofur ur Rahim.


Atas nama putra-putri, menantu, cucu, dan cicit beliau;
Hariswan Indra

Jumat, 06 Agustus 2010

ANJURAN MENGEKALKAN SILATURAHMI




Silaturrahmi merupakan salah satu ajaran dalam Islam akan tetapi masih banyak yang belum memahami hakikat dan manfaat daripada silaturahmi. Artikel ini mengupas pengertian, faidah dan tips dalam mempererat tali silaturahmi.

'Shilah' artinya Hubungan atau menghubungkan sedangkan 'ar-Rahm' berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. 'Taraahamal-Qaumu' artinya kaum itu saling berkasih sayang.

'Taraahama 'Alayhi' berarti mendo'akan seseorang agar mendapat rahmat. Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahmi apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa dan kema'siatan.
Selain itu kata ar-Rahm atau ar-Rahim juga mempunyai arti peranakan (rahim) atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan).

Inilah keunikan Bahasa Arab, Satu kata saja sudah dapat menjelaskan definisinya sendiri tanpa bantuan kata-kata lain. Dengan demikian Shilaturrahmi atau Shilaturrahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab).
  • Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturrahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara.
  • Peliharalah Tali Silaturrahmi, maksudnya peliharalah hubungan kekeluargaan Anda. Jangan sampai Anda lupa dengan nasab anda, orang tua-mu, saudara-saudara-mu dan kerabat-kerabat-mu. Setelah itu baru peliharalah hubungan kasih sayang dengan orang-orang mu`min sebagaimana dengan saudara sendiri.
  • Anjuran menjalin Silaturrahmi adalah anjuran untuk tidak melupakan nasab dan hubungan kekerabatan. Satu-satunya bangsa yang paling hebat dalam menjalankan silaturrahmi adalah bangsa Arab. Mengapa? Karena mereka tidak pernah melupakan nenek moyang mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan bapak, dan kakek-kakek mereka ke atas. Oleh karena itu dalam nama mereka pasti ada istilah bin atau Ibnu yang artinya anak dari seseorang.....
  • Nabi kita Muhammad Saw mengetahui nasabnya sampai beberapa generasi sebelumnya. Nasab beliau adalah "Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdul- Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan".
  • Bukan hanya Nabi yang seperti itu, hampir seluruh orang-orang Arab mengetahui nasabnya masing-masing sampai beberapa generasi sebelumnya. Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan diantara mereka sangat kuat. Allah menjadikan mereka sebagai contoh untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan bangsa-bangsa lain dan bangsa kita yang kebanyakan mengetahui hanya sampai kakek dan buyut. Akibat pengetahuan nasab yang terbatas ini maka efeknya sangat memprihatinkan. Diantaranya tidak mengetahui saudaranya yang jauh, menganggap bahwa dirinya tidak punya saudara, tidak mendapat bantuan dan pertolongan bila dirinya mengalami kesengsaraan, tidak punya tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan kecuali orang lain. Akhirnya ujung-ujungnya timbullah kemiskinan, anak gelandangan, dan lain sebagainya. Padahal seandainya mereka mengetahui nasab mereka siapa tahu bahwa direktur perusahaan disamping gubuknya adalah saudaranya dari buyut kakeknya.
Inilah salah satu hikmah perintah bersilaturrahmi. Bersilaturrahmi atau menjalin hubungan kasih sayang yang kuat diantara saudara dan keluarga pihak kakek dan nenek ke atas. Kalau bisa kita menghafalnya sebagaimana bangsa Arab menghafal nasab-nasab mereka baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.
Allah dalam al-Qur`an secara spesifik memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturrahmi/ silaturrahim;

يَاأيّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَ بَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَ نِسَآءً وَاتَّقُوْا اللهَ الًّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَ الأرْحَامَ إنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْـبًا (النساء 
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu "
(QS an-Nisa` [4]:1)

Dari Miqdam ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأبآئِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأقْرَبِ
"Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwasiat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kamu agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu". (Silsilah Hadits Shahih; al-Albani)
  • Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. Dari Jubair bin Muth'im bahwa Nabi Saw bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحْمٍ متفق عليه
"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan".
[Muttafaq 'Alaih]

  • Silaturrahmi tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman.
Allah Swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mu`min yang lain. Namun dalam hubungan silaturrahmi yang diutamakan adalah sanak famili yang masih ada hubungan darah (senasab) baru kemudian orang-orang beriman yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Karena mereka-lah yang lebih dekat hubungannya dengan kita.

Begitu juga apabila kita meminta bantuan maka yang lebih layak kita minta adalah sanak famili kita, baru kemudian orang lain. Karena mereka dan kita sama-sama punya hak dan kewajiban untuk saling tolong-menolong.
  • Di dalam Islam anjuran berinfak ditujukan kepada kaum kerabat kita yang miskin dulu baru kepada orang lain. Allah berfirman :
... وَ أُوْلُوْا الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِيْ كِتَابِ اللهِ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُهَاجِرِيْنَ
إلاَّ أنْ تَفْعَلُوْآ إلَى أوْلِيَآئِكُمْ مَّعْرُوْفًا ... الأحزاب 
wauluu al-arhaami ba'dhuhum awlaa biba'dhin fii kitaabi allaahi mina almu'miniina waalmuhaajiriina illaa an taf'aluu ilaa awliyaa-ikum ma'ruufan
"Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) menurut Kitab Allah daripada orang-orang Mukmin (lain) dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada mereka (saudaramu seiman)"
(QS al-Ahzab [33]: 6)

Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.
  • Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturrahmi hanya karena gara-gara pekerjaan dan jabatan. Silaturrahmi lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إنْ تَوَلَّيْتُمْ أنْ تُفْسِدُوْا فِي الأرْضِ وَتُقَطَِعُوْآ أرْحَامَكُمْ (محمد: 
fahal 'asaytum in tawallaytum an tufsiduu fii al-ardhi watuqaththhi'uu arhaamakum
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim)?" 
(QS. Muhammad [47]: 22)

Kiat-Kiat Mempererat Hubungan Silaturrahim

1. Mendahulukan Sanak-Famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sehingga seorang anak wajib mencintai, menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orangtuanya berhak mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kesyirikannya. Apabila mereka faqir maka kewajiban kitalah yang membantunya pertama kali. Kemudian saudara-saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yang seiman.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi Saw:

أَمَّا شَعُرْتَ أَنَّ عَمَّ الرَّجُلِ صَنُوْ أبِيْهِ
"Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya".

2. Mengingat Kebaikan Sanak-Famili kita, tanpanya mungkin kita tidak akan berarti.

3. Menghafal Nasab dan seluruh nama-nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek ke atas sampai kepada keturunan-keturunan mereka.
  • Untuk hal ini sebaiknya kita membuat diagram silsilah keluarga agar dapat diingat oleh generasi berikutnya supaya mereka tetap melanjutkan tali silaturrahmi setelah kita tiada (meninggal).
4. Jangan menyakiti, menzhalimi dan berbuat buruk kepada sanak-famili kita. Sebaiknya kita-lah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.
  • Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi akan diberkahi oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda :
مَنْ أحَبَّ أنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأ لَهُ فِي أثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه (متفق عليه)
"Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi". 
(Muttafaq 'Alaih)


Semoga Allah Tabaraka wata'ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mencintai saudara-kerabat, yang dekat maupun yang jauh.., dalam bingkai silaturahmi
dan berusaha untuk terus menjaga-memelihara-memupuk dan mengekalkannya
dari generasi ke generasi berikutnya sehingga tidak sampai
"kepaten obor" (jawa).
Amiin.

Kamis, 01 April 2010

KENANGAN MASA KECIL DI KAMPUNG HALAMAN


Sekitar 45 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 1965, di mana pada saat itu kami masih tinggal di perkebunan karet milik perusahaan Amerika; Good Year di Sumatra Utara, terjadilah bencana angin puting beliung yang sangat dahsyat yang kekuatannya mampu menerbangkan atap rumah-rumah penduduk di sekitanya, merobohkan sejumlah bangunan dan juga menumbangkan pohon-pohon berukuran raksasa sampai ke akar-akarnya. Namun peristiwa “ajaib” yang kami sekeluarga alami, kuanggap lebih dahsyat dari bencana angin topan “puting beliung” itu sendiri!

Pada hari itu, langit tampak gelap.., awan mendung yang menggumpal diselingi dengan bunyi guntur sesekali, menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Tiupan angin hari itu terasa lebih kuat dari biasanya. Sesekali terdengan bunyi jendela terhempas angin dan karena rumah kami memiliki banyak jendela maka kami tiga kakak beradik yang sudah beranjak dewasapun sibuk berbagi tugas untuk menutup semua jendela yang masih terbuka.

Ibuku yang saat itu berusia 37 tahun dan sedang hamil tua, sementara adik kami NS yang sudah enam tahun menyandang status anak bungsu, sebentar lagi akan punya adik baru.

Di halaman belakang, kulihat abangku SM tampak sibuk berlarian kian kemari untuk mengumpulkan "ayam Bangkok” kesayangannya yang berjumlah 67 ekor jantan dan betina. Tak tega melihatnya sibuk sendiri, aku dan si bungsupun segera turun tangan ikut membantu mengumpulkan dan menggiring semua ayam ternak peliharaannya masuk ke dalam salah satu dari “kamar khusus pembantu” berukuran 3 x 4m2 yang karena kebetulan masih kosong, maka oleh abangku SM, kamar itupun kemudian dialih-fungsikan menjadi “kandang ayam”, lengkap dengan lampu dan tempat bertengger para ayam jantan kesayangannya. Memang kalau soal berternak dan berkebun, abangku yang satu ini memanglah handal. Ayam ternak sebanyak itu pada mulanya hanya sepasang jantan dan betina, tapi berkat ketekunan, perhatian dan kesabarannya, dari beberapa butir telur yang di-erami induknya, menetaslah anak-anak ayam yang sehat. Demikianlah seterusnya hingga mencapai jumlah sebanyak itu. Karena pada masa itu belum banyak yang menjual pakan ternak, maka sebagai gantinya abangku SM meramu sendiri makanan favourite ayamnya berupa jagung bercampur dedak ditambah remah-remah nasi yang berhasil dia kumpulkan dari satu pinggan ke pinggan lainnya.

Rumah yang kami tempati adalah rumah inventaris milik syarikat perkebunan karet tersohor dunia; Good Year Sumatra Plt Co. yang diperuntukkan khusus bagi para high level staff dan karena bapak kami Syahruddin, baru saja di promote sebagai Assistant Personnel Manager di syarikat itu maka beliaupun berhak menempati rumah itu.

Menurutkan arah mata angin, pintu masuk rumah ini menghadap ke utara, di mana terletak jalan utama yang pada pagi hingga petang hari ramai dilewati berbagai kenderaan yang berlalu lalang.

Ukuran rumah kami cukup luas dengan Lebar 12 x 20m2. Didalamnya terdapat dua bilik besar berukuran 6x8M2. lengkap dengan bilik mandi. Satu bilik utama ditempati oleh Bapak dan Ibu kami, sedangkan bilik yang satu lagi dihuni oleh kami empat bersaudara karena abang tertua kami yang juga berinisial NS sedang belajar dan tinggal satu bilik dengan sepupu favoritnya HMS di kota Medan. Di bagian tengah terdapat ruang tamu dan ruang makan yang juga cukup besar, sedangkan bagian belakang dari rumah utama ada kitchen room yang menjadi “ruang kerja” ibunda kami.

Di bagian luar gedung utama, ada empat bilik berukuran sedang (3x4m2). Yang satu bilik sudah di “kuasai sepenuhnya” oleh abang kami SM dan difungsikan sebagai bilik tidur pribadinya..., maklumlah karena dalam usianya yang sudah 21 tahun maka dia perlu sedikit “privasi”. Satu bilik disebelah kirinya dicadangkan sebagai bilik pembantu rumah tangga sedangkan satu bilik disebelah kanannya adalah bilik tetangga kesayangan abangku SM yang tak lain adalah kandang ayamnya. Sedangkan 1 bilik lagi khusus diperuntukkan sebagai pantry dan gudang penyimpanan.


Di halaman belakang rumah kami yang menghadap ke selatan, tumbuh sejenis pohon beringin bergetah merah yang sudah berumur puluhan tahun. Akar-akar gantungnya yang tak terhituung banyaknya berjuntaian hanya beberapa centimeter diatas permukaan tanah, sedangkan batang pohonnya berdiri tegak menjulang langit dihiasi dengan tumpukan dahan dan ranting, dari yang terkecil berdiameter sekitar 60 cm sampai yang terbesar berdiameter 320cm. Salah satu diantara dahan kayu yang terbesar, dengan diameter lebih kurang 300cm x panjang 20m, tumbuh sejajar dan menggantung setinggi lebih kurang 12 meter dan posisinya berada tepat diatas atap rumah kami yang menghadap ke arah utara. Secara logika, dengan ukuran, berat, panjang serta tingginya dahan tersebut, maka sekiranya patah, maka dahan itu niscaya akan langsung jatuh menimpa rumah kami dari ujung ke ujung, dan apabila itu terjadi, tak pelak lagi, rumah itu pasti akan hancur berantakan karena tak akan kuat menerima beban hantamannya.

Pukul 4:20 petang, seperti biasa bapakku sudah tiba di rumah karena antara jawatan tempat beliau bekerja dengan rumah kami hanya berjarak 800 meter saja sehingga pulang-balik kantor beliau lakukan dengan berjalan kaki, salah satu jenis olahraga ringan yang beliau sukai.

Setelah mengambil wudhu, beliau lalu mendirikan shalat ashar dengan khusuq dan tartils seperti biasa. Pada saat beliau dengan khusuq shalat, mendadak turunlah hujan deras disertai hempasan angin kencang yang menderu-deru yang suaranya semakin lama semakin keras. Kami kakak beradik yang merasa ketakutan berkumpul mengelilingi ibunda kami yang juga kelihatan sangat cemas. Hujan badai sedang terjadi!

Di tengah suasana badai yang begitu menakutkan, ayahku tetap khusuk dalam sholatnya seolah tak terjadi apapun di sekelilingnya. Selesai salam, tanpa membaca wirid dan berzikir yang dengan istiqamah biasanya ia lakukan, kulihat Bapak langsung bangun dari duduk tahiyatnya dan segera berdiri lagi menghadap qiblat. Saat beliau mengangkat kedua tangannya seolah bertakbiratul ihram itu aku mengira beliau akan melalukan shalat sunat ba’da ashar atau shalat sunat lainnya.., tapi ternyata beliau segera melantunkan Adzan dengan segenap perasaannya yang terdalam. Anehnya, saat mendengarkan suara adzan yang beliau lantunkan dengan suaranya yang melengking tinggi namun indah itu, hati kami merasa begitu damai dan tenteram dan rasa takut yang tadinya begitu mencekam, seolah hilang begitu saja..., padahal, di luar hujan deras disertai angin kencang yang menderu-deru bukannya mereda akan tapi malah kian menjadi-jadi!

Seusai adzan yang pertama, beliau kemudian merubah arah berdirinya serta menghadapkan wajahnya ke arah utara dan kembali melantunkan Adzan dengan kekhusukan yang sama. Usai Adzan kedua, Adzan yang ketiga dilakukan dengan wajah menghadap ke arah timur, sedangkan yang terakhir kali masih sempat kulihat beliau ber-adzan dengan wajah menghadap ke arah selatan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengan suara keras dari petir yang menyambar..’Blaa..rr!” ..., lampu listrik langsung padam dan keadaan di dalam rumah seketika menjadi gelap gulita. Belum lagi hilang rasa panik kami karena padamnya lampu, terdengar suara berderak-derak sangat keras tepat di atas atap rumah kami dan tiba-tiba saja terdengan suara berdentum keras seperti jatuhnya benda raksasa menghempas bumi...., “kraak”, “krak” dan “buuuum....mm!!!”.

Suara jatuhnya benda besar itu begitu dahsyatnya sehingga kami menduga pastilah salah satu dahan kayu beringin tua yang cukup besar telah patah tersambar petir dan jatuh ke bumi. Namun tak seorangpun di antara kami yang pernah mengira bahwa benda jatuh yang menerbitkan suara begitu dahsyat menghantam bumi itu adalah dahan terbesar yang berada tepat diatas rumah kami. Sebab kalau itu yang terjadi, maka niscaya kami semuanya mungkin saat ini hanya tinggal nama di batu nisan.

Tak berapa lama setelah kejadian itu hujan dan angin kencang di luar sanapun berangsur-angsur reda dan akhirnya berhenti sama sekali, namun karena listrik masih padam dan keadaan di luar rumah gelap gulita, maka rasa ingin tahu kami mengenai benda apakah yang telah jatuh menimpa halaman rumah kami itupun terpaksa kami pendam menunggu saat datangnya pagi esok hari.

Ketika suasana sudah semakin tenang, dan lilin-lilin pun sudah terpasang, saat itulah aku bertanya kepada ayahandaku tentang alasan mengapa beliau ber-adzan sebanyak empat kali dan mengapa harus merubah arah menghadap sebanyak itu pula? Dengan senyum beliau menjawab:

“Ketahuilah nak, bahwa yang dapat merubah taqdir hanyalah doa khusuq kita kepada sang penentu taqdir itu sendiri , yaitu Allah SWT. Sebagai manusia biasa, Bapak juga tentu merasa takut dan ngeri mendengar suara hujan deras dan angin kencang yang menderu-deru tadi. Tapi suasana yang seperti inilah yang justru menjadi saat yang tepat bagi kita untuk memohon hajat apa saja kepada Allah”.

Belum paham dengan ucapannya akupun kembali bertanya, “Mengapa bisa begitu pak?” Dengan sabar beliau menjawab, “Ingatlah, bahwa salahsatu syarat dikabulkannya do’a adalah bila disertai rasa harap dan takut (khauf) dan bila dilihat dari suasana hati, tidakkah tadi kita semuanya ada dalam ketakutan yang sangat mencekam? Nah, syarat pertama sudah terpenuhi! Selain itu ada saat terkabulnya do’a seperti: pada saat teraniaya atau pada saat kita sedang sujud dalam sholat ataupun pada saat turun hujan!. Jadi, ketika sholat ashar tadi, yang bertepatan dengan turunnya hujan dan adanya rasa takut mendengar suara angin kencang menderu-deru itu, di dalam sujud Bapak berdo’a dengan sungguh-sungguh kepada Allah Al Malikuul Salaam, memohon keselamatan kita sekeluarga dan semoga kita semuanya berikut saudara-saudara kita para ikhwanul muslimin, dapat terhindar dari bala bencana dan malapetaka”.

Bapak diam sebentar, lalu melanjutkan: “Adapun ikhwal empat kali adzan yang menghadap ke empat penjuru angin, sebenarnya itu adalah ajaran dan petuah dari Guru Bapak semasa dulu belajar mengaji di Tanjung Pura bersama pamanmu Mas Thahar. Guru Bapak berpesan, bahwa apabila Bapak sedang berada dalam keadaan terancam bahaya namun tak berdaya, maka kumandangkanlah adzan sebanyak dan semampunya serta serahkanlah dirimu dalam perlindunganNya”.

“Ketahuilah bahwa Allah SWT adalah pemilik alam semesta, delapan penjuru angin tunduk dibawah perintahnya dan bagi hambaNya yang banyak berzikir serta mengamalkan amal sholeh, maka Allah akan mengirimkannya nikmat rizqi dan pertolonganNYA dari arah yang tak disangka-sangka. Begitu pula sebaliknya bagi orang-orang yang ingin diuji keimanan dan kesabarannya, Allah juga akan mengirimkan cobaannya dari arah yang tak disangka. Jadi, itulah sebabnya Bapak tadi ber-adzan mengikuti arah mata angin tadi. Sebab Bapak tidak tahu dari arah mana cobaan Allah berupa bencana angin puting beliung ini akan datang menerpa kita. Kalau dia datang dari arah qiblat Bapak sudah memohon kepada Allah agar menutup pintu masuknya, begitu juga kalau dia datang lewat utara, timur maupun selatan”. Setelah ikhtiar itu, barulah boleh tawwakal dan berserah diri kepada ketentuanNYA” sebab taqdir Allah tidak mungkin ditolak! Tapi seperti Bapak katakan tadi, yang dapat kita lakukan hanyalah dengan khusuk berdoa mohon perlindunganNYA karena hanya do’alah yang dapat merubah taqdir seseorang”. Mungkin apa yang barusan terjadi merupakan teguran atau peringatan dari Allah bagi kita semua agar senantiasa ingat dan tunduk akan kekuasaan dan kekuatanNYA."

"Allah tidak akan menghukum seseorang kecuali dia sudah melampaui batas dan tidak mau bertaubatan nashuhah, sebabnya adalah karena “Rakhmat Allah selalu mendahului murkaNya! Karena itu percayalah, bahwa di balik semua peristiwa ini, pasti akan ada hikmahnya untuk kita semua!" Sambil menghirup kopi hangat racikan ibuku, beliau balik bertanya padaku: “Apakah kau sudah fahami apa yang baru bapak katakan?” Karena masih belum paham betul, aku hanya bisa mengangguk ragu. Memaklumi bahasa tubuhku, beliaupun melanjutkan; “Saat ini kau baru berusia 15 tahun. Masih terlalu muda untuk memahaminya. Tapi Bapak percaya bahwa satu saat nanti kau pasti akan mengerti hakekat semua ini. Sekarang ini cukuplah kalau kau camkan saja apa yang Baru bapak sampaikan ini dengan hati-hati dan amalkanlah dengan sabar dan dengan penuh keyakinan, niscaya kelak kau akan mendapat keselamatan dunia akhirat!” Kembali aku mengangguk-angguk seperti anak ayam mematuk beras!

Sambil berdiri dari tempat duduknya beliau berkata; “Sekarang sudah tiba waktunya shalat Isya, mari kita shalat dulu, selepas itu boleh kita sambung cerita lagi!”

Seusai shalat berjemaah, kamipun bersantap bersama tanpa ada satu anggota keluargapun yang absen, sebab bapakku tidak akan mau bersantap sebelum semua anggota keluarganya lengkap duduk di kursi makan masing-masing. Seusai makan malam, kantukpun datang tak tertahankan. Setelah mencium tangan kedua orang tuaku, akupun pamit undur diri, masuk bilik dan langsung terlelap ke alam mimpi.

Keesokan harinya, selepas shalat subuh, rasa penasaran yang sama telah membawa langkah kami semua ke luar rumah sebab saat kejadian malam tadi, keadaan diluar benar-benar gelap gulita sehingga “misteri” tentang “UFO” (unidentified Fallen Object) yang jatuh semalam masih belum sempat terkuakkan!

Begitu kami semuanya berada di luar rumah, apa yang terpampang di depan mata kepala kami semua sungguhlah luar biasa dan sekaligus ajaib! Betapa tidak? Benda jatuh yang menimbulkan suara dentuman sangat dahsyat malam tadi ternyata adalah batang dahan kayu terbesar yang berasal dari pohon beringin merah yang tumbuh di halaman belakang rumah kami.

Ukuran batangnya lebih kurang tiga kali pelukan tangan orang dewasa sedangkan panjangnya..., hampir sama dengan panjang rumah kami. Batang pohon itu tergeletak diam kira-kira 6 meter dari teras belakang rumah kami dan posisinya adalah sejajar dengan panjang rumah yaitu, pangkal batang mengarah ke selatan sedangkan pucuknya menghadap ke utara. Ketika kami mendongak keatas untuk mereka-reka asal dahan pohon yang mana satu dari sekian banyak dahan besar yang sudah jatuh itu maka tanpa sadar meluncurlah dari mulut kami ucapan..., “MasyaAllah”., “Subhanallah” ...“Allahu Akbar”.

Perasaan kami semua yang ada di sana benar-benar tergoncang!. Betapa tidak? Ternyata dahan besar yang jatuh sejajar dan kini tergeletak diam di teras samping kanan rumah kami itu adalah...dahan besar yang tadinya tumbuh dan menggantung persis diatas atap rumah kami. Tak dapat kami bayangkan apa yang akan terjadi seandainya dahan itu benar-benar menimpa rumah kami...! Yang lebih aneh lagi..., jatuhnya dahan kayu sebesar itu tidak menimbulkan kerusakan yang parah kecuali hanya mematahkan beberapa batang bambu pagar rumah seolah-olah ada satu kekuatan ghaib yang mengangkat dan memindahkannya dengan lembut dan hati-hati ke teras rumah sehingga kami semua terhindar dari bencana. Logikanya, apabila dilihat dari ukuran besarnya dahan pohon itu serta posisi jatuhnya yang sejajar dengan posisi rumah kami serta mengkaitkannya dengan kekuatan hempasan dari angin puting beliung semalam, agaknya, mustahillah kami bisa selamat, namun pada kenyataannya, itulah yang terjadi! percayalah bahwa “tiada yang mustahil bagi Allah!”

Setelah cukup puas mengamati tempat kejadian, ayah mengajak kami semua masuk kerumah untuk bersujud syukur dilanjutkan dengan ber-shalat tasbih dua rakaat berjemaah. Dalam munajatnya beliau tak henti-hentinya mengucapkan doa tasyakur yang kami amini sebanyak doa yang beliau panjatkan.

Tak lama kemudian, entah dari mana datangnya, tiba-tiba rumah kami mulai ramai didatangi para tetangga yang merasa takjub dengan kejadian itu. Mereka merasa tak habis pikir bagaimana mungkin dahan sebesar itu yang posisinya berada tepat diatas atap rumah bisa terlempar begitu saja sejauh beberapa meter dari tempat asalnya sehingga tidak sampai menimpa rumah kami. Mereka semua merasa ikut bersyukur atas terhindarnya kami sekeluarga dari musibah.

Hari itu, bapakku tetap bekerja seperti biasa, begitupun dengan kami yang bersekolah. Sepanjang jalan menuju sekolah, aku melihat banyak pohon-pohon yang bertumbangan dan salah satunya telah menimpa kabel listrik. Mungkin inilah penyebab padamnya lampu dirumah kami tadi malam. Dari cerita teman-teman sekolahku, kuperoleh keterangan bahwa akibat angin puting beliung kemarin petang, banyak rumah-rumah penduduk yang tak lagi memiliki atap sebab penutup atap yang kebanyakan dibuat dari lembaran seng, hampir sebagian besarnya telah hilang diterbangkan oleh angin badai semalam.

Sepulang dari sekolah, kulihat ada beberapa orang pekerja sedang sibuk membersihkan halaman rumah kami yang kejatuhan dahan pohon besar semalam. Ada yang sibuk memotong dahan itu dengan mesin gergaji, ada yang sedang memotong ranting dahan yang lebih kecil dan ada pula yang membersihkan daun daun yang berserakan. Karena besar dan panjangnya dahan itu, pekerjaan “bersih-bersih” itu barulah tuntas setelah tiga hari.

Kejadian yang baru saja menimpa rumah kami telah memberikan bekas yang mendalam di lubuk hatiku. Sekarang barulah aku memahami apa yang disampaikan bapakku tadi malam tentang “takdir yang tak dapat ditolak”, namun dapat dirubah dengan do’a yg khusuk Lillahi Ta’ala. Jatuhnya dahan besar yang patah entah disebabkan oleh hantaman petir ataupun tak kuat menahan hempasan angin kencang semalam, mungkin adalah suatu taqdir, akan tetapi “perubahan” arah jatuhnya dahan yang tidak jadi menimpa atap rumah kami (nyaris saja), tapi terlempar ke samping sejauh 6 meter dan akhirnya jatuh dihalaman rumah kami sehingga kami sekeluarga tetap selamat, mungkin terjadi berkat lantunan adzan serta do’a khusuk bapakku semalam. Wallahu’alam.!

Tak lama sesudah kejadian “ajaib” itu, ibunda kami melahirkan seorang putri mungil berkulit putih yang diberi nama MM, yang pada saat itu merupakan satu-satunya princess dalam keluarga kami. Sebab sebelum kelahirannya, keenam orang kakaknya semuanya adalah dari jenis kelamin lelaki. Ayah bundaku kelihatan sangat bahagia karena putri yang mereka idamkan selama bertahun-tahun akhirnya telah lahir. Tak henti-hentinya kami bersyukur karena Allah SWT telah memberi kami anugrah yang banyak. Pertama terhindar dari marabahaya tertimpa dahan kayu, disusul dengan karunia kelahiran seorang adik perempuan yang sehat dan puncaknya adalah, anugrah promotion dari manajemen NV Goodyear Sum.Plt kepada bapakku untuk menjabat kedudukan baru sebagai Personnel Manager di perusahaan tempatnya bekerja. Karena jabatan barunya itu, bapakku mendapatkan kembali fasilitas rumah baru yang jauh lebih besar dan nyaman dan harus ditempati sesegera mungkin sehingga kami tak perlu merasa khawatir atau waswas akan tertimpa dahan kayu lagi. Mungkin inilah hikmah dan nikmat yang ALLAH berikan kepada kami sekeluarga dan atas semua karuniNya kami hanya mampu mengucapkan:

“Alhamdulillah, wa syukurillah, wa ni’matullah”.

“Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kamu dustakan?” (QS Ar-Rahmaan)


[Oleh: Hariswan | Kenangan Masa Kecil Di Kampung Halaman]